YOGYAKARTA - Intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika seseorang sulit mencerna laktosa. Laktosa sendiri adalah gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahan berbahan susu lainnya. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, namun membuat tidak nyaman setelah mengonsumsi produk berbahan susu. Lebih jelasnya, berikut akan dibahas apa itu intoleransi laktosa, gejala hingga faktor risiko mengalaminya.
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Dilansir dari Mayo Clinic, intoleransi laktosa adalah kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa karena kekurangan enzim laktase. Laktase adalah enzim yang diproduksi di usus halus dan berfungsi memecah laktosa menjadi gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa, sehingga mudah diserap oleh tubuh.
Seseorang dengan kadar laktase yang rendah biasanya tetap dapat mencerna produk susu. Namun ketika kadar laktase terlalu rendah, seseorang dapat mengalami intoleran laktosa.
Laktosa yang tidak dapat dicerna dengan baik di usus halus bergerak ke usus besar tanpa mengalami proses penyerapan sehingga menyebabkan gejala seperti diare, sering buang angin, dan perut kembung.
Intoleransi laktosa umumnya tidak berbahaya. Sebagian besar penderita intoleransi laktosa dapat mengatasi kondisi ini tanpa harus berhenti mengonsumsi semua makanan olahan susu.
BACA JUGA:
Gejala Intoleransi Laktosa
Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Intensitasnya bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jumlah laktase yang dimiliki. Semakin rendah kadar enzim tersebut, biasanya keluhan yang dirasakan juga semakin besar.
Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi:
- Mual, dan pada beberapa kasus disertai muntah.
- Nyeri perut.
- Perut kembung.
- Sering buang angin.
Penyebab Intoleransi Laktosa
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup enzim laktase di usus halus. Tanpa enzim ini, tubuh tidak mampu memecah laktosa menjadi bentuk yang lebih sederhana. Akibatnya, proses penyerapan nutrisi menjadi terganggu.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, laktase mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa agar bisa diserap tubuh. Namun jika produksinya tidak mencukupi, laktosa akan langsung masuk ke usus besar. Bakteri di usus besar kemudian berinteraksi dengan laktosa yang tidak tercerna, menyebabkan gejala intoleransi laktosa.
Faktor Risiko Intoleransi Laktosa
Dilansir dari laman yang sama, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami intoleransi laktosa, di antaranya:
- Bermbahnya usia: Intoleransi laktosa umumnya muncul pada orang dewasa. Kondisi ini jarang terjadi pada bayi dan anak-anak.
- Faktor etnis: Keturunan Asia, Afrika, Hispanik, dan penduduk asli Amerika cenderung lebih rentan.
- Lahir prematur: Bayi yang lahir prematur mungkin memiliki kadar laktase yang lebih rendah. Ini karena usus halus tidak mengembangkan sel penghasil laktase hingga akhir trimester ketiga.
- Penyakit pada usus halus: Masalah usus halus seperti celiac, Crohn, atau pertumbuhan bakteri berlebih dapat memengaruhi produksi laktase. Kondisi ini menyebabkan intoleransi laktosa.
- Pengobatan kanker tertentu: Terapi radiasi di area perut atau komplikasi dari kemoterapi dapat memengaruhi fungsi usus. Ini meningkatkan risiko terkena intoleransi laktosa.
Itulah sejumlah hal yang perlu Anda ketahui terkait intoleransi laktosa. Jika Anda sering mengalami diare, kembung, atau nyeri perut setelah mengonsumsi produk susu, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Dengan diagnosis yang tepat, Anda bisa mendapatkan saran pola makan yang lebih aman dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!