JAKARTA - Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan pada anak-anak di Indonesia. Ini merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.
Dengan demikian, pencegahan dan penanganan stunting harus terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun kolaborasi dengan pihak swasta. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian edukasi gizi dan pola asuh terhadap anak.
Seperti yang dilakukan oleh Nestlé Indonesia dengan rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama seluruh mitra lintas sektor. Mulai dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers.
“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor,” kata Marketing Manager PT Nestle Indonesia, Ankur Mittal, saat temu media di Kebayoran, Jakarta Selatan, pada Rabu, 4 Maret 2026.
Program tersebut dilaksanakan selama enam bulan sejak Juli 2025 sampai Januari 2026, yang menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.
Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program tersebut menunjukkan penurunan prevalensi underweigh (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak, dan peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan gizi harian.
“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program,” tutur Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes.
Selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.
Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan menyampaikan bahwa pendekatan sederhana seperti edukasi dan pendampingan gizi yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak yang signifikan dalam menghadapi stunting.
BACA JUGA:
“Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata,” tambah Prof Ali.
Tak hanya itu, Program Pendampingan Gizi tidak sekadar sebagai intervensi jangka pendek. Ini juga sebagai model pendekatan berkelanjutan yang memperkuat kapasitas keluarga, kader, dan komunitas dalam menjaga praktik gizi baik di tingkat rumah tangga, sejalan dengan komitmen global Nestlé untuk mendukung 50 juta anak hidup lebih sehat pada 2030.