Bagikan:

JAKARTA - Dalam sebuah hubungan, ada kalanya Anda ingin berhubungan intim. Namun pasangan Anda justru belum siap berhubungan seks.

Menurut para seksolog, kondisi ini sangat umum dan disebut perbedaan gairah seksual atau mismatched libido. Ini berarti frekuensi atau kebutuhan intim masing-masing orang tidak selalu sama dan itu hal normal.

Sebuah studi tahun 2015 menunjukkan sekitar 80 persen pasangan pernah mengalaminya. Meski normal, bukan berarti harus dibiarkan begitu saja. Jika tidak dibicarakan, perbedaan libido bisa memunculkan rasa tersinggung, salah paham, atau merasa tidak diinginkan. Sementara pasangan yang libidonya lebih rendah bisa merasa tertekan atau bersalah.

Jika terus dipendam, masalah kecil ini bisa melebar menjadi rasa jengkel, berkurangnya keintiman, bahkan memengaruhi kualitas hubungan.

"Semakin lama masalah seksual dibiarkan, semakin sulit diselesaikan," jelas Laurie Mintz, PhD, terapis seks dan penulis Becoming Cliterate, dikutip dari laman Women's Health.

Namun kabar baiknya, ketika pasangan bisa membicarakan perbedaan kebutuhan seksual secara terbuka, hubungan justru bisa makin dekat. Menurut para pakar di The Gottman Institute, komunikasi yang sehat soal seks dapat memperkuat ikatan emosional, bukan hanya hubungan di ranjang.

Selama masih ada dua manusia dengan ritme dan kebutuhan berbeda, perbedaan libido akan selalu muncul. Itu sebabnya banyak orang mencari cara untuk mengatasinya. Selama delapan tahun menjadi edukator seks dan host podcast Sex Ed With DB, pertanyaan paling sering muncul adalah, "Apa yang harus dilakukan kalau aku dan pasanganku pengin seks di waktu yang beda?"

Sebelum membahas cara mengatasinya, penting untuk memahami dulu apa penyebab umum perbedaan libido. Penyebab mismatched libido adalah:

- Stres

- Perubahan hormon

- Kesehatan mental

- Jenis kebutuhan seksual yang berbeda

- Fase hubungan

- Perbedaan gairah bukan berarti hubunganmu bermasalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kalian merespons perbedaan itu.

Cara Menghadapinya

Berikut tujuh cara yang disarankan para ahli untuk menemukan keseimbangan.

1. Jadwalkan waktu untuk berhubungan intim

Kedengarannya memang kurang spontan, tapi banyak terapis seks merekomendasikannya. Dr. Mintz menyarankan pasangan berdiskusi soal frekuensi ideal, kemudian mencari waktu terbaik dalam jadwal masing-masing. Dengan adanya waktu khusus, pasangan yang punya responsive desire (butuh rangsangan dulu baru muncul gairah) biasanya lebih mudah mempersiapkan diri.

2. Bangun keintiman di luar kamar tidur

Frekuensi seks bukan satu-satunya ukuran kedekatan. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah kalian masih saling menggoda? Menunjukkan kasih sayang?", "Berterima kasih satu sama lain? Berbagi tanggung jawab rumah?", dan "Keintiman sehari-hari adalah fondasi munculnya keinginan.

3. Atasi stres dan masalah kesehatan mental

Stres adalah salah satu pembunuh libido terbesar. Olahraga, tidur cukup, meditasi, atau aktivitas relaksasi yang dilakukan bersama bisa membantu. Jika ada masalah seperti kecemasan, depresi, atau PTSD, bekerja sama dengan profesional kesehatan mental sangat disarankan.

4. Cek kondisi hormonal

Perubahan hormon adalah hal wajar selama kehamilan, setelah melahirkan, menjelang menopause, dan fase lainnya. Kalau libido turun terus-menerus dan mengganggu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk melihat apakah ada terapi atau penyesuaian obat yang diperlukan.

5. Temukan pemicu gairah

Banyak perempuan, terutama heteroseksual, memiliki responsive desire. Artinya, gairah muncul setelah ada stimulasi. Temukan apa yang bisa menyalakan mood dengan membaca novel romantis panas, tonton film dengan adegan intim, atau dengarkan audio erotika yang aman dan legal.

6. Utamakan foreplay

Riset tahun 2020 menunjukkan perempuan bisa membutuhkan sekitar 20 menit foreplay sebelum siap untuk orgasme saat penetrasi. Jika terlalu cepat, tubuh tidak punya waktu untuk membangun gairah, dan pengalaman seks bisa jadi kurang menyenangkan. Foreplay tidak harus jadi sekadar pembuka, jadikan saja acara utamanya jika kalian mau.

7. Cari bantuan profesional jika diperlukan

Jika kalian merasa buntu, menghindari topik seks, atau terjebak pada konflik yang berulang, seksolog atau terapis pasangan bisa sangat membantu. Tidak perlu malu, banyak orang dewasa tidak pernah mendapat edukasi seksual yang baik. Dengan bimbingan tepat, hubungan intim bisa berkembang lebih sehat dan menyenangkan untuk kedua pihak.