Bagikan:

YOGYAKARTA - Di era digital ini, salah satunya yang mencuat adalah FOPO. Menjadi fenomena yang tidak hanya mempengaruhi cara manusia berinteraksi di media sosial, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan nyata, lantas, apa itu FOPO?

Yang lebih mengkhawatirkan, ternyata FOPO juga dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental. Artikel ini akan membahas fenomena tersebut, cikal bakal, dan pengaruhnya pada masyarakat.

Apa Itu FOPO?

Fenomena FOPO, atau Fear of Other People's Opinions, menjadi sorotan di masyarakat Indonesia. Ketakutan akan pendapat orang lain ini dapat mengganggu kualitas hidup seseorang jika terus-menerus dialami.

Dilansir dari laman UGM, psikolog UGM, T. Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa FOPO telah menjadi fenomena yang semakin meningkat di masyarakat.

Penggunaan media sosial turut memicu munculnya FOPO, di mana pendapat dan citra diri seseorang menjadi lebih terbuka. Meskipun demikian, ada individu yang memang sejak lama memiliki kecenderungan untuk khawatir terhadap penilaian orang lain.

Novi menjelaskan bahwa budaya dan pendidikan di Indonesia berperan dalam pembentukan FOPO. Budaya feodalisme dan konformitas yang masih kuat di masyarakat juga berkontribusi terhadap munculnya fenomena ini.

Selain itu, kistem pendidikan yang cenderung menyeragamkan individu juga berperan dalam membentuk mentalitas yang lebih mengutamakan pendapat orang lain daripada diri sendiri.

Baca juga artikel yang membahas Karakteristik Pelaku Child Grooming dan Karakter Anak yang Jadi Incaran

Kemudian media sosial, dengan pembentukan citra dan perspektifnya, memperparah kondisi ini. Diskursus mengenai parameter kesuksesan di kalangan anak muda memicu perbandingan diri dan perasaan insecure ketika hidup tidak sesuai dengan ekspektasi umum.

Dengan demikian, FOPO terjadi akibat kurangnya kesadaran akan identitas diri. Pada masa remaja, pengenalan diri menjadi krusial. Jika individu diberikan ruang untuk mengenal diri, maka kesadaran diri akan terbentuk dan identitas diri dapat berkembang dengan baik.

Bagaimana Cara Mencegah FOPO?

Untuk mencegah seseorang terjerat dalam FOPO, pendidikan di lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting. Penciptaan ekosistem pendidikan yang mendukung pertumbuhan rasa percaya diri pada anak-anak menjadi kunci.

Perlu diketahui, anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang kuat cenderung berkembang menjadi individu yang mandiri dan utuh. Sebaliknya, kurangnya rasa percaya diri dapat memicu timbulnya emosi negatif seperti rasa malu, cemas, khawatir, dan perasaan putus asa.

Energi kepercayaan diri yang positif dapat menjadi tameng terhadap kecemasan dan FOMO. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan lingkungan yang menghargai keunikan setiap individu.

Bagi mereka yang telah terlanjur mengalami FOPO dengan tingkat kecemasan yang belum terlalu parah, maka pendekatan kognitif melalui dialog dapat menjadi solusi.

Diskusi mengenai alasan di balik ketidakberanian dalam mengambil keputusan, serta konsekuensi dari keputusan tersebut, dapat membantu mengubah pola pikir dan perilaku seseorang.

Selain itu, meningkatkan aktivitas positif juga dapat membantu mengurangi kecemasan. Semakin banyak kegiatan positif yang dilakukan, semakin kecil kemungkinan seseorang terjerat dalam kecemasan.

Namun, jika FOPO telah mencapai tingkat yang parah hingga menimbulkan trauma, bantuan profesional dari psikolog atau konselor sangat diperlukan.

Selain apa itu fopo, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya!