Eksklusif, Menteri Haji dan Umrah Dr. Mochamad Irfan Yusuf Jelaskan Pengaruh Ketegangan Global pada Ibadah Haji
Pelaksanaan ibadah haji 2026 telah selesai. Menteri Haji dan Umrah Dr. Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sempat cemas dengan kondisi geopolitik di Timur Tengah jelang musim haji yang panas. Namun setelah usai seluruh rangkaian ibadah haji 2026 dan semua jemaah pulang, ia pun melakukan sujud syukur atas usainya tugas berat ini.
***
Pelaksanaan ibadah haji 2026 adalah tantangan besar bagi Gus Irfandan seluruh jajaran yang terlibat. Berat karena faktor internal dan eksternal sekaligus. Faktor internal karena harus mengarahkan seluruh jajaran Kementerian Haji dan Umrah pertama kali melaksanakan ibadah haji secara mandiri.
Faktor eksternal tak kalah hebatnya. Jelang musim haji, Amerika Serikat dan Israel mendadak menyerang Iran. Kawasan Timur Tengah pun memanas karena perang dahsyat pecah. Beberapa skenario pun disiapkan menghadapi keadaan yang rumit ini. Dari jemaah haji gagal berangkat, berangkat sebagian, hingga pengalihan rute penerbangan.
Ternyata semuanya bisa dilalui. “Alhamdulillah pelaksanaan ibadah haji 2026 akhirnya selesai. Kami bisa sedikit lega karena tugas dari Presiden Prabowo sudah dilaksanakan,” ujarnya.
Menurut Gus Irfan, ini adalah kerja keras seluruh jajaran Kementerian Haji dan Umrah dan semua pihak yang ikut serta membantu menyukseskan pelaksanaan ibadah haji 2026. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah terlibat.
Selanjutnya, ia dan tim sudah menyiapkan pelaksanaan ibadah haji 2027. “Istirahat sejenak saja, selanjutnya kami sudah melanjutkan persiapan ibadah haji tahun depan. Memang haji itu setahun sekali tapi persiapannya sepanjang tahun,” katanya kepada Edy Suherli dan Moch Prayoga Adi Pradana dari VOIyang menyambangi di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta, 16 Juli 2026.
Pelaksanaan ibadah haji 2026 telah selesai, malam pertama setelah seluruh jemaah kloter terakhir mendarat di tanah air, apa yang pertama Gus Irfan lakukan? Apakah bisa langsung tidur nyenyak?
Pada 1 Juli 2026, saya berada di Asrama Haji Surabaya menyambut jemaah kloter terakhir Surabaya. Saat itu saya sedang wawancara dengan media. Kemudian staf saya memberi kertas tulisan: jemaah kloter Ujung Pandang sudah mendarat. Sampai sekarang saya masih terngiang dengan momen itu. Saya kemudian mengajak wartawan untuk sujud syukur. Pulang ke hotel, saya mencukur jenggot saya yang sudah 2 bulan tidak sempat saya urus. Sudah 2 bulan saya tak mencukur jenggot.
Malamnya alhamdulillah baru bisa tidur lebih nyenyak. Tapi apa yang saya lakukan besok paginya? Rapat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kediri, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, penanggung jawab Bandara Kediri, dan beberapa stakeholder terkait untuk menyiapkan Bandara Kediri sebagai Bandara Embarkasi 2027.
Artinya tidak ada istirahat yang panjang, ya?
Tidak ada, walaupun orang bilang haji cuma setahun sekali, tapi persiapannya sepanjang tahun. Itu yang saya lakukan kemarin setelah kloter terakhir tiba.
Mengapa Jawa Timur perlu tambahan embarkasi?
Karena pertama, jumlah jemaahnya banyak. Yang kedua, Bandara Juanda itu sudah cukup padat, sehingga sudah layak untuk ditambah.
Apalagi yang membuat pelaksanaan ibadah haji 2026 ini begitu emosional buat Gus Irfan?
