JAKARTA - Aritmia adalah kondisi ketika irama jantung berdetak tidak normal bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari jantung berdebar, pusing, hingga pingsan. Dalam kasus tertentu, aritmia juga dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, bahkan kematian mendadak. Menurut spesialis jantung dan pembuluh darah dari Eka Hospital MT Haryono, Evan Jim Gunawan, masih tak sedikit orang yang belum bisa membedakan antara berdebar yang normal dan yang merupakan tanda gangguan irama jantung. Ia menjelaskan bahwa tidak semua keluhan berdebar berbahaya. "Sekitar 30 persen pasien yang datang dengan keluhan berdebar ternyata mengalami kondisi yang masih normal atau dipicu oleh kecemasan, bukan karena aritmia,” ujarnya, dalam diskusi media, baru-baru ini. Ia menambahkan, salah satu cara membedakannya adalah dengan melihat pemicunya. Jantung berdebar yang wajar biasanya muncul setelah konsumsi kafein berlebihan, aktivitas fisik berat, atau saat emosi meningkat seperti stres, takut, atau panik. Kondisi tersebut umumnya akan mereda dengan sendirinya setelah pemicu hilang. Namun, jika berdebar muncul tanpa sebab yang jelas, berlangsung cukup lama, atau disertai gejala lain, maka perlu diwaspadai. "Kalau berdebar muncul tiba-tiba tanpa pemicu, berlangsung lama, atau disertai nyeri dada, sesak napas, hingga pingsan, ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem listrik jantung dan perlu diperiksa lebih lanjut,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga perlu mengenali faktor risiko aritmia, seperti usia lanjut, riwayat keluarga, hipertensi, diabetes, gangguan tiroid, sleep apnea, serta ketidakseimbangan elektrolit. Faktor-faktor ini dapat memengaruhi struktur dan fungsi jantung sehingga memicu gangguan irama. Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG), holter monitoring, maupun event recorder dapat dilakukan, terutama jika gejala muncul tidak secara terus-menerus. Deteksi dini menjadi kunci penting dalam penanganan aritmia. Salah satu metode terapi yang kini banyak digunakan adalah ablasi jantung, yaitu prosedur minimal invasif untuk memperbaiki jalur listrik jantung yang bermasalah tanpa operasi besar. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga dapat membantu pasien mengontrol irama jantung sehingga tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.BACA JUGA: