Kebijakan “mematikan” ritel modern yang terjadi belakangan ini, menurut Ketua Afiliasi Global Retail Association (AGRA) Roy Nicholas Mandey, sejatinya tak perlu dilakukan. Pasalnya, pasar tradisional, warung, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan ritel modern memiliki peran masing-masing. Mestinya, pemerintah mensinergikan semuanya dalam satu orkestrasi yang apik.
***
Makanya, apa yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB)—ketika aparat setempat menutup ritel modern yang sudah sekian lama berdiri—dalam pandangannya adalah sebuah kemunduran. “Kalau dibilang masih kurang izinnya, minta mereka melengkapi saja. Bukan itu menjadi alasan untuk menutup,” katanya.
Kehadiran KDMP ditengarai menjadi penyebab semuanya. Pemerintah tampaknya ingin dilihat sebagai penolong koperasi yang dianggap lebih pro kepada rakyat.
Namun, menurut Roy, di era sekarang ini semua elemen yang ada bisa disinergikan oleh pemerintah sehingga menjadi satu kesatuan dalam sistem ekonomi yang saling melengkapi. “Yang harus dilakukan menurut saya adalah sinergi dan kolaborasi. Sudah tidak zamannya berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri tidak kuat. Saatnya kita sebangsa, setanah air saling merangkul. Inilah yang sesuai dengan Pancasila,” papar Roy Nicholas Mandey yang juga Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).
Dalam hal ini, lanjut dia, pemerintah harus bertindak seperti dirigen. Pemerintahlah yang bisa mengatur dan mengarahkan agar masing-masing—pasar tradisional, warung, KDMP, dan ritel modern—bisa memainkan perannya masing-masing. Bukan yang satu mematikan yang lain.
Kalau ini bisa diorkestrasi oleh pemerintah, akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Muaranya, semua akan untung dan masyarakat yang akan dimudahkan. “Semuanya; KDMP, warung, pasar tradisional, ritel modern, dan lain-lain bisa dikoordinir menjadi satu dalam sebuah ekosistem,” ujarnya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto saat bertandang ke kantor VOI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, 3 Juni 2026.

Belakangan ini publik ramai menyoroti polemik di Lombok Tengah, NTB. Aparat meminta sejumlah ritel modern ditutup karena alasan izin yang kurang lengkap. Dari pengamatan Anda, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar?
Ini merupakan kemunduran dalam mengambil keputusan dan kebijakan. Idealnya, pemerintah pusat dan daerah itu harus hadir untuk rakyatnya. Harus selalu membela rakyat. Kami pelaku usaha adalah rakyat juga, selain masyarakat atau konsumen yang kami layani.
Artinya, sebelum keputusan diambil, dibutuhkan kearifan, keterbukaan, dan transparansi yang mendahului keputusan atau pelarangan itu. Ini yang saya sebutkan sebagai kemunduran.
Mengapa begitu? Karena pada satu kondisi, sekarang apa yang mau dipentingkan? Masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, atau membuat masyarakat lebih susah untuk mendapatkan kebutuhannya? Itu yang pertama.
Kemudian yang kedua, harus diingat bahwa perizinan itu lahir dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Kenapa itu bisa dibuka? Berarti kan itu harus dipertanyakan.
Kemudian yang lainnya, kita hadir juga membawa kesempatan buat tenaga kerja lokal. Semua pelaku usaha ritel ketika membuka cabang di sebuah daerah akan menggunakan tenaga dari daerah itu, karena mengurangi biaya ketimbang harus mengambil dari tenaga kerja luar daerah. Melarang kami berarti mematikan lapangan kerja.
Lalu, hal itu juga mengurangi potensi pendapatan pajak. Kami punya tax ratio walaupun belum sampai 12%, yang diharapkan sampai tahun ini tercapai. Lalu untuk PPN dan pajak daerah juga akan hilang. Kemudian, hilang juga nilai investasi yang sudah masuk ke daerah tersebut, di mana faktor investasi itu juga sangat diperlukan.
Apa lagi peran ritel modern yang penting?