Ada beberapa hal yang membuat saya emosional. Pertama, ketika malam tanggal 7 dan 8 Zulhijah, seharusnya jam 8 itu jemaah mendapatkan makanan ready to eat. Kenapa? Karena kalau makanannya fresh, kami khawatir perjalanannya terhambat karena jalan banyak ditutup. Tapi malam itu kita dapat info, vendornya tak siap. Kami kemudian rapat sampai jam 12 malam. Keputusannya: kirim fresh meal. Bismillah, malam itu juga kita kirim tim kita ke semua dapur untuk menunggui mereka. Kami ingin memastikan bahwa dapur memasak untuk jadwal sarapan.
Kebetulan juga besok paginya itu ada rapat koordinasi dengan tim pengawas DPR RI. Pagi hari, saya telepon ke beberapa tim. Alhamdulillah, semua masakan masuk hotel jam 7. Itu adalah hal yang luar biasa dan kami sangat bersyukur. Bahwa apa yang kita perkirakan tidak mungkin, ternyata mungkin. Alhamdulillah, dengan kekuasaan Allah itu bisa terjadi.
Itu yang pertama. Yang kedua, menjelang pemberangkatan ke Arafah. Sejak awal saya sudah bilang kepada Dirjen Pelayanan Haji, saya harus menjadi orang terakhir yang meninggalkan Makkah menuju Arafah. Karena itu, malam tanggal 9 Zulhijah saya cek semua. Malam itu sepertinya sudah terlaporkan berangkat semua. Tapi jam 6 pagi tanggal 9 Zulhijah itu, saya cek ada satu hotel yang belum berangkat.
Apa penyebabnya?
Kemudian saya datangi, saya panggil semua yang terkait. Saya pastikan dan tunggu sampai mereka berangkat semua. Mungkin ada miskomunikasi antara tim kita dengan syarikah yang bertugas mengangkut itu. Akhirnya jam 7 mereka berangkat semua. Baru saya dengan rombongan Amirul Haj berangkat. Itulah dua hal yang sangat-sangat berkesan buat saya.
Sempat berkomunikasi dengan jemaah yang tertunda keberangkatan ke Arafah?
Oh iya, tentu saya juga minta maaf karena kesalahan ini.
Puncak ibadah haji itu di Padang Arafah, apa yang paling crowded pada haji 2026?
Arafah relatif aman karena cukup luas, sekitar 9 kilometer persegi. Yang padat itu di Mina. Luasnya beda sehingga tenda itu harus ditata sedemikian rupa supaya bisa menampung seluruh jemaah dari seluruh dunia. Dan itu juga jadi masalah. Saya akui Mina masih belum memuaskan buat kami. Karena itu, kami juga kemarin bicara dengan tim bagaimana menangani Mina untuk tahun depan.
Memang ada usulan untuk tenda bertingkat. Kami sudah minta tim kementerian untuk menjajaki, karena itu juga terkait dengan harga. Kita ingin mengurai kepadatan di Mina. Tahun 2026 ini kita mentanazulkan sekitar 20.000 orang. Artinya mereka tidak di Mina, mereka tinggal di hotel-hotel yang dekat dengan Jamarat.
Bagaimana respons dari Arab Saudi dengan usulan tenda dua lantai itu?
Itu semua memang domainnya pemerintah Arab Saudi maupun pihak syarikah yang bekerja sama. Saya kira sah-sah saja, mereka juga sudah membangun apartemen yang cukup besar di sana. Sekitar 10 atau 20 lantai itu. Saya kira soal tenda dua lantai itu tidak akan ada masalah.
Proyeksinya akan direalisasikan tahun depan atau tahun berapa?
Kita masih bicara tentang kemungkinan ini, termasuk terkait dengan harga. Karena kita tahu tahun ini kita juga pusing dengan hitung-hitungan harga. Apalagi sekarang perang pecah, sehingga ini juga akan berdampak kepada harga avtur, harga bahan pokok, termasuk nilai tukar mata uang.
Kemarin itu di Arafah ada kisruh soal jemaah yang menempati tenda ternyata bukan tempatnya, bisa dikasih penjelasan soal ini?
