Bagikan:

YOGYAKARTA - Pernahkah anak Anda mengalami batuk yang tak kunjung sembuh, disertai demam tinggi dan napas berbunyi seperti siulan? Jika iya, bisa jadi itu bukan sekadar batuk biasa, melainkan infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV).

Virus ini merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran pernapasan pada anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah dua tahun.

RSV adalah virus yang menyerang sistem pernapasan dan sering kali menyebabkan gejala ringan seperti batuk dan pilek. Namun, pada bayi, balita, dan kelompok rentan lainnya, infeksi RSV bisa berkembang menjadi penyakit serius seperti bronkiolitis atau pneumonia.

Virus ini menyebar dengan sangat mudah, baik melalui percikan air liur saat batuk atau bersin, kontak fisik langsung, maupun menyentuh benda yang telah terkontaminasi. RSV dapat bertahan hidup selama beberapa jam di permukaan benda keras seperti meja dan gagang pintu, dan menyebar jika anak menyentuhnya lalu menyentuh wajahnya tanpa mencuci tangan.

Ciri-Ciri RSV pada Anak

Gejala infeksi RSV biasanya muncul dalam waktu 2–8 hari setelah terpapar virus. Meskipun awalnya mirip flu biasa, penting bagi orangtua untuk mengenali ciri-ciri khas RSV. Mengutip Alodokter, ciri-ciri RSV pada anak antara lain:

  • Hidung tersumbat atau berair
  • Batuk kering
  • Demam
  • Nafsu makan menurun
  • Bersin-bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala

Gejala-gejala ini bisa menjadi lebih parah pada anak-anak dengan kondisi medis tertentu, seperti bayi prematur, anak dengan gangguan jantung atau paru bawaan, serta anak-anak dengan sistem imun lemah.

Virus RSV sangat umum menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia dua tahun. Bahkan, hampir semua anak akan mengalami infeksi RSV setidaknya sekali sebelum ulang tahun kedua mereka. Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena paru-paru dan sistem kekebalan mereka belum berkembang sempurna.

Lansia (usia 65 tahun ke atas) dan orang dengan sistem imun rendah juga termasuk dalam kelompok rentan. Pada mereka, infeksi RSV bisa menyebabkan komplikasi serius dan berpotensi fatal jika tidak segera ditangani.

Penularan RSV

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), RSV menular melalui beberapa cara berikut:

  1. Percikan napas dari orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin
  2. Masuknya virus melalui mata, hidung, atau mulut setelah terpapar
  3. Kontak langsung seperti mencium anak atau bayi yang terinfeksi
  4. Menyentuh benda yang telah tercemar virus (meja, mainan, box bayi), lalu menyentuh wajah tanpa mencuci tangan

Virus RSV bisa menular bahkan sebelum gejala muncul, dan penularan bisa berlangsung hingga 8 hari. Pada bayi atau orang dengan daya tahan tubuh lemah, virus bisa tetap menyebar selama berminggu-minggu, meskipun gejalanya sudah tidak tampak lagi.

Meskipun sebagian besar kasus RSV hanya menyebabkan infeksi ringan, pada beberapa anak kondisi ini bisa berkembang menjadi komplikasi yang mengancam jiwa, seperti bronkiolitis, pneumonia, Infeksi telinga tengah (otitis media), hingga penurunan kesadaran.

Pada kondisi yang lebih ekstrem, RSV juga bisa menyebabkan anak memerlukan rawat inap atau bahkan perawatan intensif jika gejala sesak napas tidak membaik.

Langkah Pencegahan RSV

Berbagai kebiasaan di bawah ini bisa membantu mencegah penularan RSV, terutama bagi bayi dan anak-anak:

  1. Cuci tangan secara rutin, terutama sebelum menyentuh wajah
  2. Jauhkan anak dari orang sakit, terutama yang batuk atau pilek
  3. Gunakan masker bila perlu saat berada di tempat umum
  4. Bersihkan permukaan benda secara berkala, terutama mainan dan meja makan

Virus RSV memang sering kali dianggap remeh karena gejalanya menyerupai flu biasa. Namun, bagi anak-anak, terutama bayi dan kelompok rentan lainnya, infeksi ini bisa menjadi serius dan bahkan mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali ciri-ciri RSV, menerapkan langkah pencegahan, dan segera mencari bantuan medis jika gejala anak memburuk.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+