JAKARTA - Tidak semua makanan ultra-proses otomatis buruk bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan mutu gizi dan susunan pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhitungkan.
Tiga contoh yang disebut masih bisa mendukung pola makan sehat ialah kacang kalengan, susu nabati, dan sereal sarapan yang diperkaya vitamin.
The Independent dikutip Rabu, 29 Juli, melaporkan, temuan itu berasal dari analisis terhadap lebih dari 200.000 orang dalam tiga studi besar di Amerika Serikat. Kebiasaan makan para peserta dipantau selama beberapa dekade, sejak 1980-an hingga 2020-an.
Peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan pola makan berbasis nabati. Kelompok itu mencakup makanan sehat ultra-proses, makanan sehat yang diolah minimal, makanan tidak sehat ultra-proses, serta makanan tidak sehat yang diolah minimal.
Susu dan yoghurt nabati masuk kelompok sehat ultra-proses. Buah segar dan kacang-kacangan masuk kelompok sehat yang diproses secara minimal.
Makanan cepat saji dan minuman bersoda digolongkan sebagai makanan tidak sehat ultra-proses. Sementara itu, jus buah, kentang, dan nasi putih masuk kelompok tidak sehat yang diproses secara minimal.
BACA JUGA:
Selama masa penelitian, 26.209 peserta mengalami penyakit kardiovaskular atau gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Sekitar 21.000 orang menderita diabetes tipe 2, sedangkan 55.493 orang meninggal dunia.
Hasil penelitian menunjukkan risiko kematian, diabetes, dan penyakit kardiovaskular berkaitan dengan kualitas pola makan secara keseluruhan. Mereka yang makan lebih sehat memiliki risiko lebih rendah, baik makanannya ultra-proses maupun hanya sedikit diproses.
Xiaowen Wang, peneliti pascadoktoral di Departemen Gizi Harvard TH Chan School of Public Health, mengatakan banyak makanan ultra-proses memang bermutu gizi rendah dan perlu dibatasi. Namun, proses pengolahan itu sendiri tidak selalu berbahaya.
“Pola makan nabati yang sehat, kaya biji-bijian utuh, buah, sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, dan minyak nabati sehat tetap bermanfaat meski mencakup beberapa makanan olahan,” kata Wang.
Menurut Wang, anjuran untuk menghindari seluruh makanan ultra-proses justru dapat menurunkan kualitas pola makan. Sebab, sejumlah produk ultra-proses tetap bermanfaat, sedangkan makanan yang hanya sedikit diproses belum tentu sehat.
Wang meminta masyarakat menilai mutu makanan secara keseluruhan, bukan hanya melihat tingkat pengolahannya. Pilihan sebaiknya diarahkan pada makanan padat gizi untuk membantu menurunkan risiko penyakit kronis.
Temuan ini dipresentasikan dalam Nutrition 2026, pertemuan utama American Society for Nutrition, pada 28 Juli.