Partager:

DENPASAR - Sekitar 10 aktivis dan konsumen menggelar aksi damai di depan Plataran Ubud, Bali, Senin, 10 Agustus. Mereka mendesak salah satu kelompok usaha perhotelan ternama di Indonesia tersebut berkomitmen menggunakan telur dari ayam yang dipelihara tanpa sistem sangkar atau cage-free.

Dalam aksi tersebut, sejumlah sepeda motor kampanye berkeliling di sekitar kawasan hotel sambil membawa pesan yang menyerukan penghentian penggunaan telur dari ayam yang dipelihara dalam sangkar. Aktivis juga membagikan selebaran kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang berisi informasi mengenai persoalan kesejahteraan hewan dalam sistem produksi telur intensif.

Aksi itu merupakan bagian dari kampanye yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan di Bali. Para aktivis menggunakan sepeda motor untuk mendatangi hotel, pelaku usaha, dan konsumen secara langsung guna menyuarakan pentingnya penggunaan telur cage-free.

Kampanye tersebut menyoroti komitmen Plataran terhadap konsep pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab. Plataran selama ini dikenal memiliki portofolio hotel, resor, restoran, lokasi acara, serta berbagai bisnis hospitality di Indonesia dan Jepang dengan citra yang kuat pada aspek alam, konservasi, warisan budaya Indonesia, dan pariwisata bertanggung jawab.

Menurut para aktivis, prinsip keberlanjutan semestinya tidak hanya mencakup lingkungan, tetapi juga kesejahteraan hewan. Mereka menilai kelompok usaha hospitality dengan identitas lingkungan yang kuat seperti Plataran memiliki peluang untuk memberikan pengaruh lebih luas terhadap rantai pasok pangan di Indonesia melalui komitmen penggunaan telur cage-free.

"Kalau Plataran memiliki filosofi Indonesian hospitality with purpose, kami berharap tujuan tersebut juga mencakup kesejahteraan hewan yang berada di balik makanan yang disajikan," kata Campaign Lead Act for Farmed Animals, Elfha Shavira.

Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu ukuran sejauh mana konsep sustainable luxury diterapkan dalam praktik, termasuk hingga ke peternakan yang memasok kebutuhan dapur hotel dan restoran.

Industri telur di Indonesia hingga kini masih didominasi penggunaan sistem baterai atau battery cage. Dalam sistem tersebut, ayam petelur ditempatkan di dalam sangkar sepanjang siklus produksinya yang dapat berlangsung sekitar 63 pekan. Ruang gerak yang terbatas membuat ayam tidak leluasa melakukan perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap, bertelur di tempat yang sesuai, mandi debu, bertengger, dan berinteraksi dengan ayam lainnya.

Laporan European Food Safety Authority (EFSA) pada 2019 juga menyebutkan sistem kandang konvensional memiliki tingkat prevalensi Salmonella yang lebih tinggi dibandingkan sistem cage-free.

Sementara itu, penelitian Universitas Gadjah Mada menemukan adanya Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur yang dijual di supermarket dan berasal dari sistem peternakan berbasis sangkar skala kecil. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab serta penerapan regulasi keamanan pangan yang kuat dalam industri telur.

"Kami sudah menghubungi Plataran sejak 2024. Karena itu, kami berharap pertemuan dengan para pemangku kepentingan Plataran di kantor pusat mereka, ditambah berbagai upaya kampanye di Jakarta, dapat menghasilkan keputusan positif," ujar Elfha.

Namun, hingga saat ini, menurut dia, belum terdapat perkembangan terkait kebijakan Plataran untuk menggunakan telur cage-free.

Penelitian Centre for Animal Welfare and Ethics, School of Veterinary Science, The University of Queensland, menunjukkan bahwa ketika kesejahteraan hewan menjadi perhatian, masyarakat terdorong untuk meningkatkan kesehatan dan pemeliharaan hewan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sistem pemeliharaan merupakan faktor kedua yang paling berpengaruh setelah harga dalam menentukan pilihan konsumen terhadap telur.

Sebagai kelompok usaha yang beroperasi di Indonesia dan Jepang serta melayani pasar internasional, Elfha menilai Plataran perlu mengambil sikap terhadap persoalan kesejahteraan hewan tersebut.

"Peralihan menuju sistem cage-free di pasar global sudah menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Saat ini, 110 perusahaan di Indonesia telah menyatakan komitmen tersebut," katanya.

Menurut Elfha, citra Plataran sebagai perusahaan yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan semestinya juga mencakup aspek kesejahteraan hewan dan kesehatan masyarakat.

"Sudah saatnya Plataran menyelaraskan tindakan dengan nilai-nilai tersebut melalui komitmen penggunaan telur cage-free," ujarnya.

Melalui aksi damai tersebut, para aktivis dan konsumen berharap Plataran segera mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan hewan sekaligus menerapkan praktik bisnis yang lebih etis, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+