Efek Samping Fototerapi pada Bayi yang Perlu Diketahui

YOGYAKARTA - Fototerapi adalah metode pengobatan yang sering digunakan untuk menangani jaundice atau penyakit kuning pada bayi baru lahir. Kondisi ini terjadi akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan risiko kesehatan. Dalam prosedur ini, bayi dipaparkan pada cahaya khusus yang membantu menguraikan bilirubin sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh melalui urin dan feses.

Meskipun fototerapi dinilai aman serta efektif dalam mengatasi jaundice, orang tua dan tenaga medis perlu memperhatikan beberapa kemungkinan efek sampingnya. Paparan cahaya dalam waktu lama bisa menyebabkan bayi mengalami dehidrasi, ruam kulit, atau gangguan keseimbangan suhu tubuh. Oleh karena itu, pemantauan selama prosedur sangat penting untuk memastikan kondisi bayi tetap stabil dan mendapatkan perawatan yang optimal.

Efek Samping Fototerapi pada Bayi

  1. Kulit Kering dan Ruam

Paparan cahaya selama fototerapi dapat menyebabkan kulit bayi menjadi lebih kering dari biasanya. Kekeringan ini berisiko menimbulkan iritasi, terutama jika bayi memiliki kulit yang sensitif. Oleh karena itu, perawatan kulit yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga kelembapan alami kulit bayi.

Selain kekeringan, beberapa bayi juga dapat mengalami ruam ringan akibat fototerapi. Ruam ini umumnya tidak berbahaya dan bisa mereda dengan sendirinya setelah terapi selesai. Namun, jika ruam semakin parah atau menyebabkan ketidaknyamanan, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Untuk mencegah efek samping ini, penting bagi orang tua memastikan bayi tetap terhidrasi dengan baik. Pemberian ASI atau susu formula secara teratur dapat membantu menjaga kelembapan kulit dari dalam. Selain itu, penggunaan pelembap yang aman untuk bayi juga dapat membantu mengurangi risiko kulit kering selama menjalani fototerapi.

  1. Dehidrasi dan Penurunan Berat Badan

Saat menjalani fototerapi, bayi berisiko mengalami dehidrasi akibat meningkatnya pengeluaran cairan melalui urine. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan berat badan dalam beberapa hari pertama setelah lahir, sehingga perlu mendapat perhatian khusus dari orang tua dan tenaga medis.

Untuk mencegah dehidrasi, bayi harus mendapatkan asupan cairan yang cukup, baik melalui ASI maupun susu formula. Pemberian susu secara teratur akan membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh bayi dan memastikan terapi berjalan dengan optimal tanpa menimbulkan risiko kesehatan tambahan.

  1. Gangguan Tidur

Salah satu efek samping dari fototerapi adalah gangguan pola tidur pada bayi. Cahaya terang yang dipaparkan selama terapi dapat mengganggu ritme alami tidur bayi, membuatnya lebih sering terbangun atau mengalami kesulitan untuk tidur dengan nyenyak.

Untuk mengurangi dampak ini, bayi biasanya diberikan pelindung mata selama menjalani fototerapi. Meskipun perlindungan ini dapat membantu, perubahan pola tidur tetap bisa terjadi, meskipun sifatnya hanya sementara dan akan membaik setelah terapi selesai.

  1. Perubahan Warna Kulit (Bronze Baby Syndrome)

Beberapa bayi yang menjalani fototerapi dapat mengalami perubahan warna kulit yang disebut Bronze Baby Syndrome. Kondisi ini menyebabkan kulit bayi tampak lebih gelap atau keperakan. Namun, efek ini biasanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya setelah terapi dihentikan.

  1. Peningkatan Suhu Tubuh

Fototerapi dapat menyebabkan bayi mengalami peningkatan suhu tubuh atau hipertermia ringan. Hal ini terjadi akibat paparan cahaya yang terus-menerus. Oleh karena itu, penting bagi tenaga medis untuk selalu memantau suhu tubuh bayi dan memastikan bahwa bayi tidak mengalami overheating selama terapi berlangsung.

  1. Risiko Kerusakan Mata

Karena paparan cahaya yang cukup intens, bayi yang menjalani fototerapi perlu diberikan pelindung mata untuk mencegah risiko kerusakan retina. Tanpa perlindungan yang memadai, cahaya dari fototerapi bisa berisiko menyebabkan iritasi mata atau bahkan masalah penglihatan di kemudian hari.

  1. Perubahan Frekuensi Buang Air Besar

Efek samping lainnya yang sering terjadi adalah peningkatan frekuensi buang air besar pada bayi. Warna feses bayi mungkin juga tampak lebih hijau daripada biasanya akibat proses pemecahan bilirubin. Meskipun hal ini tidak berbahaya, orang tua tetap perlu memastikan bahwa bayi tetap mendapatkan asupan cairan yang cukup agar tidak mengalami dehidrasi.

  1. Risiko Alergi Terhadap Cahaya Fototerapi

Meskipun jarang terjadi, beberapa bayi dapat mengalami reaksi alergi terhadap cahaya fototerapi, seperti kemerahan atau pembengkakan pada kulit. Jika hal ini terjadi, dokter biasanya akan menyesuaikan intensitas cahaya atau menghentikan terapi sementara hingga kondisi bayi membaik.

Jadi initinya, fototerapi adalah metode yang efektif dalam menangani penyakit kuning pada bayi, tetapi tetap memiliki beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Orang tua perlu memahami efek samping fototerapi pada bayi agar dapat melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Dengan pemantauan yang baik dari tenaga medis dan perhatian ekstra dari orang tua, efek samping yang muncul dapat diminimalkan sehingga bayi tetap mendapatkan manfaat terbaik dari terapi ini.

Selain itu Anda juga perlu tahu Efek Samping Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua

Jadi setelah mengetahui  efek samping fototerapi pada bayi, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!