JAKARTA - Makanan kaleng memang praktis dan tahan lama. Namun, kaleng yang menggembung, retak, berkarat parah, atau penyok dalam bisa menjadi tanda bahaya.
The Mirror dikutip Jumat, 31 Juli, melaporkan, peringatan itu disampaikan Dr. Baibing Chen, ahli saraf bersertifikasi ganda yang dikenal di media sosial sebagai Dr. Bing. Ia menyebut makanan dari kaleng rusak sebagai salah satu makanan yang tidak akan ia konsumsi.
Dalam video yang dibagikan di TikTok dan Instagram, Dr. Bing mengungkap tiga makanan yang ia hindari sebagai ahli saraf. Salah satunya adalah makanan kaleng rusak.
Menurut Dr. Bing, goresan kecil pada kaleng tidak selalu menjadi masalah. Namun, kaleng yang menggembung, retak, atau penyok parah perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda kontaminasi botulinum.
“Jika sebuah kaleng menggembung, retak, atau penyok parah, itu tanda bahaya kontaminasi botulinum,” kata Dr. Bing.
Ia menjelaskan, bakteri tersebut menghasilkan toksin botulinum. Racun ini termasuk salah satu toksin paling kuat yang diketahui.
“Dalam jumlah kecil saja, racun ini dapat menghambat pelepasan asetilkolin di sambungan neuromuskular, yang berarti otak Anda tidak bisa memberi perintah kepada otot untuk bergerak,” ujarnya.
BACA JUGA:
Asetilkolin adalah zat kimia yang membantu saraf mengirim sinyal ke otot. Jika sinyal ini terganggu, otot bisa kehilangan kemampuan bergerak.
Dengan kata lain, toksin botulinum dapat mengganggu komunikasi antara otak dan otot. Dampaknya bisa sampai kelumpuhan, gangguan penglihatan, gagal napas, hingga kematian.
Risikonya makin sulit dikenali karena toksin botulinum tidak memiliki rasa dan bau. Makanan yang terkontaminasi bisa tetap terlihat, tercium, dan terasa biasa saja.
Dr. Bing juga mengingatkan, memanaskan makanan yang sudah terkontaminasi belum tentu cukup untuk menghancurkan racun tersebut. Jadi, anggapan bahwa memasak selalu membuat makanan aman tidak bisa dipakai sembarangan dalam kasus ini.
Menurut Dr. Bing, paparan toksin botulinum dapat menyebabkan kelumpuhan lemas, penglihatan kabur, gagal napas, bahkan kematian jika pasien tidak segera mendapat antitoksin.
Antitoksin adalah zat yang digunakan untuk menetralkan racun di dalam tubuh.
Botulisme adalah penyakit langka, tetapi bisa fatal. Penyakit ini disebabkan racun dari bakteri Clostridium botulinum.
Food Standards Agency atau FSA menjelaskan, botulisme bawaan makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang sudah mengandung racun tersebut. Kondisi ini paling sering terjadi karena makanan tidak dikalengkan, diawetkan, atau dimasak dengan benar selama proses produksi.
Bakteri tersebut tumbuh di lingkungan rendah oksigen. Kaleng yang tidak tersegel baik atau rusak dapat menciptakan kondisi bagi bakteri untuk berkembang.
Kaleng yang menggembung, misalnya, bisa menjadi tanda gas menumpuk di dalam akibat aktivitas bakteri.
FSA menyebut risiko botulisme dari makanan yang dibeli di Inggris tergolong rendah karena standar kebersihan pangan dan kontrol keamanan yang ketat. Namun, badan itu tetap meminta konsumen menghindari makanan dari kaleng yang menggembung, sangat berkarat, atau penyok dalam.
FSA juga menyarankan makanan tidak dikonsumsi jika kemasan diragukan, tanggal kedaluwarsa tidak jelas, atau produk tidak disimpan dengan benar. Makanan seperti itu sebaiknya dibuang dengan aman.
Selain makanan kaleng rusak, Dr. Bing juga menghindari ikan karang seperti kerapu dan barakuda. Menurut dia, ikan tersebut dapat membawa neurotoksin yang bisa menyebabkan kesemutan, pusing, mimpi buruk berulang, hingga neuropati kronis.
Neurotoksin adalah racun yang dapat mengganggu kerja saraf.
Dr. Bing juga berusaha menghindari daging babi yang kurang matang, terutama dari sumber yang tidak diawasi. Menurut Bing, makanan seperti itu kadang dapat memicu infeksi cacing pita yang menjadi salah satu penyebab utama epilepsi yang didapat di dunia.