JAKARTA - Skizofrenia dan Gangguan Bipolar (GB) bukan hanya mengganggu penderita, tetapi lingkungan terdekat berpotensi merasakan dampak tak mengenakan dari pasien. Untuk itu penting memahami emosi dan perasaan penderita bagi lingkungan terdekat.
dr. Ashwin Kandouw, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa menyatakan, skizofrenia merupakan gangguan mental berat, bersifat kronis dan mempengaruhi pikiran perasaan dan perilaku penderita.
"Gangguan pikiran pada penderita bisa berupa kekacauan proses pikir yang terlihat melalui cara bicara yang kacau, bisa juga terganggunya isi pikir yang tampak sebagai waham yaitu keyakinan yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, tetapi diyakini oleh penderita," jelasnya.
Gangguan perasaan bisa berupa penumpulan emosi atau bahkan mood yang kacau. Gangguan perilaku biasanya berupa perilaku yang kacau, bahkan bisa agresif. Sering juga ada gangguan persepsi panca indera berupa halusinasi, yaitu adanya persepsi panca indera (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, rabaan) tanpa ada sumber rangsangnya.
Sedangkan GB merupakan gangguan mood atau suasana perasaan. “Bi” artinya dua dan “polar” artinya kutub. Jadi penderita bipolar akan mengalami mood yang berubah-ubah secara ekstrim dari kutub manik ke kutub depresi dan juga sebaliknya. Beberapa gejala yang muncul pada fase manik seperti rasa gembira dan rasa percaya diri yang berlebihan, banyak sekali ide yang datang secara bersamaan, merasakan peningkatan tenaga dan semangat yang berlebihan, dorongan bicara dan dorongan belanja yang berlebihan dan sulit dikendalikan, menjadi sangat impulsif, cenderung menjadi sembrono, nekat dan menyerempet bahaya, peningkatan nafsu makan dan libido yang di atas kebiasaannya.
Sedangkan pada fase depresi, gejalanya berupa rasa sedih yang berlebihan dan sulit
dikendalikan, kehilangan kesenangan dari hobby yang biasanya menyenangkan, terjadinya penurunan tenaga dan konsentrasi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, menurunnya keinginan sosialisasi dan kepercayaan diri, kesulitan mengambil keputusan, kecenderungan melukai diri sendiri bahkan ingin mengakhiri hidup,” jelas dr. Ashwin.
Walaupun gangguan Skizofrenia dan GB merupakan dua gangguan yang berbeda tapi ada juga beberapa kesamaannya,” lanjutnya, “Yaitu, sama-sama terjadi gangguan keseimbangan kimia otak, bersifat kronis artinya perjalanan penyakitnya lama, bersifat kambuhan, artinya ada saat gejala bisa berkurang tapi juga ada saatnya bisa kambuh lagi. Kedua gangguan ini juga mengganggu fungsi dan produktivitas penderita, menyebabkan penderitaan baik bagi penderita maupun keluarga penderita dan juga orang-orang di sekitar penderita.
Artinya semakin jarang kambuh semakin banyak sel otak yang terselamatkan. Dan semakin sering kambuh, semakin banyak sel otak yang mengalami kerusakan. Perlu diketahui bahwa sel otak yang sudah rusak cenderung tidak bisa pulih lagi. Hal ini penting dipahami oleh lingkungan terdekat.
BACA JUGA:
Ia mengatakan, “Dengan memahami hal-hal tersebut maka akan sangat penting untuk seorang penderita Skizofrenia maupun GB bisa cepat terdiagnosis dan mendapatkan penanganan medis yang tepat oleh personil medis yang kompeten. Selain itu, mendapatkan pengobatan terbaik dan termutakhir, menjalani pengobatan dengan teratur agar gejala bisa sebanyak-banyaknya terkendali dan sebisa mungkin tidak mengalami kekambuhan. Baik Skizofrenia dan GB memiliki angka kejadian sebesar 1% dari populasi.”
“Dengan memahami masalah di atas maka dapat terlihat bahwa setiap pihak yang terkait dengan gangguan-gangguan ini perlu berkontribusi agar penderita bisa cepat mendapatkan pertolongan yang terbaik sesuai kondisinya. Ketidakpahaman bisa diatasi dengan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat. Diperlukan adanya perbaikan akses pengobatan dengan penyediaan fasilitas yang lebih merata dan memperbaiki ketersediaan obat, destigmatisasi oleh seluruh pihak terkait,” himbau dr. Ashwin.