JAKARTA - Spirit bermusik adalah esensi dari sebuah band untuk tetap eksis dan bernyawa. Ketika band telah berusia puluhan tahun, semangat perlahan memudar dan itu rasanya wajar. Tapi GIGI tak ingin kehilangan arti.
Album Forever In The Air yang mengudara 8 Oktober lalu menjadi komitmen Armand, Budjana, Hendy dan Thomas untuk menjaga chemistry yang terjalin dalam beberapa dekade, meyakinkan kembali satu sama lain jika mereka masih punya visi yang sama, kali ini dengan JUNI Records sebagai rekan berkarya.
GIGI di usia 31 tahun akhirnya melepas album penuh lagi, berjarak 10 tahun dari album terdahulu, Live At Abbey. Armand dkk sepakat kembali menggarap album terbaru ini dengan gaya old-school lewat workshop, rekaman live dan memakai pita di Power Station, studio top di New York yang melahirkan karya Madonna, John Mayer hingga Lady Gaga.
Soal chemistry tak perlu diragukan lagi, GIGI jadi salah satu band senior paling solid. Kerja sama musikal dan jiwa mereka tertuang dalam 9 trek yang cukup berwarna dan menariknya, terasa lebih muda.
Di trek pertama, Jangan, GIGI menunjukkan pendekatan baru bagi yang menyegarkan. Beat drum dan riff gitar membuka album ini dengan mood yang bersemangat, membalut liriknya yang lebih kasual, seolah mereka punya ruang baru yang jauh lebih luas.
VOIR éGALEMENT:
Warna khas GIGI tetap terasa di single pertama album ini, Menari-nari. Pop rock yang easy listening, punya hook yang kuat dan mudah dinyanyikan jadi modal kuat lagu ini sebagai andalan untuk sing along dengan penonton.
Di beberapa trek ada progresi chord yang tak asing, memberi rasa familier beberapa single hits GIGI sebelumnya. Secara aransemen pun mereka dapat memaksimalkan kombinasi gitar, bass dan drum tanpa banyak polesan, tapi ajaibnya selalu terasa 'penuh'.
Setiap lagu membawa vibe dan pesannya sendiri, menggambarkan pengalaman hidup yang dilalui penulisnya. Ada energi rock yang kuat dan tak kenal takut di lagu Don't Stop, tapi ada juga bisikan lembut untuk dapat melalui hal berat dalam hidup lewat Terbitlah sebagai penutup album.
Forever In The Air pun menjadi sebuah karya yang monumental bagi GIGI. Semua bergerak ke arah yang sama, memainkan musik yang tak mengandalkan muscle memory belaka.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)