AS Bakal Kurangi Keberadaan Militernya di Arab Saudi
JAKARTA - Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengurangi keberadaan militernya di Arab Saudi dan memusatkan pasukannya di negara-negara yang lebih kooperatif selama kampanye militer melawan Iran, seperti Israel dan Yordania.
Laporan The Wall Street Journal mengutip sejumlah sumber, menyatakan selama masa jabatan pertama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Pangkalan Udara Pangeran Sultan untuk menghalangi Iran.
Namun, ketidaksepakatan tentang Operasi Epic Fury dan Proyek Kebebasan antara AS dan Arab Saudi pun terjadi hingga memicu diskusi tentang pengurangan pasukan AS di kerajaan tersebut.
Karena khawatir terjadi eskalasi ketegangan, Arab Saudi lalu memblokir akses militer AS ke pangkalan dan wilayah udaranya segera setelah Proyek Kebebasan diluncurkan.
Dilansir ANTARA dari Sputnik, Rabu, 1 Juli, sebagai tanggapan, AS pun mengancam akan menunda pengiriman sistem pencegat yang digunakan Arab Saudi untuk mempertahankan diri dari rudal dandroneIran. Hal itu memaksa Riyadh mencabut pembatasan tersebut.
Namun, AS tidak memperbarui Proyek Kebebasan, melainkan beralih dengan melakukan koordinasi secara diam-diam bersama kapal-kapal untuk membantu mereka meninggalkan Selat Hormuz pada malam hari dengan cara mematikan pemancar kapal, demikian laporan tersebut.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain, tetapi tidak ke Arab Saudi.
Bagi Riyadh, sikap Rubio itu dianggap sebagai pernyataan tidak bersahabat secara terbuka. Pemerintahan Trump pun menolak interpretasi Arab Saudi itu, dengan mengatakan Rubio mengadakan pembicaraan produktif dengan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud di Bahrain dan hubungan antara Washington dan Riyadh pun tetap kuat.