Bagikan:

JAKARTA - Pandemi COVID-19 bukan hanya menyerang tubuh, tapi juga diam-diam memengaruhi otak, bahkan bagi mereka yang tidak pernah terinfeksi. Sebuah studi terbaru dari Inggris mengungkapkan otak manusia mengalami penyusutan dan penuaan lebih cepat selama masa pandemi. Hal ini berdampak pada kemampuan berpikir dan daya ingat.

Hal paling mengejutkan, perubahan ini bukan semata-mata karena virus, tapi juga karena stres, isolasi sosial, dan perubahan drastis dalam pola hidup.

“Stres berkepanjangan selama pandemi tampaknya meninggalkan bekas nyata pada otak, bahkan bagi orang yang belum terkena infeksi COVID-19,” kata Ali-Reza Mohammadi-Nejad, peneliti dari University of Nottingham yang memimpin studi ini, dikutip dari laman Times of India.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, para peneliti menganalisis hampir 1.000 pemindaian otak dari data UK Biobank, sebuah proyek kesehatan yang sudah melacak kesehatan lebih dari 500.000 orang sejak 2006.

Hasilnya menunjukkan selama pandemi (2021–2022), otak peserta rata-rata menua 5,5 bulan lebih cepat dibanding seharusnya. Penyusutan ini terjadi terutama pada bagian sistem saraf, area penting untuk fungsi memori, emosi, dan pengambilan keputusan.

“Bukan hanya orang sakit yang terdampak. Penuaan otak ini terjadi juga pada orang sehat secara fisik. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan dan pengalaman hidup terhadap otak kita,” ujar Mohammadi-Nejad.

Efek ini lebih terasa pada pria dan individu dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah.

Selain perubahan fisik pada otak, peneliti menemukan adanya penurunan fungsi kognitif pada orang yang pernah terinfeksi COVID-19, seperti kesulitan fokus, lambat berpikir, dan kurang fleksibel dalam berpikir.

Namun, bagi mereka yang tidak terinfeksi, belum ada bukti penurunan kognitif yang jelas. Meski begitu, para ahli memperingatkan bahwa perubahan struktur otak bisa menjadi tanda awal yang perlu dipantau lebih lanjut.

“Hal yang paling menarik adalah hanya orang yang pernah terinfeksi virus menunjukkan penurunan kemampuan berpikir. Tapi, semua kelompok menunjukkan penuaan otak secara fisik,” kata Dr. Jacqueline Becker, neuropsikolog klinis dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai.

Penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya dari University of Washington, yang mengungkap otak remaja juga menua lebih cepat selama pandemi. Dalam studi itu, anak laki-laki mengalami penuaan otak sekitar 1,4 tahun, sementara anak perempuan bahkan mencapai 4,2 tahun.

Meskipun hasil studi ini cukup mengkhawatirkan, para ahli belum bisa memastikan apakah perubahan ini bersifat permanen atau bisa pulih seiring waktu.

“Kita masih belum tahu apakah efek ini akan bertahan lama atau bisa kembali normal,” kata Dr. Adam Brickman, profesor neuropsikologi di Columbia University.

Namun, ia menambahkan bahwa ada langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan otak, seperti olahraga teratur, tidur cukup, menjaga hubungan sosial, dan mengelola stres.

“Otak itu seperti otot. Semakin sering dipakai dan dirawat, semakin kuat,” ujarnya.

Pandemi mungkin sudah mereda, tapi dampaknya masih terasa termasuk pada otak. Merasa lemot, susah fokus, atau cepat lelah bukan hanya perasaan, tapi bisa jadi memang ada perubahan nyata dalam struktur otak akibat tekanan selama pandemi.Maka dari itu, penting untuk mulai kembali ke gaya hidup sehat dan memperhatikan kesehatan mental, bukan hanya fisik.

“Pandemi mengubah cara hidup dan otak kita mencatat semua itu." tutup Mohammadi-Nejad.