Bagikan:

Program pemberian susu formula (sufor) oleh MBG membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) angkat bicara. Menurut Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K), yang mereka khawatirkan adalah pemberian sufor bisa mendistorsi peran air susu ibu (ASI) yang amat fundamental.

***

Menurut Naomi, pihaknya bukan memusuhi sufor, namun ingin mendudukkan peran dan fungsi sebagaimana mestinya. “Mungkin niatnya baik, tetapi cara implementasinya yang harus baik juga. Supaya jelas sampai ke orang-orang yang membutuhkan. Jangan sampai ASI-nya itu terdistorsi. Ini yang paling penting. Padahal selama ini kami dan pihak-pihak lainnya sudah melatih atau mendukung ibu untuk menyusui dan memberikan ASI eksklusif,” ujarnya.

Setelah IDAI angkat bicara dan menjadi polemik, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) yang melaksanakan program ini angkat bicara. Kepala BGN Dadan Hindayana saat masih aktif menegaskan narasi yang menyebut MBG membagikan susu formula bayi secara massal perlu diluruskan. Ia memastikan tidak ada pemberian susu formula untuk bayi usia 0–6 bulan dalam program tersebut.

"Untuk bayi usia 0-6 bulan, tidak ada intervensi susu formula bayi dalam Program MBG. Oleh karena itu MBG tidak menyediakan opsi sama sekali untuk formula bayi," ujar Dadan seperti diwartakan VOI, Jumat, 22 Mei 2026.

Dalam proses pemberian ASI eksklusif, kata Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, semua pihak harus terlibat dan menjadi support system agar ibu bisa melaksanakan tugasnya. “Bukan cuma ibunya, tapi juga bapaknya, keluarga, termasuk tenaga kesehatan, bahkan pemerintah. Semua seperti rantai yang saling mendukung ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif,” tegas Naomi Esthernita kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto dari VOI yang menemuinya di kantor Pusat IDAI, di bilangan Salemba, Jakarta Pusat, 4 Juni 2026.

Menurut Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) pendistribusian susu formula jangan mendistorsi peran ASI. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)
Menurut Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) pendistribusian susu formula jangan mendistorsi peran ASI. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini awalnya buat anak sekolah, lalu merambah ke ibu hamil dan balita. Secara prinsip, IDAI melihat perluasan target ini sebagai berkah atau justru alarm bahaya?

Kalau kita mau menuju Indonesia Emas, mengatasi stunting itu sebenarnya dimulai dari usia seribu hari pertama. Seribu hari pertama itu dimulai sejak ibu hamil sampai si anak usia dua tahun. Jadi, nggak bisa kita mengatasi gizi dengan tiba-tiba, tapi harus dari awalnya. Kalau ibu hamil itu melahirkan seorang anak yang IUGR (Intrauterine Growth Restriction, yaitu kondisi di mana pertumbuhan janin di dalam rahim terhambat, sehingga ukuran dan berat badannya lebih kecil dibandingkan standar usia kehamilan), itu sudah merupakan satu PR untuk menuju stunting.

Jadi ide membagikan susu ini baik, tapi asal diimplementasikan juga dengan baik. Bagaimana memberikan nutrisi yang baik untuk ibu hamil, sehingga dia bisa melahirkan bayi yang berkualitas. Dan si bayi itu sejak lahir pun harus diberikan nutrisi yang baik. Nutrisi yang baik dan sesuai dengan peraturan itu ya ASI. Sejak lahir sampai enam bulan itu yang terbaik adalah ASI eksklusif. Kemudian dilanjutkan enam bulan sampai dua tahun atau lebih ASI plus MPASI (makanan pendamping ASI), bukan ASI plus formula judulnya.

Jadi susu formula itu tak bisa dibandingkan dengan ASI ya?

Ya, jelas tidak bisa dibandingkan. Karena kalau ASI itu bukan cuma nutrisi, dia ada zat antiinfeksi, ada hormon pertumbuhan. Nah, itu tidak ada di susu formula mana pun. Secara psikologis juga ada kedekatan intens dengan ibunya. Ada bonding, ada stimulasi dari ibu ke bayinya.