Masyarakat bisa berbelanja dengan mudah, cepat, dan dengan harga yang lebih stabil, karena kami selalu jadi yang terdepan dalam menjaga inflasi. Ketika harga carut-marut, kami yang paling stabil. Pasalnya, kami punya stok dan ketersediaan barang yang sudah mumpuni dan diatur oleh inventory management yang rapi. Sehingga harga itu pasti lebih stabil dibandingkan dengan yang memiliki stok lebih sedikit.
Saudara-saudara kita yang ada di warung atau di pasar tradisional rakyat memang sangat terbatas karena individual business-nya. Kalau kami kan korporasi, jadi kami mengatur sedemikian rupa ketersediaan dan kestabilan harga.
Menurut Anda, apa solusi dari polemik penutupan ritel modern di NTB itu?
Kalau dibilang masih kurang izinnya, minta mereka melengkapi. Bukan itu menjadi alasan untuk menutup. Oke, misalnya di dalam daftar perizinan itu diharapkan sebenarnya PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu). Tapi kan kita tahu lah, meski namanya satu pintu, jendelanya banyak. Ini fakta dan masukan untuk pemerintah.
Lalu saat ada investasi yang sudah masuk, ada penyerapan tenaga kerja, ada pajak yang kami setor, serta menggerakkan sektor ekonomi, ini harus dihargai. Purchasing Managers' Index (PMI) selalu kita jaga sebagai bagian supaya tidak ada PHK di produsen, supaya terjaga usahanya, dan seterusnya. Jadi, multiplier effect-nya itu sangat dominan ketika itu dilarang atau dibatasi.
Salah satu yang diduga menjadi penyebab penutupan itu karena kehadiran koperasi merah putih. Bagaimana pelacakan yang Anda lakukan?
Sekali lagi saya sampaikan, negara harus hadir untuk rakyatnya. Konsumen, masyarakat, akademisi, dan media juga rakyat. Dalam mengambil keputusan harus adil. Bukan berarti yang banyak harus dikurangi dan yang sedikit ditambah, itu tidak akademis, tidak substantif caranya.
Sekarang zaman sudah maju, sudah serba digital. Yang harus dilakukan menurut saya adalah sinergi dan kolaborasi. Sudah tidak zamannya berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri tidak kuat. Saatnya kita sebangsa, setanah air saling merangkul. Inilah yang sesuai dengan Pancasila.
Saya lihat ada perbedaan tafsir terhadap kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan ritel modern. Karena tentu kita sudah tahu beritanya, bahwa kehadiran KDMP harus lebih unggul daripada ritel modern. Menurut kami pelaku usaha, ini tidak didetailkan. Dan kami tidak pernah diajak bicara soal ini.

Dalam polemik penutupan ritel modern di NTB, menurut Ketua AGRA Roy Nicholas Mandey pemerintah harus hadir untuk bisa melindungi semua kalangan. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Jadi KDMP bisa bermitra dengan ritel modern?
Ya, produk dari petani dan nelayan bisa masuk ke ritel modern melalui jaringan yang sudah ada. Koperasi tidak bisa melakukan hal itu karena jangkauannya hanya di wilayahnya saja. Kalau sinergi ini yang terjadi, akan lebih powerful.
Ritel modern memiliki jaringan ke produsen karena pembeliannya dalam partai besar. Ini bisa dimanfaatkan untuk jalur supply chain atau distribusi guna memasok barang yang ada di KDMP. Kalau mereka beli sendiri, harganya pasti lebih mahal. Jadi, ritel modern bisa menjadi "orang tua" bagi KDMP yang baru lahir. Fakta yang kami lihat di beberapa daerah, bangunan KDMP sudah jadi tetapi masih ditutup karena barangnya belum ada. Jadi, kesiapannya belum ada.
Jadi sekali lagi, bukannya melarang atau menghadang, tetapi bagaimana mengorkestrasikan semuanya agar terjadi sebuah konser yang baik dan bagus. Nah, siapa orkestratornya? Ya, pemerintah.
Sejumlah karyawan ritel modern sudah berunjuk rasa. Apa yang dilakukan asosiasi untuk membantu mereka?
