Bagikan:

JAKARTA – Kita seringkali menganggap keselamatan kerja sebagai urusan perusahaan atau regulasi semata. Padahal, bagi jutaan pekerja Indonesia, keselamatan kerja adalah soal pulang ke rumah dengan selamat, tetap sehat, dan bisa melanjutkan hidup tanpa trauma.

Di tengah dinamika dunia kerja yang makin kompleks, dari pabrik hingga meja kantor, risiko kecelakaan atau penyakit akibat kerja tetap mengintai.

Inilah yang mendorong pentingnya membangun kesadaran bersama keselamatan kerja bukan cuma kewajiban perusahaan, tapi investasi jangka panjang bagi kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group, menggarisbawahi pendekatan terhadap keselamatan kerja sudah harus bergeser.

"Kita enggak bisa lagi melihat penanganan kecelakaan sebagai respons medis semata. Yang dibutuhkan pekerja itu akses cepat, edukasi yang benar, dan perhatian menyeluruh, termasuk kesehatan mental,” ujarnya saat ditemui dalam acara penandatanganan MoU antara Primaya Hospital Group dan BPJS Ketenagakerjaan, di Bekasi, belum lama ini.

Kerja sama tersebut menandai langkah besar dalam memperluas perlindungan tenaga kerja, tak hanya lewat layanan gawat darurat atau penanganan trauma, tapi juga melalui edukasi pencegahan yang menyentuh langsung ke tempat kerja.

Edukasi kesehatan dan keselamatan kerja ke masyarakat

Alih-alih menunggu sakit dulu, pendekatan yang kini didorong adalah edukasi langsung ke lapangan. Tim medis rumah sakit, bersama BPJS Ketenagakerjaan, secara aktif turun ke perusahaan-perusahaan dengan tingkat klaim tinggi.

Mereka tak hanya berbagi soal pertolongan pertama atau cara angkat beban yang aman, tapi juga mengajarkan hal sederhana seperti postur duduk yang baik dan manajemen stres.

“Biaya akan jauh lebih ringan jika kita tahu lebih dulu. Makanya kami mendorong budaya deteksi dini. Ini bukan cuma hemat, tapi menyelamatkan banyak aspek kehidupan,” tambah Leona.

Yang menarik, akses ke layanan gawat darurat dan trauma ini tak hanya terbatas bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Di samping itu, upaya digitalisasi juga sedang dipercepat untuk membuat proses klaim dan administrasi lebih efisien dan ramah pekerja.

Leona A. Karnali selaku CEO Primaya Hospital Group
Leona A. Karnali selaku CEO Primaya Hospital Group. (Dinno/VOI)

Kesehatan mental pekerja

Di tengah tekanan kerja yang tinggi, burnout dan gangguan psikologis kerap kali dianggap sepele. Dalam program ini, para pekerja juga mendapatkan akses ke pendampingan psikologis, karena kesehatan mental tak kalah penting dari luka fisik.

"Kadang yang paling sakit itu enggak kelihatan. Kita ingin pekerja merasa didengar dan punya tempat untuk pulih,” ujar Leona dengan empati.

Pada akhirnya, keselamatan kerja bukan hanya soal statistik atau regulasi. Ini soal bagaimana kita menciptakan ruang kerja yang manusiawi tempat di mana pekerja merasa aman, dihargai, dan dilindungi.

"Pekerja yang merasa aman akan bekerja dengan lebih baik. Itu bukan sekadar teori, tapi kenyataan,” tutup Leona.