YOGYAKARTA - PSS Sleman merayakan hari yang dimulai dengan hadirnya Mini Museum 50 Tahun PSS di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Museum mini yang menampilkan koleksi jersei klub dan berbagai section itu digelar pada 17 Mei hingga 24 Mei 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari lahir klub berjuluk Super Elja yang jatuh pada 20 Mei 1976.
Momen perayaan setengah abad klub kebanggaan Sleman ini memang sungguh tepat. Perayaan digelar setelah PSS memastikan promosi ke Super League dengan menjadi runner up Championship. Pada laga grand final melawan Garudayaksa FC yang digelar di kandang sendiri di Maguwoharjo, Sabtu, 16 Mei 2026, PSS harus mengakui keunggulan lawan dan kalah adu penalti 4-3.
Meski gagal juara, namun PSS tetap berhasil memenuhi target kembali bermain di kasta tertinggi liga Indonesia. Keberhasilan itu menjadikan PSS hanya satu musim saja di Liga 2 sebelum kembali promosi.
Dan, perayaan keberhasilan kembali ke Super League kian lengkap dengan kehadiran Mini Museum yang merekam perjalanan setengah abad PSS yang harus merangkak dari bawah.
Mereka mengawali pertarungan di liga dengan bermain di Stadion Triadi dan kemudian harus pindah ke Mandala Krida yang sesungguhnya kandang klub rival, PSIM Yogyakarta dan akhirnya bermain di stadion kebanggaan Maguwoharjo.
Perjalanan klub juga mengalami pasang-surut. Sempat berada di papan atas dan nyaris lolos ke Liga Champions Asia tetapi pernah pula mundur dari kompetisi menyusul gempa yang menimpa DIY pada 2006.
Project Leader Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman, Alif Madani, menuturkan pembukaan museum menjadi awal dari rangkaian acara perayaan setengah abad PSS. Puncak acara nantinya akan digelar pada 24 Mei 2026 dan ditutup dengan festival musik.
Menurut Alif, mini museum ini menghadirkan sembilan section yang membawa pengunjung menelusuri perjalanan panjang PSS dari masa ke masa. Di bagian awal, pengunjung disuguhi area memorabilia jersei yang menampilkan koleksi kostum PSS dari era Liga Indonesia hingga musim terkini.
Selanjutnya pengunjung dibawa ke trophy room yang berisi koleksi trofi bersejarah milik PSS, mulai dari trofi promosi ke Divisi Utama tahun 1999 hingga trofi juara Liga 2 2018 yang mengantarkan PSS kembali promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Di depan ruang trofi, pengunjung dapat melihat history wall yang merangkum perjalanan PSS sejak berdiri pada 1976 hingga memasuki usia ke-50 tahun pada 2026.
“Mini Museum ini menampilkan memorabilia jersei sejak Ligina. Kami juga menampilkan trofi yang pernah diraih PSS. Termasuk trofi saat kami menjadi runner up. Musim 2025/2026 ini, kami sebagai runner up Championship tetapi tidak ada trofi,” ujar Alif.
Lebih lanjut, Alif mengtakan bila seluruh data dan cerita yang ditampilkan disusun melalui proses riset mendalam, termasuk wawancara langsung dengan mantan pemain, pengurus lama, hingga tokoh-tokoh yang terlibat dalam sejarah klub.
“Kami mengumpulkan informasi apa saja soal PSS sejak tahun pertama hingga 50 tahun. Kami menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan melakukan wawancara dengan narasumber seperti mantan pemain, pengurus di antaranya Mbah Bardi [Subardi]. Termasuk pemain pertama yang memperkuat PSS,” ucapnya.
Tim museum menggelar dua kali FGD. Sesi pertama menghadirkan unsur panitia pelaksana dan perwakilan suporter dari Slemania maupun BCS, sedangkan sesi kedua melibatkan mantan pemain PSS dari berbagai era.
“Semua informasi hasil wawancara dan FGD itu kemudian kami olah menjadi section-section yang ada di museum ini,” ujar Alif.
Tak hanya menghadirkan sejarah, museum ini juga memberikan pengalaman interaktif bagi pengunjung. Salah satunya melalui locker room experience yang memungkinkan fans merasakan suasana ruang ganti pemain layaknya saat pertandingan final. Area tersebut dilengkapi jersey pemain dan audio suasana ruang ganti untuk menghadirkan pengalaman yang lebih nyata.
Selain itu, terdapat area stadium experience di lorong stadion yang selama ini jarang diakses masyarakat umum. Di lokasi tersebut, pengunjung bisa berfoto sekaligus melihat perjalanan homebase PSS, mulai dari Stadion Tridadi, Stadion Mandala Krida, hingga Stadion Maguwoharjo yang digunakan sejak 2007.
“Jadi masyarakat bisa merasakan bagaimana suasana ruang ganti. Begitu pula pengalaman berjalan di lorong stadion saat pemain keluar dari ruang ganti menuju arena,” kata Alif.
Museum ini juga menampilkan berbagai koleksi memorabilia unik, seperti sepatu Gustavo Tocantins yang dipakai saat laga final, syal, tiket pertandingan, arsip koran lama, hingga berbagai benda bersejarah lain yang berkaitan dengan perjalanan PSS.
Menariknya, selama pameran berlangsung akan ada sesi live podcast setiap hari dengan dua narasumber berbeda pada siang dan malam hari. Pameran sendiri dibuka untuk umum mulai pukul 13.00 hingga 20.00 WIB.
また読む:
Untuk menikmati seluruh pengalaman di Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp30 ribu untuk dewasa dan Rp15 ribu untuk anak dengan tinggi badan di bawah 120 sentimeter.
“Dengan adanya Mini Museum ini, kami berharap masyarakat bisa menikmati suasana dan perjalanan sejarah dari klub kebanggaan. Mereka bisa ke locker room dan merasakan pengalaman berjalan menuju arena,” kata Direktur PSS Yoni Arseto.
Yoni menuturkan harapan klub memiliki museum sendiri sehingga bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Sleman. “Kami berharap ada museum sendiri dan menjadi spot wisata Sleman,” ucapnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)