Bagaimana dalam kondisi ibu tidak bisa memberikan ASI, apakah susu formula bisa menjadi pengganti?

Kami tidak bermusuhan dengan susu formula. Artinya, ada tempatnya di mana kita ada indikasi memberikan susu formula. Misalnya, kalau kita lihat pertumbuhan anak dengan ASI saja dia tidak naik dengan baik, jadi mesti dilihat dulu penyebabnya apa. Mungkin cara pelekatan posisinya yang salah, itu yang kita betulkan. Atau kita lihat ternyata dia tidak naik beratnya bukan karena itu, ada infeksi yang lain kita obati.

Tapi kalau semua sudah dibetulkan masih perlu, ya itu indikasi diberikan susu formula. Salah satunya seperti itu. Jadi, kita mesti lihat apa penyebab ASI tidak keluar. Karena kalau salah, makin lama ASI makin kurang. Atau pengosongan payudaranya yang kurang benar. Jadi, produksinya makin lama jadi berkurang.

Jadi, memang mesti lihat apa masalahnya dan orang tua harus diedukasi soal ini ya?

Ya, itu dari awal ditelaah kenapa sih persoalan ini bisa muncul dan dicarikan solusinya.

Soal BGN yang akan memberikan susu formula kepada balita ini, apakah IDAI sudah melakukan investigasi atau temuan di daerah mana?

Saat ini kita belum bisa bicara detail tentang itu. Tapi pemantauan kami ada beberapa daerah yang sudah mulai akan disosialisasikan. Itulah sebabnya kami rasa lebih baik kita berembuk. Mungkin idenya bagus, tapi bagaimana mengimplementasikannya supaya lebih berguna buat masyarakat.

Apakah IDAI diajak ngobrol sama BGN atau lembaga lain yang terkait?

Sampai saat ini belum ya. Sebenarnya masalah ini sudah disurati oleh Kementerian Kesehatan tahun lalu, tapi sepertinya belum ditanggapi. Kemudian kami melihat ada juknis tentang itu, ya kami rasa lebih baik kita semua bersinergi. Soalnya kita semua menuju Indonesia Emas, anak-anak Indonesia supaya lebih berkualitas.

Untuk susu formula pihak BGN mengatakan kalau mereka tidak memberikan untuk bayi yang usia 0 sampai 6 bulan, yang diberikan di atas itu, kalaupun diberikan pun karena rekomendasi dokter. Bagaimana tanggapan dokter soal ini?

Ya, memang harus diberikan 6 sampai 12 bulan itu asal dengan indikasi. Jadi tidak bisa memberikan perintah seenaknya saja. Petugasnya harus melatih dulu mereka yang bertugas di puskesmas atau di posyandu. IDAI sudah ke daerah untuk melatih para petugas, supaya tidak salah karena ketidaktahuan. Jadi memberikan atau distribusi susu formula itu seperti bebas-bebas saja, itu yang kami takutkan.

Dokter di puskesmas harus memantau jika menemukan seorang anak yang beratnya tidak naik sesuai ketentuan yang ada, dia harus mengintervensi. Kalau tidak bisa naik juga, dia harus merujuk ke dokter spesialis anak setempat. Jadi, memang ada porsinya untuk diberikan (susu formula) dengan indikasi. Jadi, yang kami khawatirkan karena ketidaktahuan, mendistribusikannya lebih luas dan tidak pada indikasi.

Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) meminta semua pihak mendukung pemberian ASI Ekslusif. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)
Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) meminta semua pihak mendukung pemberian ASI Ekslusif. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Untuk soal ini kan kalau kita lihat di antara sekian organisasi IDAI paling kencang suaranya, bisa dijelaskan soal ini?

Karena memang ini berhubungan dengan anak ya. Kan pasiennya pasien bayi, mau nggak mau emang ini bidangnya IDAI.

