Bagikan:

JAKARTA - Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan infeksi serius yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani, HIV bisa berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), tahap akhir dari infeksi yang membuat tubuh rentan terhadap berbagai penyakit berat.

Meski gejala awal HIV mirip antara pria dan wanita, perempuan dapat mengalami tanda-tanda yang lebih spesifik seiring waktu. Mengenali gejala-gejala ini sejak dini sangat penting untuk penanganan yang lebih efektif.

Dilansir dari laman Health, pada tahap awal, gejala HIV sering kali menyerupai flu biasa. Dalam 2–4 minggu setelah terpapar virus, sebagian besar orang mengalami demam, menggigil, kelelahan ekstrem, nyeri otot, radang tenggorokan, ruam, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Meski tampak ringan, gejala ini adalah reaksi alami tubuh terhadap infeksi HIV. Jika Anda merasa pernah berisiko tertular HIV dan mengalami gejala-gejala ini, segera lakukan tes darah untuk memastikan.

Seiring berjalannya waktu, wanita dengan HIV bisa mengalami perubahan signifikan dalam tubuhnya. Beberapa tanda khusus yang perlu diwaspadai antara lain:

1. Gangguan Siklus Menstruasi

Perempuan dengan HIV bisa mengalami menstruasi yang tidak teratur, perdarahan yang lebih banyak atau sangat sedikit, bahkan tidak menstruasi sama sekali.

Selain itu, gejala PMS bisa jadi lebih parah, seperti sakit punggung, perut kembung, kram hebat, sakit kepala, payudara nyeri, dan gangguan tidur

2. Infeksi Vagina yang Berulang

Infeksi jamur pada vagina (vaginal yeast infection) lebih sering terjadi pada penderita HIV, terutama jika sistem kekebalan tubuh melemah. Gejalanya meliputi gatal, nyeri saat buang air kecil, dan keputihan berlebih.

3. Menopause Dini

HIV dapat menyebabkan wanita mengalami menopause lebih awal dari biasanya. Gejala seperti hot flashes (sensasi panas tiba-tiba), keringat malam, gangguan tidur bisa muncul lebih cepat dan lebih berat dibandingkan wanita tanpa HIV.

4. Penurunan Kepadatan Tulang

Studi menunjukkan wanita dengan HIV mengalami pengeroposan tulang lebih cepat, terutama setelah menopause. Hal ini meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang.

5. Risiko Lebih Tinggi Terhadap Penyakit Tertentu

Perempuan dengan HIV juga lebih rentan terhadap kanker serviks (terkait dengan infeksi HPV), penyakit jantung, hepatitis, infeksi menular seksual (IMS) lainnya seperti herpes dan penyakit radang panggul.

Semakin cepat HIV diketahui, semakin besar peluang untuk menekan virus dan mencegah komplikasi. Terapi antiretroviral (ART) memungkinkan penderita HIV untuk hidup sehat dan menurunkan risiko penularan secara signifikan.

Bahkan, perempuan dengan HIV tetap bisa menjalani kehamilan sehat dan mencegah penularan virus kepada bayinya jika melakukan pengobatan dan kontrol medis secara teratur.

Segera periksakan diri jika:

- Anda mengalami gejala flu yang tidak biasa dan merasa pernah berisiko tertular HIV

- Siklus menstruasi berubah drastis tanpa sebab jelas

- Mengalami infeksi vagina berulang atau infeksi lain yang sulit sembuh

- Merasa tubuh lebih lemah atau lebih mudah sakit dari biasanya

Satu-satunya cara untuk memastikan status HIV adalah dengan tes darah. Jangan tunggu sampai terlambat. HIV yang tidak terdeteksi bisa berkembang diam-diam selama bertahun-tahun.

Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Praktik seks aman seperti penggunaan kondom, pemeriksaan IMS secara rutin, dan tidak berbagi jarum suntik dapat menurunkan risiko penularan HIV secara signifikan.