Bagikan:

JAKARTA - Depresi bukan sekadar rasa sedih biasa. Ini adalah kondisi kesehatan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menjalani hidup sehari-hari.

Sayangnya, masih banyak stigma yang melekat pada penderita depresi, membuat mereka enggan mencari bantuan. Padahal, depresi adalah kondisi medis yang dapat dialami siapa saja, dan bukanlah hal yang memalukan.

Kesadaran masyarakat tentang pentingnya penanganan depresi secara tepat menjadi kunci dalam mendukung pemulihan para penyintas.

Psikiater dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ(K), lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menegaskan bahwa penderita depresi tidak seharusnya dipandang sebelah mata.

"Kita harus menyampaikan bahwa depresi bukan sesuatu yang tabu. Ini bisa dialami siapa saja dan bukan aib,” ucap Adhi dalam sebuah diskusi mengenai kesehatan mental di Jakarta.

Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan terdekat dalam mendukung proses pemulihan. Salah satu bentuk dukungan yang bisa diberikan adalah dengan mengingatkan penderita agar tidak menyakiti diri sendiri dan segera mencari bantuan profesional.

Mengenai akses pengobatan, Adhi menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir soal biaya. Layanan kesehatan jiwa kini dapat diakses melalui BPJS Kesehatan.

“Kalau tidak punya uang, manfaatkan BPJS. Pemerintah sudah menanggung biaya pengobatan mulai dari obat anti-depresi hingga anti-cemas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Adhi menyebutkan bahwa depresi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Ia menjelaskan adanya tiga gejala utama atau trias depresi, yaitu kehilangan minat dan kesenangan, kelelahan secara fisik dan psikis, serta perasaan murung berkepanjangan seperti kesedihan mendalam, menangis tanpa sebab, atau rasa hampa.

“Kalau tiga gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu, kemungkinan besar itu sudah masuk kategori depresi,” tambahnya.

Selain gejala utama, depresi juga sering disertai dengan gangguan tidur, perubahan nafsu makan (baik berlebih atau menurun drastis), serta masalah seksual.

Adhi juga mengingatkan tentang kondisi treatment-resistant depression (TRD) atau depresi yang tidak merespons pengobatan standar. Menurutnya, TRD cenderung berlangsung lebih lama, tiga kali lebih sulit disembuhkan, dan memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi dibanding depresi biasa.

"Yang lebih mengkhawatirkan, risiko bunuh diri pada penderita TRD bisa tujuh kali lebih tinggi,” ujar Adhi, yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.