Partager:

JAKARTA - Perundingan Iran dengan Amerika Serikat guna mengakhiri eskalasi di Timur Tengah diwarnai ancaman Presiden Donald Trump yang menyebabkan negosiasi terhenti namun belum berakhir.

Swiss menjadi tuan rumah pertemuan dalam upaya mengakhiri eskalasi di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat, dengan mediator Pakistan serta Qatar atau Lake Lucerne Summit di Burgenstock Resort, Minggu (21/6).

Pertemuan digelar menyusul Nota Kesepahaman Islamabad yang terdiri dari 14 poin dan ditandatangani Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pekan lalu.

Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Dari pihak Iran ada Ketua Parlemen Mohammad Bagher Galibaf. Sementara Pakistan dipimpin oleh Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Qatar dipimpin oleh Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.

Dikutip dari CNN (22/6), pertemuan berfokus pada Selat Hormuz, senjata nuklir, situasi di Lebanon, serta struktur periode negosiasi 60 hari menurut seorang diplomat.

Sementara itu, Presiden Trump mengatakan AS mungkin akan "mengambil alih" Selat Hormuz jika tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Iran dan mengancam delegasi Iran yang sedang bernegosiasi di Swiss.

"Kami mungkin akan mengambil alih Selat itu, jika perlu," kata Presiden Trump selama panggilan telepon 20 menit dengan Fox News."Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut biaya," tandasnya.

Sebelumnya, media pemerintah Iran pada Hari Sabtu melaporkan komando militer negara itu mengatakan akan menutup Selat Hormuz karena dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon, dan AS "gagal menerapkan" klausul pertama dari perjanjian sementara untuk mengakhiri perang.

Dalam panggilan telepon dengan Fox News tampaknya mengancam akan melanjutkan pengeboman di Iran, serta delegasi Iran.

"Jika Anda menutupnya, Anda tidak akan memiliki negara," kata Presiden Trump.

"Anda bahkan tidak akan bisa kembali ke negara Anda," lanjutnya.

Setelahnya, media Pemerintah Iran melaporkan delegasi Tehran di Swiss mengajukan protes setalah ancaman Presiden Trump.

"Delegasi Iran telah mengajukan protes kepada pihak AS dan sekarang sedang mempertimbangkan pilihan untuk tanggapan yang tepat terhadap ancaman verbal Donald Trump baru-baru ini," tulis Press TV, saluran media Pemerintah di Iran di media sosial X.

Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam "keputusasaan" Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengancam delegasi Iran yang bernegosiasi di Swiss mengatakan AS mungkin akan "mengambil alih" Selat Hormuz jika tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Iran.

"Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa jika ancaman mereka benar-benar berhasil, mereka tidak akan mencapai tingkat keputusasaan seperti ini hari ini?" cuitnya pada Minggu malam dalam unggahan di X.

Ghalibaf juga memperingatkan militer Iran siap merespons jika diperlukan.

"Kami sama sekali tidak menganggap serius ancaman Amerika," jelasnya.

"Sebaiknya mereka berhati-hati dengan kata-kata mereka. Angkatan bersenjata kami siap memberi mereka respons dengan cara yang berbeda. Tidak peduli seberapa banyak mereka berbicara, kamilah yang akan bertindak," tegas Ghalibaf.

Sumber Iran yang berkomunikasi dengan delegasi di Swiss mengatakan kepada CNN, negosiasi Negeri Para Mullah dan Negeri Paman Sam terhenti tetapi belum berakhir.

Dialog jalur belakang sedang berlangsung untuk membuat pihak-pihak diplomatik kembali, tambah sumber tersebut.

Terpisah, seorang pajabat AS mengatakan negosiasi masih berlangsung dan mengharapkan delegasi untuk "bekerja sepanjang malam"

Wakil Presiden JD Vance dan delegasi AS telah "terlibat dalam pertemuan dan negosiasi terus-menerus," kata seorang diplomat senior AS yang terlibat dalam negosiasi tersebut kepada wartawan di Swiss.

"Pihak Iran masih berada di sini dan diskusi masih berlangsung. Kami memperkirakan akan terus bekerja sepanjang malam," lanjutnya.

Pejabat tersebut mengatakan topik diskusi termasuk mengklarifikasi pesan dari Iran tentang Selat Hormuz dan membangun mekanisme untuk memastikan jalur air utama tersebut tetap terbuka.

"Kami juga telah membahas mekanisme dekonflik dan penegakan gencatan senjata di Lebanon selatan," kata mereka.

Pejabat tersebut mengatakan telah ada diskusi yang kuat tentang "semua elemen kesepakatan nuklir" saat mereka berupaya membangun titik awal untuk pembicaraan teknis.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+