JAKARTA - Belakangan tengah viral di media sosial tren diet volume eating. Di Instagram, terdapat lebih dari 45 ribu unggahan terkait tren diet volume eating.
Dikutip dari New York Post, pada Sabtu, 4 Oktober 2025, metode diet volume eating sebenarnya bukan hal baru. Diet ini sudah diperkenalkan sejak 2000 oleh Profesor Barbara Rolls dari Pennsylvania State University, Amerika Serikat.
Diet ini berbeda dengan yang lainnya karena menekankan pada makan dalam jumlah banyak, tetapi tetap rendah kalori. Diet ini berfokus pada konsumsi makanan berkalori rendah, tetapi berukuran besar.
Pada umumnya, makanan tersebut kaya akan air, serat, atau bahkan mengandung udara sehingga membuat perut terasa kenyang lebih lama tanpa harus menambah kalori.
"Idenya ialah memenuhi perut dengan makanan rendah kalori secara alami sehingga ada lebih sedikit ruang untuk makanan yang bisa mengacaukan diet," kata seorang ahli gizi, Shyla Cadogan.
BACA JUGA:
Dalam volume eating, makanan dibagi menjadi dua kategori. Pertama, high-volume foods atau makanan yang boleh dimakan dalam jumlah banyak, seperti semangka, selada, jeruk, bayam, putih telur, hingga buah beri.
Kedua, low-volume foods, yakni makanan tinggi kalori yang harus dibatasi. Beberapa di antaranya ialah minyak, buah kering, madu, sirup maple, kacang-kacangan, hingga keju.
Jika dilakukan dengan benar, volume eating dapat membantu menurunkan berat badan. Makanan high-volume yang kaya serat akan membuat kenyang lebih lama sehingga mengurangi kemungkinan makan berlebih yang bisa menambah berat badan.
Tak hanya itu, volume eating juga membantu seseorang untuk mengonsumsi sayur dan buah dengan lebih banyak. Ini memaksa seseorang untuk menerapkan makan sehat sehingga makanan cepat saji dapat berkurang.
Meski demikian, bukan berarti volume eating tidak memiliki risiko. Ada kemungkinan gangguan pencernaan karena dengan volume eating, tubuh biasanya mengonsumsi banyak serat.
"Makanan high-volume sering kali tinggi serat. Kalau terlalu banyak, bisa menyebabkan kembung, gangguan pencernaan, bahkan kekurangan mikronutrien tertentu," tuturnya.
Karena itu, penting untuk tetap menyisipkan makanan berkalori tinggi, selama porsinya wajar dan tidak menjadi menu utama makanan saat menerapkan volume eating.
"Menambahkan sedikit minyak zaitun, atau bumbu ke makanan tetap bisa masuk ke dalam volume eating," kata Shyla.