Dan suara lantang dari IDAI Ini akhir ditanggapi, apa respons Anda?

Iya, tapi ya kita kalau bisa kita beraudiensi bagaimana menyelesaikan soal ini.Apalagi Kementerian Kesehatan sudah bersurat soal ini.

Sebenarnya juknis dan juklaknya jelas nggak sih soal ide untuk mendistribusikan susu formula ini?

Yang kami dapat ya juklak dan juknisnya belum tersosialisasi. Makanya kam takut jangan sampai salah. Barangkali ya diperbaiki atau kita harus duduk bareng memperbaiki supaya tidak salah.Sekali lagi, mungkin niatnya baik, tetapi cara implementasinya yang harusbaik juga. Supaya jelas sampai ke orang-orang yang membutuhkan. Jangan sampai ASI-nya itu terdistorsi.Ini yang paling penting. Padahal selama ini kami dan pihak-pihaklainnya sudah melatih atau mendukung ibu untuk menyusui.

Jangan sampai environment laktasinya ini malah jadi terdistorsidengan pendistribusian susu formula yang tidak pada tempatnya. Padahal tujuannya baik, tapi implementasinya kurang tepat. Ini yang kita harus diluruskan. Karena persoalan ibu menyusui dan pemberian susu formula ini ada aturannya.

Mudah-mudahan dengan Ketua BGN yang baru ini kan karena dia perempuan jugajadi bisa lebih nyambung ya?

Semoga bisa begitu. Ingat persoalan menyusui ini bukan hanya tugas ibu. Bapak juga harus support.

Nah support-nya seperti apa menurut Anda?

Banyak, ada istilahnya breastfeeding father. Memang bukan bapaknya yang nyusuin ya, tapi dengan dia men-support artinya dalam bentuk mental. Kalau dia punya anak yang lebih besar, mungkin anak yang lebih besar dijaga sama bapaknya. Kalau ibunya nyusuin, dia mungkin ambilin popok atau apa, artinya dia akan merasa nggak sendiri.

Jadi bapak bisa membantu menciptakan support system yang kondusif untuk kegiatan menyusui?

Betul, apalagi kalau di hari pertama dan kedua biasanya ASI itu belum keluar. Padahal ibunya sudah pengen banget nyusui, tapi ASI-nya masih sedikit. Kalau bapak atau lingkungan tak mendukung biasanya menyarankan kasih susu formula.Tapi kalau bapaknya support dan dia mengerti bagaimana fisiologisnya, pasti dia akan mendukung. Ya sudah nggak apa-apa, coba lagi.

Dan kalau hari pertama, kedua belum keluar itu kan memang wajar, karena fisiologinya begitu. Dan makin sering disimulasi, ASI-nya akan makin banyak. Jadi bagaimana pengosongan payudara itu tadi yang saya bilang harus benar. Manajemen laktasinya kita perbaiki dulu. Kalau sampai nggak bisa atau ada sesuatu hal dan terindikasi, baru mencari alternatif. Hirarki pemberiannya ada ASI ibunya sendiri, baru ASI donor dan susu formula.

Jadi bapak-bapak juga harus mendukung banget ya, Dok, untuk pemberian ASI ini?

Sebenarnya menurut simposium World Breastfeeding Week, semua orang punya peran. Bukan cuma ibunya, tapi juga bapaknya, keluarganya, termasuk tenaga kesehatan, bahkan pemerintah. Semua seperti rantai yang saling mendukung ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif.

Fokus kita memprioritaskan ASI. Susu formula bukan nggak boleh, itu dipakai pada tempatnya. Tetapi jangan sampai penyebarluasan susu formula ini menjadi distorsi, sehingga program ASI-nya kalah oleh program mendistribusikan susu formula.

Untuk mendukung ASI eksklusif, apakah dana dari BGN perlu diberikan kepada ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi agar produksi ASI lancar?

