Bagikan:

JAKARTA - Peternakan ayam industri mendorong penyebaran bakteri Campylobacter lebih dari 100 kali lipat, menurut studi University of Oxford. Bakteri penyebab diare itu mendapat semakin banyak peluang untuk menyebar ketika populasi ayam dunia melonjak menjadi sekitar 31 miliar ekor.

Euronews dikutip Rabu, 29 Juli, melaporkan, jumlah ayam global meningkat tujuh kali lipat sejak dekade 1960-an. Pertumbuhan itu mengubah peternakan unggas menjadi salah satu habitat hewan terbesar di dunia.

Kepadatan ayam dalam sistem peternakan intensif memberi bakteri lebih banyak peluang untuk masuk, menyebar, dan menetap di antara kawanan unggas. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko penyakit berpindah dari hewan ke manusia melalui rantai makanan.

Temuan itu berasal dari penelitian Ineos Oxford Institute for Antimicrobial Research. Para ilmuwan menganalisis sekitar 2.800 genom, yakni keseluruhan materi genetik bakteri, dari ayam dan burung liar di 30 negara selama 1979 hingga 2024.

Hasil penelitian menunjukkan bakteri yang sebelumnya banyak ditemukan pada burung liar kini memiliki peluang jauh lebih besar untuk masuk ke peternakan ayam. Setelah itu, bakteri dapat menyebar dan membentuk populasi yang menetap.

Sam Sheppard, penulis senior studi, mengatakan peternakan industri telah menciptakan salah satu habitat hewan terbesar di planet ini.

“Temuan kami memberikan bukti baru bahwa perubahan lingkungan yang didorong manusia dapat meningkatkan penyebaran penyakit menular,” kata Sheppard.

Burung menjadi tempat hidup alami berbagai patogen, yakni mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Perubahan besar dalam sistem peternakan dapat meningkatkan risiko zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.

Campylobacter menjadi perhatian karena termasuk empat penyebab utama penyakit diare di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Infeksinya umumnya ringan. Namun, penyakit ini dapat berakibat fatal pada anak kecil, orang lanjut usia, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Gejala yang paling umum meliputi diare, sakit perut, demam, sakit kepala, mual, dan muntah. Keluhan biasanya berlangsung selama tiga hingga enam hari.

Unggas merupakan sumber utama infeksi pada manusia. Studi tersebut memperkirakan 60 hingga 80 persen kasus berkaitan dengan galur atau kelompok bakteri Campylobacter yang berasal dari ayam.

Risikonya juga menyentuh efektivitas obat. Ketika beradaptasi dengan lingkungan peternakan, bakteri dapat memperoleh sifat yang membantunya bertahan dalam kondisi sulit.

Sebagian sifat itu berkaitan dengan resistansi antimikroba. Pada bakteri, kondisi ini terjadi ketika obat tidak lagi efektif membunuh atau menghambat pertumbuhannya.

“Ketika galur Campylobacter beradaptasi dengan kehidupan pada unggas, bakteri dapat memperoleh sifat yang membantunya bertahan, termasuk sifat yang terkait dengan resistansi antimikroba,” kata Oakem Kyne, penulis utama studi dari University of Oxford.

Resistansi antimikroba menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat mengurangi keampuhan pengobatan yang tersedia.

Kyne mengatakan pemahaman mengenai pengaruh praktik peternakan terhadap evolusi bakteri penting untuk mengurangi beban penyakit yang ditularkan melalui makanan.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+