Kandungan Gula pada Nasi Panas dan Dingin, Mana yang Menyehatkan?
YOGYAKARTA – Nasi jadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Sayangnya, mengonsumsi nasi berpotensi memicu peningkatan kadar gula dalam darah. Risiko tersebut semakin besar jika nasi disajikan dalam kondisi hangat. Di sisi lain, penderita diabetes yang perlu menghindari makanan pemicu naiknya gula darah bisa tetap makan nasi asal dalam kondisi dingin. Saran tersebut lantaran kandungan gula pada nasi panas dan dingin berbeda.
Kandungan Gula pada Nasi Panas dan Dingin
Hubungan antara peningkatan kadar gula setelah mengonsumsi nasi ada pada tinggi rendahnya indeks glikemik. Perlu diketahui, indeks glikemik adalah ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat mampu meningkatkan kadar gula darah seseorang.
Semakin tinggi indeks glikemik makanan, berarti tubuh akan semakin cepat mengolah apa yang dikonsumsinya dan hal itu akan memicu peningkatan kadar gula dalam darah.
Artinya, tinggi rendahnya kadar gula dalam darah karena makan nasi ditentukan oleh indeks glikemik. Nasi, dilansir dari situs resmi Fakultas Kedoktera (FK) Universitas Indonesia (UI), baik panas maupun dingin, mengandung jumlah kalori yang sama yakni 175 kkal/100 g.
Meski jumlah kalorinya sama, indeks glikemik nasi dingin dan nasi panas ternyata berbeda. Indeks glikemik nasi dingin ternyata lebih rendah. Sedangkan nasi panas punya indeks glikemik yang lebih tinggi.
Dalam tulisan di jurnal Journal of Nutrition College (2013), dijelaskan bahwa nasi yang mengalami penurunan suhu akan mengalami proses retrogradasi. Dengan begitu nasi dingin memiliki kadar pati resisten yang lebih rendah dibanding nasi panas yang baru matang.
Dilansir dari Healthline, pati resistan adalah jenis serat yang tak bisa dicerna oleh tubuh, namun serat tersebut akan difermentasikan oleh bakteri dalam usus. Pati yang terfermentasi akan menjadi prebiotik sehingga jadi makanan bagi bakteri baik tersebut.
Mengonsumsi makanan dengan kadar pati resisten tinggi disebut mampu membantu mengontrol kenaikan gula darah. Manfaat tersebut didapatkan karena mengonsumsi makanan yang mengandung pati yang telah teresisten mampu memperbaiki resisten insulin pada seseorang. Selain itu kandungan pati tersebut mampu memproduksi insulin.
Untuk mendapatkan manfaat nasi dingin secara maksimal, lakukan retrogradasi pada nasi dengan suhu 4°C dan disimpan selama 24 jam.
Meski nasi dingin mampu menjaga kadar gula dalam darah tetap seimbang, menjaga pola makan wajib diperhatikan. Pasalnya makan nasi dingin dengan porsi besar tetap berdampak pada gula darah. Hindari makan nasi dingin dengan lauk pauk yang berpotensi meningkatkan gula darah.
Jika ingin gula darah tetap normal, perbanyak makanan sayur dan buah. Penting pula untuk memperhatikan asupan protein dan gizi lainnya.
Itulah informasi terkait kandungan gula pada nasi panas dan dingin. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.