Saya tidak terlalu kompeten dalam urusan dana. Tapi intinya si ibu harus dijamin dapat nutrisi yang baik, tidak anemia. Karena banyak sekali ibu hamil anemia di Indonesia, itu kan juga berakibat tidak baik. Petugas kesehatan juga harus terjun mengedukasi ibu-ibu yang hamil dan menyusui, untuk mendukung ibu-ibu ini menyusui.

Mana yang lebih baik, apakah dananya dibelikan susu formula atau untuk makanan ibu yang menyusui?

Kalau dananya dikasihkan ke ibunya, apa benar dibelikan untuk makanan dia? Jadi semuanya ada simalakamanya. Oleh karena itu, harus didiskusikan agar dana yang ada dimanfaatkan dengan tepat dan sebaik mungkin.

Selama ini ada hambatan apa sehingga dokter-dokter tidak atau kurang dilibatkan ya, Dok?

Wah, saya nggak tahu ya. Kita nggak pernah ada apa-apa sih sebenarnya. Kemarin kami bersuara keras itu karena nggak mau sampai ada yang salah ya. Jadi ya sebelum terjadi, kami bicarakan ke publik.

Apa lagi yang disarankan kepada BGN dalam program MBG ini agar benar-benar tepat sasaran?

Kami dari IDAI menyarankan dalam membuat program tetap menomor satukan ASI. ASI itu the best. Marilah bergandengan tangan untuk kemajuan anak Indonesia. Kita akan menuju Indonesia Emas 2045. Kami dengan senang hati memberikan bantuan.

Apa saran kepada ibu-ibu yang lagi menyusui?

Sebelum menyusui, usahakan supaya kehamilannya menyenangkan, tidak stres, dan makan makanan yang bergizi. Dan ingat, itu harus disiapkan (prepare). Kalau ada kelas menyusui boleh ikut agar dapat edukasinya. Di awal menyusui akan banyak sekali masalah. Waduh ASI-nya nggak cukup, nggak keluar, dan lain-lain. Ini semua harus dihadapi dan diselesaikan. IDAI menyiapkan modul dan memberikan pelatihan kepada dokter agar bisa membantu ibu-ibu di dua pekan pertama menyusui. Tujuannya agar ASI eksklusif itu bisa diberikan pada bayi.

Ini semua harus kita dukung. Tidak hanya ibu, tapi keluarga, tenaga medis, pemerintah, dan sekarang BGN juga mau ikut andil. Ayo semua mendukung pemberian ASI eksklusif. Kita kan semua punya peran, jangan sampai hal yang penting ini salah sasaran.

Apa saran untuk BGN, apalagi dan terutama untuk Ibu Nanik S. Deyang yang sekarang menjadi penerus Pak Dadan Hindayana?

Saya rasa Ibu Nanik sudah cukup lama bekerja sama dengan IDAI. Semoga bisa bekerja sama dengan baik. Kita semua berjuang untuk anak Indonesia ke depan supaya optimal tumbuh kembangnya.

Seni Menikmati Hidup ala dr. Naomi Esthernita

Hidup ini kata Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) harus seimbang antara kerja, olahraga dan melakoni hobi. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Hidup ini kata Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) harus seimbang antara kerja, olahraga dan melakoni hobi. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Di tengah kesibukan sebagai seorang dokter profesional dan perannya di organisasi sebagai Ketua Satgas ASI IDAI, Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K), masih menyisihkan waktu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang, yaitu dengan berolahraga teratur dan melakoni hobi bermain bulutangkis.

Dengan menjaga keseimbangan itulah ia berhasil menjaga kualitas hidupnya. “Hobinya banyak. Untuk olahraga saya main badminton, dansa, dan traveling,” kata dokter yang juga mantan atlet bulutangkis ini.

Kalau badminton, siapa nih pemain favoritnya? “Ya, teman-teman saya. Banyak ya; Susi Susanti, Sarwendah, Rosiana Tendean, dll,” kata Naomi yang pernah bergabung dengan klub Jaya Raya Jakarta.

