JAKARTA — Industri kelapa sawit menyatakan komitmennya untuk terus mendorong penerapan prinsip kesetaraan gender di lingkungan kerja, termasuk memberikan akses dan kesempatan kerja yang adil bagi perempuan tanpa diskriminasi.
Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumarjono Saragih mengatakan sektor sawit terus mengoptimalkan potensi sumber daya manusia (SDM), termasuk pekerja perempuan.
Menurutnya, kesetaraan dalam industri sawit tidak selalu berarti pembagian peran yang sama antara laki-laki dan perempuan, tetapi disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan serta kondisi fisik pekerja.
“Kesempatan mendapatkan pekerjaan harus setara, tetapi kita juga harus mempertimbangkan kekhasan perempuan dari sisi kecocokan pekerjaan hingga kekuatan fisik. Jadi kesetaraan itu bukan berarti 50:50,” kata Sumarjono melalui keterangan tertulis yang diterima VOI, Kamis, 26 Maret.
Ia menjelaskan, perempuan di sektor sawit umumnya bekerja pada bidang perawatan tanaman dan administrasi yang memiliki tingkat beban kerja fisik lebih ringan. Di sektor hulu, perempuan juga terlibat dalam aktivitas pengumpulan brondolan, sementara di sektor hilir mereka berperan sebagai anggota koperasi maupun pengelola lahan plasma.
Data Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjukkan sekitar 86% tenaga kerja pada tahapan awal produksi kelapa sawit didominasi perempuan. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas seperti pemupukan, penyiangan gulma, penyemprotan pestisida hingga pengumpulan hasil panen.
Sumarjono menegaskan, perlindungan dan pemenuhan hak pekerja perempuan di industri sawit dilakukan secara setara dengan pekerja laki-laki.
Ia menyebut perbedaan hanya berkaitan dengan kebutuhan biologis perempuan seperti cuti hamil dan cuti haid, sementara hak universal seperti jaminan sosial dan keselamatan kerja tetap diberikan secara sama.
Selain itu, industri sawit juga mendorong pembentukan komite perempuan di lingkungan perusahaan untuk menampung aspirasi serta pengaduan pekerja perempuan.
“Komite ini menjadi wadah bagi perempuan pekerja untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, maupun pengaduan di tempat kerja,” ujarnya.
Sumarjono juga mendorong pemerintah, khususnya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), untuk terus mendukung program pengarusutamaan gender di sektor sawit.
Menurutnya, upaya membangun budaya kesetaraan di tempat kerja membutuhkan proses berkelanjutan agar dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bagi seluruh pekerja.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)