Indonesia Sudah Terima Draft Rancangan Resolusi Pasukan Internasional di Gaza, Menlu Sugiono Tegaskan Mandat yang Jelas

JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan pentingnya mandat yang jelas dan imparsial terkait pengiriman pasukan internasional ke Jalur Gaza, Palestina, menyatakan Indonesia sudah menerima draft awal rancangan resolusi pengiriman pasukan tersebut.

"Ya (menerima), kita kemarin juga membahas rancangan resolusi tersebut. Namun karena itu baru disampaikan dalam pertemuan kemarin, masing-masing negara punya pendapat dan pikirannya masing-masing yang akan mungkin bisa dituangkan sebagai masukan," jelas Menlu RI ketika ditanya mengenai rancangan draft mandat pasukan internasional yang diedarkan oleh Amerika Serikat, dalam keterangan di Kementerian Luar Negeri RI, Rabu 5 November.

"Tapi sekali lagi draft rancangan resolusi tersebut masih dalam taraf pembicaraan awal, sangat awal, draft zero yang dibagikan," lanjutnya.

"Pada intinya kita berharap sekali lagi ada satu mandapt yang jelas, clear, imparsial dan dalam kerangka peace keeping forces, benar-benar dalam fungsinya untuk menjaga perdamaian," tegas Menlu Sugiono.

"Itu yang saya kira menjadi topik utama yang dibicarakan dari rancangan tersebut," tambahnya.

Pembahasan draft yang dimaksud Menlu Sugiono dilakukan dalam pertemuan negara-negara yang kemudian disebutnya sebagai New York Group di Istanbul, Turki pada 3 November lalu.

Sebelumya, Axios pada Hari Senin melaporkan AS telah mengirimkan rancangan resolusi kepada beberapa anggota Dewan Keamanan PBB mengenai pembentukan pasukan internasional di Gaza.

Rancangan resolusi tersebut akan memberikan mandat selama dua tahun untuk menyediakan keamanan hingga akhir tahun 2027 dengan kemungkinan diperpanjang.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios, Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) akan menjadi " pasukan penegakan hukum dan bukan pasukan penjaga perdamaian."

Pasukan tersebut akan melibatkan pasukan dari beberapa negara dan dibentuk melalui konsultasi dengan Dewan Keamanan PBB.

Menurut draft tersebut, ISF akan bertugas mengamankan perbatasan Gaza dengan Israel dan Mesir, melindungi warga sipil dan koridor kemanusiaan, serta melatih pasukan polisi Palestina baru yang akan menjadi mitra ISF.

ISF juga akan menstabilkan lingkungan keamanan Gaza dengan memastikan proses demiliterisasi Jalur Gaza, hingga melakukan tugas tambahan yang diperlukan untuk mendukung perjanjian Gaza, menyediakan keamanan di Gaza selama masa transisi.

Draft itu juga menekankan pembentukan pasukan dan operasinya akan dilakukan "dalam konsultasi dan kerja sama yang erat dengan Mesir dan Israel". Termasuk mengawasi dan mendukung komite teknokratis Palestina yang apolitis dan terdiri dari warga Palestina yang kompeten dari Jalur Gaza.

Menlu Sugiono mengungkapkan, hal-hal yang bersifat detail, implementasi dan modalitas dan yang pasti mandat resmi dari PBB yang imparsial dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

"Kita semua berharap ada satu rencana yang sifatnya komprehensif yang bisa diimplementasikan," katanya, menambahkan kemungkinan Indonesia akan mempersiapkan pasukan baru untuk misi di Jalur Gaza.

"Sesuai apa yang disampaikan saat New York Gorup ini pertama bertemu dan kemudian dengan pembicaraan antar kepala negara serta Deklarasi New York, semuanya harus melibatkan Palestina," tegasnya.

Diketahui, pertemuan di Istanbul yang dipimpin oleh Menlu Turki Hakan Fidan juga dihadiri oleh Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania dan Pakistan.