Warga Amerika Kehabisan Uang, Perang Iran Picu Krisis Biaya Hidup Terparah
JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran disebut mulai berdampak terhadap kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat, terutama meningkatnya biaya hidup masyarakat dan melemahnya daya beli konsumen.
Sejumlah pemimpin perusahaan multinasional di Amerika mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi tersebut dalam laporan pendapatan perusahaan terbaru yang dikutip media Iran, Fars News, Sabtu 9 Mei.
CEO Whirlpool Corp., Marc Bitzer, mengatakan permintaan konsumen turun hingga 15 persen pada kuartal pertama tahun ini. Kondisi tersebut bahkan membuat perusahaan menangguhkan pembagian dividen kepada pemegang saham untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun.
Menurut Bitzer, ketegangan konflik dengan Iran turut memperburuk kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup.
Senada dengan itu, CEO Kraft Heinz, Steve Callihane, menilai masyarakat kelas menengah ke bawah mulai mengalami tekanan ekonomi yang serius. Ia menyebut banyak konsumen kehabisan uang tunai di akhir bulan hingga terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Mereka secara harfiah kehabisan uang di akhir bulan. Kami melihat arus kas negatif di kelompok pendapatan rendah, di mana mereka mulai menguras tabungan,” ujar Steve Callihane.
Data ekonomi di Amerika Serikat juga menunjukkan kenaikan harga bahan bakar sejak konflik pecah dua bulan lalu. Harga rata-rata bensin disebut naik dari sekitar 3 dolar AS per galon menjadi 4,55 dolar AS per galon pada Jumat 8 Mei.
Selain itu, tingkat inflasi meningkat dari 2,4 persen pada Februari menjadi 3,3 persen pada Maret, yang dinilai semakin menekan pendapatan riil masyarakat.
Ketidakpuasan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump juga disebut meningkat. Berdasarkan jajak pendapat YouGov, sebanyak 61 persen responden menyatakan tidak puas terhadap penanganan ekonomi pemerintah, angka tertinggi sejak 2022.
Meski penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menilai peningkatan penggunaan kartu kredit mencerminkan ekonomi yang masih kuat, sejumlah pengamat justru melihat kondisi tersebut sebagai tanda masyarakat mulai berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok dan biaya energi.
Dampak perubahan perilaku konsumen juga dirasakan sektor makanan dan restoran. McDonald’s meluncurkan paket menu hemat di bawah 3 dolar AS untuk mempertahankan pelanggan.
CEO McDonald’s Christopher Kempczinski mengakui masyarakat kini semakin sensitif terhadap harga akibat tekanan ekonomi.
“Sentimen konsumen saat ini adalah kecemasan yang meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Dine Brands Global pemilik jaringan restoran Applebee’s dan IHOP, juga melaporkan penurunan jumlah pelanggan karena masyarakat memilih mengurangi pengeluaran dan mencari alternatif makanan yang lebih murah.
また読む:
Pemerintahan Trump sendiri masih meyakini harga-harga akan kembali stabil setelah konflik mereda. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai kapan ketegangan geopolitik tersebut akan berakhir.
Kondisi tersebut dinilai membuat masyarakat dan pelaku usaha di Amerika Serikat harus menghadapi ketidakpastian ekonomi yang semakin besar akibat dampak konflik internasional.