Dua hari sebelum wukuf di Arafah, tim kami cek semua tenda. Pertama, untuk memastikan bahwa tenda yang disediakan oleh syarikah sesuai dengan kontrak. Yang kedua, apakah memang posisinya atau kondisinya layak. Kita temukan di sana beberapa tenda sudah dikasih nama oleh KBIH. Kami minta dicabut semua, diganti dengan tanda dari kita, Kementerian Haji. Kita sebutkan itu ada nama ini, kloter ini dari daerah mana. Nama-namanya kita pasang juga di sana. Jadi tidak bisa orang lain mengklaim. Semua sudah kita atur sesuai dengan apa yang kita siapkan sejak awal. Itu yang sempat viral juga. Tapi itu semua dalam rangka memastikan bahwa jemaah haji kita memang harus mendapatkan hak-haknya.
Kalau kita lihat angka kematian dari tahun ke tahun menurun, rahasianya apa itu, Gus?
Memang terus menurun, tapi angkanya bagi kami masih belum ideal. Kenapa bisa menurun? Kemarin kita sudah punya standar istitha'ah kesehatan. Sebagian daerah sudah menjalankan itu dengan baik. Tapi ada juga beberapa daerah yang agak kendor. Itu terbukti ketika akan berangkat, di embarkasi kan ada pemeriksaan ulang. Ternyata ada 345 orang yang tidak kita berangkatkan walaupun sudah sampai di embarkasi. Karena kesehatannya tidak memungkinkan.
Ini kalau dipaksakan berbahaya ya, Gus?
Mungkin kalau dipaksakan, jumlahnya (angka kematian) mungkin lebih dari tahun yang lalu. Itu di luar takdir, ya. Tapi ini hitung-hitungan saja.
Di satu sisi banyak sekali jemaah kita yang sudah antre 20 tahun atau 21 tahun. Tetapi dengan persyaratan istitha'ah yang ketat ini makin sulit berangkat, seperti apa mencari jalan tengahnya?
Ini mungkin dilema atau bisa dikatakan hikmah. Hikmahnya kita sampaikan kepada jemaah kita, calon jemaah kita: tolong sejak awal jaga kesehatan. Sehingga jika pada saatnya berangkat, tidak ada masalah. Kalau berangkatnya masih lama, tidak ada ruginya menjaga kesehatan. Baik dengan pola hidup sehat, olahraga, dan termasuk beberapa hal yang mungkin sudah dianggap biasa tapi sebenarnya itu sangat berpengaruh pada kesehatan. Seperti merokok, begadang, itu kan sangat-sangat berpengaruh pada kesehatan. Saya berpikiran kalau bangsa Indonesia ini bisa menjaga pola hidup yang sehat, alangkah indahnya.
Soal penerbangan, delay itu masih menjadi catatan. Bagaimana kementerian bisa menetapkan atau membuat aturan yang lebih tegas kepada maskapai?
Delay yang terjadi tahun ini sebagian pada saat awal kepulangan. Karena pada saat itu rebutan antara berbagai negara untuk bisa mendapatkan slot terbang. Tapi setelah seminggu, begitu ada delay kita tegur, kita panggil langsung maskapainya. Kemudian seminggu kemudian sudah mulai normal. Dan alhamdulillah setelah itu relatif ketepatan bangku masih di atas 90 persen. Artinya tidak ada yang harus delay sampai menginap. Soalnya kalau sudah delay itu kan mood-nya berubah. Mereka sudah ingin cepat-cepat pulang, ketemu keluarga.
Saat keberangkatan memang ada yang terpaksa harus landing darurat di Medan, kemudian menginap di sana. Itu pemberangkatannya, itu sudah kami tegur maskapainya. Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik. Dan kami ada catatan untuk kedua maskapai yang melayani haji tahun depan harus lebih baik.
Apakah masih memungkinkan menambah maskapai lain?
Untuk jemaah haji yang 100 ribu ke atas, harus dibagi dua antara maskapai Arab Saudi dan Indonesia. Dan Indonesia, kita membawa Garuda Indonesia. Beberapa tahun lalu sempat ada maskapai swasta yang ikut serta.
また読む:
Soal ongkos naik haji atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), sekarang dengan berbagai kondisi global tidak menentu, kemungkinan besar akan naik. Seperti apa siasatnya agar tak memberatkan jemaah?