Asosiasi sifatnya memfasilitasi koordinasi kepada pemerintah. Tetapi, keputusan tetap ada di masing-masing korporasi. Ketika ada demo, ini kan aspirasi dari mereka. Ya, mestinya didengarkan oleh pemerintah. Harus ada jalan keluar dari pemerintah.
Selama ini narasi yang berkembang menyebutkan ritel modern menggerus warung kelontong, apa respons Anda?
Itu bukan kondisi yang general. Pasalnya, ada beberapa daerah yang berhasil mengondusifkan hubungan antara warung, pasar rakyat, dan ritel modern. Namun, ada juga daerah yang tidak punya konsep, sehingga—ya mohon maaf—akhirnya membuat jarak antara ritel modern dengan pasar rakyat, pasar tradisional, atau warung.
Sekarang faktanya, apakah kita bisa melawan belanja daring (online) atau e-commerce? Baik yang dimiliki anak bangsa maupun investor dari luar yang menjadikan Indonesia sebagai pasarnya (market). Apakah itu tidak menggerus warung? Jumlahnya sangat signifikan.
Kami pun merasakan dampak itu karena kami berbasis toko fisik (physical store). Artinya, kami juga terus berbenah dengan menyediakan aplikasi, itu jalan keluarnya. Sekarang bagaimana dengan warung dan pasar? Ini yang harus dibantu oleh pemerintah dan pemerintah daerah melalui dinas perdagangan. Misalnya, dengan membentuk aplikasi bersama.
Di Jabodetabek ada fenomena Warung Madura yang pertumbuhannya masif dan besar, bagaimana Anda melihat ini?
Kami menghormati keberadaannya. Mereka punya pasar sendiri, jadi kami tidak merasa tersaingi. Biasanya mereka ada di pinggir jalan utama dan buka 24 jam. Justru kami membuka diri untuk bisa diorkestrasi oleh pemerintah supaya terjadi hubungan yang dinamis dan saling menguntungkan.
Saya curiga ada pihak yang menciptakan kekisruhan dan sengaja membangun suatu dikotomi. Seolah-olah ini adalah rakyat dan ini adalah korporasi; ini adalah ekonomi lemah dan ini adalah konglomerasi. Dugaan saya, ada yang sedang memancing di air keruh.
BACA JUGA:
Jadi Warung Madura bukan ancaman bagi ritel modern?
Tidak. Misalkan saat saya pulang malam dan mau beli air minum, ya saya ke Warung Madura. Ada ritel modern yang buka 24 jam tetapi kan terbatas, zonanya sudah jelas, dan tidak semua wilayah ada.
Di Sumatra Barat ritel modern tidak diizinkan masuk, dan Pemda memilih mendukung ritel lokal. Bagaimana Anda menganalisis model proteksionisme lokal seperti ini?
Kita lihat saja kondisi ritelnya, maju atau tidak? Karena di sana ada monopoli, ya. Ekspansinya sudah ke mana? Esensi bisnis adalah ekspansi. Ketika bisnis tidak ekspansi, bisnis tidak berkembang. Dengan adanya ekspansi, ada developing (pengembangan), ada pertumbuhan. Kalau tidak ada pengembangan, ya jadi begitu-begitu saja. Malah bukan tumbuh, sering kali justru turun. Penyerapan tenaga kerjanya bagaimana? Berapa besar kontribusi pajaknya? Dan seterusnya. Tren sekarang, masyarakat ingin mendapatkan barang yang bagus dengan harga terjangkau.
Ingat, kompetisi itu adalah tangga pertumbuhan. Jadi, jangan takut dengan kompetisi. Tanpa kompetisi tidak akan ada kreativitas, tidak ada pemikiran yang out of the box.
Pengusaha selalu meminta kepastian ketika mereka akan melakukan pengembangan usaha dan investasi. Kalau hal itu tidak ada, apa yang akan terjadi?
Ada dua poin yang selalu kami suarakan di berbagai kesempatan. Pertama, kemudahan untuk berusaha sehingga kita bisa berinvestasi, ekspansi, dan memberi dampak pada pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan pajak, serta pertumbuhan kapasitas produksi. Kedua, kepastian hukum atau regulasi.
