YOGYAKARTA - Skrining kanker serviks merupakan langkah penting yang paling krusial bagi setiap wanita untuk mendeteksi perubahan sel abnormal pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kondisi medis yang jauh lebih serius.
Namun banyak orang merasa ragu karena kurangnya informasi yang tepat mengenai prosedur ini. Padahal, pemahaman yang baik dapat membantu Anda menghadapi pemeriksaan dengan tenang sekaligus memberikan rasa aman akan kesehatan reproduksi.
Apa Itu Skrining Kanker Serviks?
Tujuan utama dari prosedur ini adalah menemukan perubahan sel prakanker pada leher rahim. Jika ditemukan lebih awal, pengobatan dapat segera dilakukan untuk mencegah kanker berkembang.
Faktanya, seringkali kanker yang ditemukan pada stadium awal jauh lebih mudah diobati dibandingkan jika menunggu hingga gejala muncul, di mana kanker biasanya sudah mulai menyebar.
Agar lebih memahami terkait kanker serviks, dilansir VOI dari laman National Cancer Institute, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda ketahui terlebih dahulu:
Mengenal Jenis-Jenis Tes yang Umum Digunakan
Terdapat tiga cara utama yang digunakan dalam pemeriksaan medis kanker serviks saat ini, di antaranya:
- Tes HPV: Memeriksa keberadaan virus Human Papillomavirus risiko tinggi yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
- Pap Test (Pap Smear): Mengambil sampel sel untuk melihat adanya perubahan sel akibat HPV. Tes ini juga bisa mendeteksi peradangan atau infeksi non-kanker.
- HPV dan Pap Cotest: Metode kombinasi yang memeriksa virus HPV sekaligus perubahan sel secara bersamaan untuk hasil yang lebih akurat.
BACA JUGA:
Kapan Anda Harus Melakukan Skrining?
Adapun rekomendasi pemeriksaan biasanya bergantung pada usia dan riwayat kesehatan Anda, di mulai dari jenjang umur berikut ini:
- Usia 21–29 Tahun: Disarankan melakukan Pap Smear pertama kali pada usia 21 tahun, lalu rutin setiap 3 tahun sekali.
- Usia 30–65 Tahun: Anda memiliki pilihan untuk melakukan Tes HPV saja setiap 5 tahun, cotest setiap 5 tahun, atau tetap Pap Smear setiap 3 tahun.
- Di Atas 65 Tahun: Jika hasil tes sebelumnya rutin normal, Anda mungkin tidak memerlukan skrining lagi. Namun, konsultasikan tetap dengan dokter Anda.
Baca juga artikel yang membahas Rambut Beruban Jadi Cara Alami Tubuh Menekan Kanker? Ini Penjelasan Studi
Perlu Anda ketahui, meskipun sudah menerima vaksin HPV, Anda tetap wajib mengikuti jadwal skrining karena vaksin tidak melindungi dari semua jenis HPV risiko tinggi.
Namun penting untuk diketahui, jika beberapa wanita mungkin membutuhkan skrining lebih sering jika memiliki kondisi seperti:
- Positif HIV atau sistem imun yang lemah.
- Pernah terpapar obat diethylstilbestrol (DES) saat di dalam kandungan.
- Memiliki riwayat hasil biopsi atau skrining yang abnormal sebelumnya.
Meskipun demikian, bagi wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim dan serviks (histerektomi total) bukan karena kanker, skrining biasanya tidak lagi diperlukan.
Apa yang Terjadi Selama Pemeriksaan?
Prosedur ini biasanya dilakukan saat pemeriksaan panggul dan hanya memakan waktu beberapa menit. Anda akan diminta berbaring, kemudian dokter menggunakan alat bernama spekulum untuk membuka vagina agar serviks terlihat.
Kemudian sampel sel akan diambil menggunakan sikat halus atau spatula kecil, lalu dikirim ke laboratorium. Hasilnya biasanya keluar dalam waktu 1 hingga 3 minggu.
Meskipun skrining kanker serviks menyelamatkan nyawa, ada beberapa hal yang perlu dipahami secara bijak. Pertama hasil positif palsu yang terkadang hasil terlihat abnormal padahal tidak ada kanker, yang mungkin memicu kecemasan atau tes lanjutan yang tidak perlu.
Kemudian adalah hasil negatif palsu, dimana hasil terlihat normal padahal ada sel abnormal. Itulah mengapa pemeriksaan rutin secara berkala sangat penting untuk meminimalisir risiko ini.
Jangan menunda pemeriksaan demi masa depan Anda. Jadwalkan skrining kanker serviks secara rutin sebagai langkah nyata melindungi kesehatan reproduksi dan mendeteksi risiko sedini mungkin untuk penanganan medis yang lebih maksimal.