Kita sudah mengajukan BPIH ke DPR. Dan BPIH-nya memang lebih besar dari tahun yang lalu. Dan saya juga tidak tahu ini, dengan membesarnya eskalasi perang apakah masih masuk hitungan kita itu. Harapan dan permintaan Presiden, jangan sampai situasi ini memberatkan jemaah. Karena itu kita usulkan juga ke DPR pembagian BPIH ini 60 persen dibiayai nilai manfaat dari dana haji yang dikelola BPKH, dan jemaah membayar 40 persen. Dan ini sudah pernah terjadi pada saat COVID-19 dulu. Situasinya juga tidak normal waktu itu. Jemaah hanya membayar 40 persen, nilai manfaat dibayarkan 60 persen.
Jadi memang kondisinya agak berat, tapi akan diupayakan supaya komposisinya 60-40. Tentu angka yang akan dibayarkan oleh jemaah hampir sama dengan tahun 2026. Makanya nanti kami akan ke DPR membentuk tim panja untuk membicarakan soal ini. Kita akan diskusi untuk memastikan angka-angka yang harus kita sepakati.
Satu lagi yang masih menjadi perbincangan itu adalah waiting list, bagaimana memperpendek waiting list?
Tentu waiting list itu intinya tergantung dari berapa kuota yang kita dapatkan. Semakin banyak yang kita dapat, tentu akan semakin pendek waiting list-nya. Tahun kemarin kita mulai penerapan pembagian kuota secara nasional melalui data waiting list ini. Sehingga secara merata nantinya, bukan tahun ini, bukan tahun depan, nantinya pada akhirnya akan menjadi rata 26,4 tahun. Yang berangkat tahun ini antrenya sekitar 14 sampai 16 tahun.
Pemerintah Arab Saudi memiliki Visi Saudi 2030. Salah satunya adalah jemaah haji ditargetkan menjadi 5 juta. Sekarang ini baru 1,7 juta. Artinya peluangnya masih banyak, waiting list bisa berkurang. Tapi kalau jumlah jemaah tiga kali lipat, ini juga jadi PR yang luar biasa buat kita. Bagaimana kita harus menyiapkan segala sesuatunya untuk jumlah yang semakin banyak itu.
Kalau misalnya diperketat, aturannya satu kali haji seumur hidup, apakah bisa itu?
Undang-Undang Nomor 8 itu menyebutkan bahwa 10 tahun setelah haji baru boleh mendaftar lagi. Undang-undang terbaru ini diubah lagi menjadi 18 tahun. Artinya hampir sama dengan kita katakan yang sudah haji tidak usah daftar lagi. Tapi kita kan tidak bisa melarang keinginan orang-orang untuk berhaji. Mungkin bisa disalurkan dengan umrah.
Apa masukan untuk perbaikan tahun ke depan dari petugas haji kita?
Secara umum mereka sudah bekerja dengan baik. Petugas kita ada dua. Ada petugas PPIH—ada petugas yang kita siapkan satu bulan, dan ini yang banyak mendapatkan apresiasi. Kemudian ada petugas kloter—petugas kloter yang disiapkan di daerah, dan ini memang waktunya tidak sama, kurang dari 10 hari. Sehingga di beberapa kesempatan ada beberapa petugas daerah yang mungkin kurang siap. Itulah yang jadi catatan kami, bahwa tahun depan petugas haji daerah harus kita siapkan sama dengan PPIH. Supaya mendapatkan pembekalan dan mempunyai kualifikasi yang sama. Saya tanamkan bahwa ini adalah tugas pelayanan.
Dan alhamdulillah di sana kita tahulah bagaimana teman-teman petugas haji ini luar biasa. Mereka sangat berdedikasi dan alhamdulillah jemaah juga sangat senang dan mengapresiasi mereka.
Secara umum dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, apa nih yang perlu dipertahankan untuk tahun berikutnya?
Integritas pasti, dan dedikasi. Miskomunikasi antara petugas masih ada. Kemudian kadang-kadang ego sektoral juga masih ada, dan itu juga menjadi salah satu PR kami untuk memperbaiki. Misalnya petugas akomodasi, tugas akomodasi selesai, sementara tugas yang lain masih keteteran karena menganggap tugas akomodasi sudah selesai. Hal-hal seperti itu kadang-kadang masih ada.
Apa pesan kepada jemaah calon haji yang akan berangkat tahun-tahun berikutnya?