Nah, ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan ketika kita berharap adanya pertumbuhan. Kecuali, kita memang tidak berharap pada pertumbuhan, melainkan pengurangan ekonomi.
Lalu yang penting juga adalah regulasi. Regulasi dibuat untuk pelaku usaha dan masyarakat. Sering kali pemerintah membuat regulasi tanpa mengajak bicara pelaku usaha.
Soal regulasi ritel modern, apakah mereka hanya boleh di jalan utama saja atau bisa masuk ke gang?
Ada regulasinya dari Peraturan Menteri Perdagangan, tetapi aturan itu sudah lawas. Mestinya ini diperbarui. Sekarang e-commerce sudah merajalela tanpa batas, sementara ritel modern dikebiri terus. Padahal sekarang pasar bebas. Diharapkan e-commerce ini juga ada kontribusi pajaknya.
Yang harus selalu diingat, tidak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri. Artinya, kalau tidak mengikuti perubahan atau tidak mau berubah akibat perubahan, cuma satu katanya: punah. Tergilas oleh perubahan.
Padahal kita ketahui, konsumsi rumah tangga dalam PDB itu menyumbang hampir sekitar 52 persen selama beberapa dekade, di luar pengeluaran pemerintah untuk ekspor, impor, dan investasi. Sederhananya, jika kita diam semua pun, dengan rakyat kita yang berjumlah 285 juta jiwa tetap makan dan minum, ekonomi pasti tumbuh sekitar 5 persen. Itu sudah menggerakkan ekonomi, nah tinggal dijaga saja kan.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kita kan sekitar 4,5 hingga 4,8 persen. Artinya, tanpa ada diskresi, tanpa ada mitigasi, tanpa ada pengaturan dan lain sebagainya, orang tetap akan makan dan minum. Sekarang bagaimana caranya agar sektor yang memberi kontribusi besar itu tidak tergerus. Itu poinnya.
Sebenarnya polemik ini tergantung dirigennya yang bisa mengorkestrasi elemen yang ada menjadi sebuah orkestra yang bagus, seperti yang Anda bilang tadi, kan?
Ya, semuanya; KDMP, warung kelontong, pasar tradisional, ritel modern, dan lain-lain bisa dikoordinir menjadi satu dalam sebuah ekosistem. Kami siap untuk berkolaborasi, cuma pemerintah yang belum bisa mensinergikan semuanya. Jangan sampai hadirnya yang satu justru membunuh yang lain. Ini yang perlu menjadi catatan penting.
Sisi Lain Roy Nicholas Mandey: Menjelajah Dunia, Menjemput Inspirasi Baru

Traveling bagi Roy Nicholas Mandey adalah wahana untuk refreshing dan mencari inspirasi dalam kancah bisnis yang ia geluti. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Ada satu hobi yang kerap dilakoni Roy Nicholas Mandey di luar kesibukannya sebagai seorang professional dan juga Ketua Afiliasi Global Retail Association (AGRA) yaitu traveling. Setelah traveling ia mendapat ide dan inspirasi baru.
“Traveling itu sesuatu yang menyenangkan. Kalau saya belum pernah menyambangi sebuah daerah, ini akan menjadi petualangan yang menantang. Kalau saya sudah pernah ke sana, tantangannya adalah bagaimana menemukan sisi lain yang belum saya temukan sebelumnya. Dan kalau traveling, networking saya bertambah,” katanya.
Belum lama berselang, Roy melakukan perjalanan ke Chongqing, Chengdu, dan Shanghai, China. “Saya ke China hampir dua pekan untuk menjajaki agar rempah Nusantara bisa masuk ke sana. Saat kunjungan itu cuacanya panas ekstrem, makanya muka saya agak merah,” lanjut Roy, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Rempah Nusantara.
Ternyata, lanjut Roy, ini adalah peluang besar karena banyak masakan China yang menggunakan rempah. Sedangkan rempah-rempah tidak bisa tumbuh subur di negara empat musim. “Di China ada hampir 120.000 restoran hotpot. Cengkeh, kayu manis, jahe, dan rempah-rempah lainnya amat dibutuhkan di sana untuk menghangatkan tubuh,” katanya.
