Partager:

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah menerapkan pola politik bernuansa strategi militer untuk memperkuat dominasinya di pemerintahan sekaligus mengikis pengaruh loyalis pemimpin sebelumnya. Sebagai mantan jenderal, Prabowo disebut memiliki mentalitas strategis yang tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menguasai medan tanpa bentrokan terbuka.

Pengamat hukum dan politik, Rikardus Moan Baga, menilai langkah-langkah ini bukan sekadar manuver politik biasa.

“Prabowo menjalankan operasi setingkat militer, strategi yang dikenal dengan menang tanpa bertempur. Dominasi ini dibangun lewat presisi, keheningan, dan penyusunan ulang kekuatan secara senyap,” dalam keteranganya, Selasa 12 Agustus.

Menurut Rikardus, tanda-tandanya terlihat dari upaya mengunci elite partai, menata ulang komposisi kekuasaan, serta memastikan TNI dan Polri bebas dari loyalitas lama. Semua itu dilakukan tanpa konfrontasi langsung dengan pemimpin terdahulu, yang tetap dijadikan patron simbolis meski perlahan dilemahkan dari dalam.

“Ini mirip operasi infiltrasi strategis—menyusup, menciptakan kekosongan pengaruh di pusat komando, lalu mencabut akarnya tanpa menjatuhkan figurnya,” jelasnya.

Ia mengibaratkan taktik ini seperti mengeringkan air di kolam alih-alih memukul ikan di dalamnya. Prabowo juga dinilai kerap menggunakan controlled surprise—efek kejut yang terukur—seperti membuka koalisi dengan mantan lawan tanpa sinyal awal, atau mengubah arah kebijakan secara mendadak namun terencana, sehingga lawan politik kesulitan membaca pergerakan.

Selain itu, Rikardus menilai Prabowo memanfaatkan strategi operasi psikologis untuk melemahkan kohesi kekuatan lama, melalui informasi ambigu, langkah tak terduga, dan simbol-simbol yang membingungkan. “Dengan cara ini, loyalis lama kehilangan arah tanpa merasa sedang diserang frontal,” katanya.

Strategi ini, menurut Rikardus, adalah bentuk political decoupling—memisahkan pengaruh seseorang dari sistem tanpa menyerang figurnya.

“Prabowo menerima figur-figur terkait pemimpin lama, tapi di saat yang sama membentuk blok kekuasaan mandiri yang beroperasi di orbitnya sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyebut adanya penggalangan teknokrat dan elite lintas poros untuk membentuk “kabinet bayangan” yang siap menjalankan agenda baru, sambil mempertahankan simbol lama demi menghindari resistensi.

“Dengan mengendalikan logistik, narasi, dan jaringan kekuasaan, pusat kendali kini bergeser ke Prabowo. Pemimpin lama tak lagi memegang kendali penuh, tapi juga tidak punya alasan formal untuk melawan,” jelasnya.

Bagi Rikardus, ini adalah tekanan pasif yang efektif. “Tidak ada benturan besar, tapi pengaruh lama terkikis hingga hilang pijakan. Inilah seni berpolitik dengan disiplin militer—kemenangan yang lahir dari keheningan,” pungkasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+