Bagikan:

YOGYAKARTA - Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kulit tangan atau kaki jadi keriput setelah lama berendam di bak mandi atau kolam? Ternyata bukan sekadar efek sementara. Penelitian dari Binghamton University menunjukkan bahwa terlalu lama terendam air bisa merusak struktur dasar kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika kulit berada di dalam air sampai sekitar 12 jam, maka kemampuan kulit mempertahankan kelembapan dan elastisitasnya bisa menurun secara signifikan. Ini bukan hanya membuat kulit tampak kusam atau kaku, tapi juga bisa melemahkan fungsi pelindung kulit atau disebut mengalami maceration atau maserasi.

Apa itu maserasi atau kulit terlalu lembap?

Maserasi adalah kondisi di mana kulit menjadi terlalu lembap dan mulai mengalami pelunakan serta perubahan warna akibat paparan kelembapan terlalu lama. Kulit yang termacerasi biasanya tampak keriput, menjadi sangat lembut, bahkan berubah pucat atau putih kelebihan air. Proses ini bisa terjadi bukan hanya karena berendam lama. Bisa juga dialami saat memakai perban kedap udara, sarung tangan karet, atau kondisi kulit yang terus lembap karena cairan tubuh atau keringat.

Dalam banyak kasus, macerasi bisa hilang sendiri setelah kulit dibiarkan kering dan terkena udara terbuka. Namun jika terlalu lembap dalam waktu yang lama, kulit bisa kehilangan kekuatannya dan menjadi mudah rusak.

Risiko jika kulit terendam air atau dalam kondisi maserasi

Sebelum dibahas risikonya secara rinci, penting untuk memahami bahwa kulit kita sebenarnya bukan dirancang untuk terus-menerus “berendam” atau terpapar kelembapan tinggi dalam jangka panjang. Kulit yang terus lembap akan kehilangan keseimbangan alami air dan lipid pelindungnya, sehingga fungsi barrier kulit mulai terganggu. Dalam kondisi demikian, berikut ini risiko-risiko yang bisa muncul jika kulit Anda terlalu sering terendam atau terus lembap.

risiko kulit terendam air jangka waktu lama
Ilustrasi risiko kulit terendam air jangka waktu lama (Freepik)

1. Kulit jadi sangat lembut dan mudah rusak

Kulit yang terus terpapar air atau kelembapan berlebih bisa kehilangan kekuatan struktur sehingga menjadi sangat lembek dan rapuh. Karena lapisan kulit melemah, tekanan ringan atau gesekan saja bisa menyebabkan kulit lecet atau tergores. Mengutip Healthline, Rabu, 3 Desember, kulit yang lembek juga mudah terkelupas atau retak, apalagi jika area tersebut sering bergerak atau mendapat tekanan berat.

2. Fungsi pelindung kulit atau barrier melemah

Kulit sehat bekerja sebagai pelindung alami tubuh terhadap bakteri, jamur, iritan, dan polusi. Namun saat mengalami maserasi, fungsi barrier kulit ini bisa terganggu karena kelembapan membuat struktur kulit melemah. Lama terendam air, membuat kulit kehilangan “integritas” seperti itu tidak lagi mampu mencegah masuknya mikroorganisme atau iritan secara optimal.

Selain itu, kelembapan berlebih dalam waktu lama cenderung memperlambat regenerasi sel kulit dan menghambat pembaruan lapisan pelindung. Akibatnya, kulit menjadi rentan terhadap iritasi, infeksi, dan kerusakan jika terpapar lingkungan atau gesekan. Kondisi seperti ini terutama berisiko tinggi jika ada luka terbuka atau kulit sensitif.

risiko kulit terendam air jangka waktu lama
Ilustrasi risiko kulit terendam air jangka waktu lama (Freepik)

3. Luka kecil atau lecet sulit sembuh dengan baik

Jika kulit yang lembap atau termacerasi memiliki luka atau lecet kecil, proses penyembuhannya bisa terhambat. Karena kulit lembek dan terlalu lembap, area luka kemungkinan besar tetap basah. Kondisi ini tidak ideal untuk penyembuhan, sebab sel kulit baru sulit terbentuk dengan baik pada lingkungan lembap. Belum lagi Risiko terbentuknya jaringan parut atau kulit menebal bisa meningkat jika penyembuhan tidak sempurna.

4. Risiko infeksi meningkat

Kulit yang sudah termacerasi kehilangan kekuatan barrier alami sehingga bakteri dan jamur bisa lebih mudah menembus. Lingkungan lembap adalah ideal bagi mikroorganisme tumbuh, apalagi jika kulit sering lembap atau terdapat luka. Dalam kasus parah, infeksi bisa berkembang lebih jauh, menyebabkan peradangan, luka bernanah, atau bahkan infeksi menyeluruh bila sistem kekebalan lemah.

5. Ketidaknyamanan, iritasi, dan rasa sakit

Kulit yang lembap berkepanjangan sering terasa tidak nyaman. Gesekan antara kulit basah dengan pakaian atau benda lain bisa memicu iritasi, lecet, atau luka kecil. Bahkan tanpa luka, kulit bisa terasa tidak enak ketika disentuh atau ditekan karena strukturnya melemah.

Cara mencegah risiko maserasi

Setelah selesai mandi, berenang, atau aktivitas yang melibatkan air, segera keringkan kulit Anda dengan handuk secara lembut. Jangan digosok kasar agar tidak merusak lapisan kulit. Pastikan seluruh bagian kulit, terutama tangan dan kaki, benar-benar kering sebelum Anda memakai kaus kaki, sarung tangan, atau pakaian ketat.

Jika Anda menggunakan perban, sarung tangan kedap air, atau pelindung luka, usahakan menggantinya secara berkala agar tidak menciptakan lingkungan lembap terus-menerus. Hindari membiarkan luka kecil tetap basah terlalu lama. Biarkan udara membantu mengeringkan jika memungkinkan. Dan jika Anda melihat kulit mulai tampak lembek, pucat, atau ada luka yang susah sembuh, sebaiknya konsultasikan ke tenaga medis agar tidak berkembang menjadi infeksi serius.

Kulit Anda adalah garis pertahanan pertama tubuh terhadap lingkungan luar. Jika kulit terlalu lama terendam air atau terpapar kelembapan berkepanjangan bisa melemahkan pertahanan itu, membuat kulit lembek, rentan rusak, dan mudah terinfeksi. Risiko mulai dari iritasi ringan sampai infeksi serius dapat muncul jika tidak diwaspadai.