Selain China, lanjut Roy, Uzbekistan dan Rusia juga membutuhkan rempah-rempah. “Selain itu, mereka juga membutuhkan kopi,” katanya.
Dengan traveling, ia bisa melihat potensi apa yang bisa kita bawa. “Dan syukur alhamdulillah, ada beberapa permintaan yang sudah berjalan. Nah, ini sekarang saya masih mau teruskan ke beberapa negara lainnya. Sembari jalan sekalian mengenalkan produk Indonesia,” lanjutnya.
Ketika situasi politik global sedang bergolak seperti sekarang, dampaknya juga terasa pada bisnis ritel. “Dampak yang utama adalah pasokan minyak, ya. Saat Selat Hormuz ditutup, pasokan minyak terhambat,” katanya sembari berharap perdamaian segera dicapai, meskipun Indonesia juga mendapat minyak dari Rusia, AS, dan Afrika.
Selain minyak, nafta yang menjadi bahan baku plastik juga masih berasal dari negara Timur Tengah. “Industri ritel amat membutuhkan plastik. Kami berharap adanya terobosan-terobosan untuk mencari pengganti plastik. Pemerintah harus hadir membantu pengusaha,” pintanya.
Miniatur Dunia di Rusia

Sebelum traveling, saran Roy Nicholas Mandey, rencanakan jauh-jauh hari agar bisa lebih hemat. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Roy Nicholas Mandey amat terkesan saat berkunjung ke Kaluga, Moskow. “Di sana ada miniatur worldwide, miniatur dunia. Jadi ada Rumah Indonesia, Rumah Sri Lanka. Di bawahnya itu ada UMKM-nya yang menyajikan produk atau apa pun yang bisa dijual,” katanya.
Menurut dia, konsep ini sangat bagus kalau bisa dikembangkan di Indonesia. “Kita bisa merasakan menginap di rumah tradisional dari negara lain,” lanjutnya.
Indonesia, kata Roy, punya banyak sekali potensi wisata, namun belum dikembangkan secara maksimal saja. “Tinggal bagaimana dipromosikan, karena tingkat pariwisata kita kan masih kalah dengan Malaysia. Padahal negara kita kan potensi wisatanya kaya,” tegasnya.
Tips Traveling ke Luar Negeri

Saat belanja di luar negeri kata Roy Nicholas Mandey, belilah barang yang benar-benar unik dan tak ada di Indonesia. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Sebelum ke luar negeri, harus jelas tujuannya; leisure (liburan) atau bisnis. “Makanya harus bikin perencanaan yang bagus. Kalau saya biasanya trip sembari bisnis. Tipsnya, bawalah uang secukupnya. Ingat, kalau belanja belilah barang yang unik dan tidak ada di Indonesia. Dan kalau belanja, jangan berlebihan dan vulgar agar tidak menjadi target kriminalitas,” ujarnya.
Pengalaman tak enak pernah ia alami saat berada di Turki. “Di sana ada juga kapak merah. Saya lihat sendiri mereka berkelompok sekitar enam orang memepet sebuah mobil untuk dirampok,” katanya mengingatkan untuk selalu waspada, karena di setiap negara selalu ada kriminalitas.
Untuk berbelanja, kalau bisa secara nontunai (cashless), itu akan lebih aman. “Sediakan saja sedikit uang tunai untuk tip,” lanjutnya. Traveling, kata Roy, akan lebih ringan biayanya kalau disiapkan jauh-jauh hari.
Dengan perencanaan yang baik, selesai traveling tidak akan pusing. “Jadi pulang traveling badan segar dan penuh dengan inspirasi baru,” tandas Roy Nicholas Mandey.
"Sekarang zaman sudah maju, sudah serba digital. Yang harus dilakukan menurut saya adalah sinergi dan kolaborasi. Sudah tidak zamannya berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri tidak kuat. Saatnya kita sebangsa, setanah air saling merangkul. Inilah yang sesuai dengan Pancasila."