Sebagai pebulutangkis profesional, dia sempat bimbang apakah mau lanjut jadi atlet atau menekuni kuliah di fakultas kedokteran. “Dulu main beneran, terus karena masuk kedokteran, jadi harus memilih. Akhirnya sampai tingkat empat saya memilih kuliah, soalnya saat itu sudah mulai jaga malam,” kata dokter yang sempat meraih trofi di tingkat Jakarta dan kejuaraan nasional ini.

Kunci untuk berhasil dalam segala hal, kata dia, adalah semangat dan disiplin. “Kalau dalam badminton itu ditunjukkan oleh pemain China. Pemain kita juga ada, terutama yang berhasil mencetak prestasi dunia, baik dulu maupun sekarang,” katanya.

Di era padel yang marak sekarang, ia juga sempat mencoba. “Saya pernah diajak teman main padel. Untuk kesenangan oke, cuma harus cukup pemanasan agar tak cedera dan juga pendinginan yang cukup,” lanjutnya.

Traveling: Capek tapi Happy

Harus memilih antara atlet dan kuliah kedoteran, akhirnya Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) memilih menyelesaikan studi. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Harus memilih antara atlet dan kuliah kedoteran, akhirnya Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) memilih menyelesaikan studi. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Untuk traveling, dia tidak sendirian. “Biasanya sama teman-teman ya. Indonesia itu banyak destinasi yang bagus; Bali, Lombok, Labuan Bajo, Magelang. Saya sempat ke Borobudur dan mencoba naik jeep ke daerah yang disebut Nepal Van Java. Seru banget,” katanya antusias.

Meski banyak yang suka solo traveling, ia konsisten dengan rombongan karena lebih seru. “Kalau sendiri enggak enak, enggak seru,” ujarnya.

Diakui Naomi, traveling itu capek, tapi menyenangkan. “Capek sih, tapi happy. Artinya ada refreshing-lah. Kita juga butuh rileks, nggak kerja terus,” lanjutnya.

Jadi, harus ada keseimbangan antara kerja dan memenuhi kebutuhan pribadi. “Jadi memang harus pintar-pintar bagi waktu aja. Ketemu teman, itu juga penting loh. Di sela-sela kerjaan ya kita harus meluangkan waktu kalau ada teman datang dari luar negeri ya. Ketemu dan ngumpul, kayak small reunion sambil lunch,” ungkapnya.

Tips Langsing

Dalam menjalankan hidup ini, menurut Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) harus enjoy dan berbuat yang terbaik. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dalam menjalankan hidup ini, menurut Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, SubspNeo(K) harus enjoy dan berbuat yang terbaik. (Foto Karisa Aurelia Tukan VOI, DI: Raga Granada VOI)

Meski sibuk, Naomi masih bisa menjaga tubuhnya agar langsing dan ideal. Dan dia nggak pelit berbagi tips. “Antara kerja, istirahat, olahraga, dan melakoni hobi dengan seimbang. Untuk istirahat penting banget. Karena begitu kurang tidur, yang lain akan terganggu. Jadi nggak bisa maksimal,” katanya.

Untuk makannya, hingga saat ini dia tak ada pantangan. “Ya puji Tuhan, saya nggak diet-diet. Yang penting tahu aja lah, makan nggak over, harus tahu diri lah. Makin bertambah usia, metabolisme tidak seperti zaman muda,” ujarnya.

Kata kuncinya, kata dia, adalah berbuat yang terbaik, seimbang, dan bahagia. “Be happy and just do the best. Apa yang kamu bisa lakukan, lakukanlah. And enjoy your work,” pungkas Naomi Esthernita Fauzia Dewanto.

"Jangan sampai environment laktasinya ini malah jadi terdistorsi dengan pendistribusian susu formula yang tidak pada tempatnya. Padahal tujuannya baik, tapi implementasinya kurang tepat. Ini yang harus kita luruskan. Karena persoalan ibu menyusui dan pemberian susu formula ini ada aturannya."

Naomi Esthernita Fauzia Dewanto

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+