Bagikan:

JAKARTA - Sebuah studi terbaru menunjukkan stres akibat masalah finansial berpengaruh pada kesehatan jantung. Dampaknya tersebut sebanding, atau bahkan bisa lebih besar dibandingkan faktor risiko medis klasik.

Temuan ini menambah bukti kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh kolesterol atau tekanan darah, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi seseorang. Dikutip dari Mayo Clinic, pada Senin, 2 Februari 2026, penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 280 ribu orang dewasa.

Masalah finansial yang dimaksud itu mencakup biaya tagihan yang harus ditanggung, utang, tidak punya uang, krisis tabungan, biaya kesehatan yang semakin mahal, dan kestabilan tempat tinggal dapat menggangu tidur, membatasi akses makanan bergizi, serta mengurangi kesempatan berolahraga.

Peneliti tidak hanya melihat apakah peserta mengalami penyakit jantung, tetapi juga menilai apa yang disebut sebagai ‘usia kardiovaskular’, tentang seberapa tua kondisi jantung dan pembuluh darah seseorang secara biologis dibanding usia sebenarnya.

Hasilnya menunjukkan individu dengan tingkat stres finansial dan ketidakamanan pangan cenderung memiliki jantung yang menua lebih cepat. Hubungan ini tetap terlihat, meski peneliti sudah memperhitungkan faktor risiko medis seperti tekanan darah, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Pakar kesehatan, Dr. Leana Wen, mengatakan penuaan jantung merujuk pada perubahan struktur dan fungsi sistem kardiovaskular. Jika stres terus terjadi, seperti akibat finansial, maka dapat memicu kerusakan pada jantung.

“Jika terjadi dalam jangka panjang, respons stres ini menimbulkan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah, mirip dengan proses penuaan alami,” kata Wen.

Stres akibat finansial berbeda dengan stres sesaat, seperti tenggat pekerjaan atau masalah jangka pendek. Tekanan ekonomi cenderung bersifat kronis dan sulit dihindari, karena kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi tersebut saling memperkuat dan secara perlahan meningkatkan terjadinya penyakit jantung. Hubungan tekanan finansial dan penuaan jantung setara, bahkan dalam beberapa kasus lebih kuat, dibandingkan faktor risiko klinis seperti hipertensi atau diabetes.

“Ini bukan berarti stres finansial menggantikan faktor medis, tetapi menambah beban risiko,” tambahnya.

Dengan demikian, melalui hasil penelitian ini, para dokter didorong untuk memasukkan stres finansial sebagai bagian dari penilaian risiko kesehatan pasien.

Sekadar mengetahui bahwa tekanan finansial berdampak pada kesehatan sudah dapat meningkatkan kepercayaan dan kualitas perawatan. Tenaga medis juga dapat membantu dengan menyesuaikan rencana pengobatan atau menghubungkan pasien dengan pusat bantuan yang relevan.