JAKARTA - Suhu panas bukan hanya membuat orang lebih sering mencari pantai, kolam renang, sungai, atau laut. Air yang makin hangat juga bisa memberi ruang bagi sejumlah bakteri untuk berkembang.
Euronews dikutip Minggu, 2 Agustus, melaporkan, kenaikan suhu air meningkatkan risiko infeksi terkait air, seperti vibriosis, swimmer’s ear, gastroenteritis, serta beberapa infeksi kulit dan saluran kemih.
Swimmer’s ear adalah infeksi pada saluran telinga luar yang bisa muncul setelah air terperangkap di telinga. Gastroenteritis adalah infeksi atau peradangan pada lambung dan usus yang dapat menyebabkan diare, mual, atau muntah.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa atau ECDC memperingatkan, musim panas yang lebih panjang dan lebih panas membuat sejumlah bakteri mendapat kondisi yang makin cocok untuk tumbuh. Risiko itu terutama muncul di perairan pantai yang hangat dengan kadar garam rendah.
Meski begitu, risiko tertular infeksi tersebut tetap rendah. Para ahli menekankan, langkah pencegahan sederhana bisa menekan peluang infeksi saat jutaan orang pergi ke area pemandian untuk mendinginkan tubuh.
BACA JUGA:
Menurut ECDC, kenaikan suhu air, perubahan lingkungan, dan meningkatnya perjalanan selama musim panas ikut mengubah pola penyebaran beberapa penyakit menular di Eropa.
Salah satu yang paling disorot adalah vibriosis. Ini adalah infeksi akibat bakteri dari genus Vibrio. Bakteri ini secara alami terdapat di perairan pantai tertentu, terutama pada bulan-bulan terpanas.
Vibrio lebih mudah berkembang di wilayah dengan kadar garam rendah, seperti muara dan pertemuan sungai dengan laut. Bakteri ini juga dapat ditemukan pada kerang mentah atau kurang matang, terutama tiram.
Beberapa spesies, seperti Vibrio vulnificus, dikenal luas sebagai “bakteri pemakan daging”. Istilah itu muncul karena dalam kasus yang sangat jarang, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi berat pada jaringan tubuh.
Euronews menyebut, ECDC telah memperbarui peta interaktif untuk menunjukkan wilayah yang berisiko lebih tinggi, bergantung pada kondisi lingkungan.
Siapa pun bisa terkena infeksi. Namun, ECDC mencatat risiko penyakit berat lebih tinggi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, penyakit hati kronis, atau kondisi kesehatan lain.
Bagi kelompok tersebut, kehati-hatian saat berenang dan mengonsumsi makanan laut menjadi lebih penting.
Cara pencegahannya tidak rumit. ECDC menyarankan orang yang memiliki luka terbuka, luka sayat, lecet, atau tindikan baru menghindari kontak dengan air. Bakteri dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang rusak.
Jika tetap harus masuk ke air, luka perlu ditutup dengan perban yang benar-benar kedap air. Setelah keluar dari air, luka sayat atau lecet sebaiknya dicuci dengan air bersih.
Pencegahan juga perlu dilakukan dari makanan laut. Para ahli menyarankan masyarakat menghindari tiram dan kerang lain yang mentah atau kurang matang. Makanan laut sebaiknya dimasak sampai matang untuk membantu mencegah infeksi Vibrio.
ECDC menyoroti Laut Baltik dan sejumlah muara di Eropa sebagai wilayah dengan kondisi yang paling mendukung pertumbuhan Vibrio. Namun, badan itu juga mencatat pemanasan air yang terkait perubahan iklim memperluas wilayah tempat bakteri tersebut dapat berkembang.
Langkah sederhana tetap menjadi kuncinya. Hindari berenang saat memiliki luka terbuka, tutup luka dengan perban kedap air bila terpaksa masuk ke air, bersihkan luka setelah berenang, dan jangan makan kerang mentah atau kurang matang.