Berniat menjalankan ibadah haji yang dibuktikan dengan membayar pendaftaran. Dan setelah itu, anggaplah besok sudah mau berangkat. Untuk itu siapkanlah diri, siapkan bagaimana manasik ibadahnya, dan juga disiapkan manasik tentang kesehatannya. Kita anggap besok berangkat, mereka harus siap pada hari ini. Hari ini sudah bisa melakukan hal-hal yang terkait dengan kesehatan. Kalau masih punya kendala kesehatan, diperbaiki. Karena kita anggap besok berangkat, sehingga kapan pun berangkat nanti sudah siap.
Apa pesan kepada para jemaah yang sudah selesai berhaji tahun ini?
Saya selalu menyampaikan kepada jemaah yang baru datang: kita berdoa berharap Bapak/Ibu semua menjadi haji yang mabrur. Salah satu tanda haji yang mabrur, semakin baik ibadahnya, semakin baik sosialnya, semakin baik hubungan dengan masyarakatnya. Hubungan masyarakatnya baik, kemudian rasa empati sosialnya lebih baik.
Dan kemudian kalau saya kaitkan dengan tiga sukses Kementerian Haji, itu alasannya yang ketiga: sukses peradaban dan keadaban. Ini kita mencontoh dari para pendahulu kita. Mereka belajar di sana, pulang dari haji menjadi tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Sekarang karena sudah merdeka, bagaimana mengisi kemerdekaan ini dengan baik.
Titah Zero Tolerance Presiden Prabowo: Ujian Perdana Kementerian Haji
Di balik riuh rendah kebijakan politik markas besar dan megahnya gedung-gedung pencakar langit Jakarta, ada ritme hidup yang sangat dirindukan oleh Menteri Haji dan Umrah Dr. Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan.
Dahulu, hidupnya adalah cerminan dari apa yang hari ini sering disebut orang sebagai slow living. Di tanah kelahirannya, Jombang, Jawa Timur, waktu berputar dengan penuh ketenangan dan kepastian. Pukul sembilan atau sepuluh malam ia sudah beristirahat, lalu terbangun saat sepertiga malam terakhir—pukul tiga pagi—untuk salat malam dan membangunkan para santri.
Usai salat Subuh berjamaah dan menyimak lantunan ayat suci para santri, Gus Irfan biasa melangkahkan kaki menyusuri pematang sawah peninggalan orang tuanya. Menghirup udara pagi yang bersih, menyapa tetangga, mengurus toko kecil, atau sekadar mengayuh sepeda santai mengelilingi desa. Bagi Gus Irfan, kenikmatan hidup sejati sudah tuntas di sana.
Namun, takdir sering kali memanggil seseorang keluar dari zona nyamannya untuk mengemban amanah yang jauh lebih besar.
Panggilan Amanah dan Impian Sejuta Umat
Perjalanan hidupnya berubah secara drastis ketika ia dipanggil ke ibu kota. Dari menjadi bagian dari tim kampanye hingga dilantik sebagai anggota DPR RI, pola hidupnya yang semula teratur di pesantren mulai jungkir balik. Sepeda kesayangannya bahkan diboyong langsung dari Jombang ke kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta.
"Tapi kayaknya gowes di Jakarta itu menantang sekali. Harus nyelip-nyelip di antara mobil. Saya tak berani," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Namun, ujian tantangan lalu lintas Jakarta tak ada apa-apa dibandingkan dengan panggilan yang diterimanya tak lama setelah dua minggu menjabat di parlemen.
Gus Irfan dan wakilnya, Dahnil Anzar Simanjuntak, dipanggil menghadap Presiden Prabowo Subianto. Di hadapan mereka, sang Presiden menyampaikan sebuah kegelisahan mendalam sekaligus cita-cita besar.
"Masyarakat Indonesia sebagian besar adalah umat Muslim. Dan cita-cita utama umat Islam adalah menjalankan ibadah haji. Karena itu, saya ingin memberikan pelayanan terbaik pada jemaah haji Indonesia."
Dari arahan itulah lahir gagasan besar pembentukan badan yang kini berdiri mandiri sebagai Kementerian Haji dan Umrah. Ketika resmi dilantik memimpin kementerian baru tersebut, Presiden Prabowo menegaskan satu prinsip utama yang tak boleh ditawar: Zero Tolerance. Tidak boleh ada celah untuk korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau penyelewengan apa pun. Ibadah suci rakyat tidak boleh dikotori oleh prasangka buruk.
"Nol Kesalahan" di Tengah Badai Geopolitik
Membangun kementerian dari nol bukanlah perkara mudah. Sikap pesimistis dari berbagai pihak bermunculan: Mampukah lembaga baru ini mengurus ratusan ribu jemaah haji?
Namun bagi Gus Irfan dan wakilnya—seorang putra Medan yang lugas dan tegas—keraguan publik justru menjadi bahan bakar. Kombinasi kepemimpinan santun berlatar pesantren dan ketegasan khas Sumatra membuat tim ini bergerak cepat.
Ujian terberat datang tanpa diduga. Di tengah persiapan intensif jelang musim haji, eskalasi konflik di Timur Tengah memuncak saat Ramadan. Perang pecah.
Di tengah kepungan kegalauan, Gus Irfan menghadap Presiden usai peringatan Nuzululquran di Istana Negara. Dalam momen krusial itu, Presiden Prabowo memberikan petunjuk arah yang sangat tegas:
"Apa pun yang terjadi nanti terkait jemaah kita, pertimbangan utamanya adalah keamanan dan keselamatan mereka. Semua keputusan Menteri harus bertumpu pada dua hal itu."
Pegangan itu memaksa tim Kementerian Haji menyusun berbagai skenario ekstrem: dari perubahan rute penerbangan, keberangkatan bertahap, hingga skenario pahit tidak diberangkatkannya jemaah. Skenario paling membayangi pikiran adalah kemungkinan evakuasi darurat bagi lebih dari 200 ribu jemaah di tengah kecamuk perang.
"Jujur, itu yang buat kami tidak bisa tidur," aku Gus Irfan.
Setiap malam diisi dengan koordinasi maraton tanpa henti—menghubungi Kementerian Luar Negeri hingga membangun komunikasi intensif dengan Kementerian Haji Arab Saudi untuk memastikan keselamatan benteng terakhir jemaah Indonesia.
Pengorbanan Sunyi di Balik Layar
Di balik dedikasi dan kerja keras mengurus ratusan ribu jemaah haji Indonesia, ada harga domestik yang harus dibayar mahal oleh seorang Gus Irfan.
Ia harus rela tinggal berjarak dengan keluarga. Putri bungsunya enggan pindah ke Jakarta karena sudah telanjur nyaman dengan sekolah dan teman-temannya di Jawa Timur. Sementara itu, sang istri harus membagi waktu mengasuh anak dan menjaga 100 santri putri di pesantren mereka di Jombang.
"Sebulan dua atau tiga kali istri ke Jakarta, atau saya yang berusaha menyempatkan pulang, walau susah sekali cari waktunya," tuturnya dengan nada lembut. Ada keheningan tipis saat ia mengutarakan rasa rindunya pada kehangatan rumah.
"Pasti merasa ada yang kurang karena tidak bisa ketemu keluarga terus. Tapi alhamdulillah, komunikasi tetap berjalan baik."
Kini, riak-riak keraguan publik pelan-pelan terkikis oleh bukti kerja nyata. Dari ketenangan sawah di Jombang hingga ruang-ruang rapat bertekanan tinggi di Jakarta dan Makkah, Gus Irfan membuktikan bahwa kepemimpinan yang berakar pada ketulusan pesantren mampu menjawab tantangan paling rumit sekalipun.
Bagi Mochamad Irfan Yusuf dan jajarannya, amanah ini bukan sekadar tugas birokrasi, melainkan pengabdian spiritual. Sebab di balik setiap paspor, setiap lembar kain ihram, dan setiap helai napas jemaah haji Indonesia, ada doa jutaan rakyat yang dititipkan di pundak mereka—harapan agar perjalanan suci itu aman, selamat, dan mabrur.
"Presiden Prabowo menegaskan satu prinsip utama yang tak boleh ditawar: Zero Tolerance. Tidak boleh ada celah untuk korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau penyelewengan apa pun. Ibadah suci rakyat tidak boleh dikotori oleh prasangka buruk,"