JAKARTA - Presiden Donald Trump mengatakan pada Hari Kamis, Amerika Serikat Serikat semakin dekat untuk mengamankan kesepakatan nuklir dengan Iran, dan Teheran telah "semacam" menyetujui persyaratan tersebut.
"Kami sedang dalam negosiasi yang sangat serius dengan Iran untuk perdamaian jangka panjang," kata Trump saat melakukan lawatan ke Teluk, menurut laporan AFP, seperti melansir Reuters 15 Mei.
"Kami semakin dekat untuk mungkin melakukan kesepakatan tanpa harus melakukan ini. Ada dua langkah untuk melakukan ini, ada langkah yang sangat, sangat baik dan ada langkah yang keras, tetapi saya tidak ingin melakukannya dengan cara kedua," katanya.
Seorang sumber Iran yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan, masih ada celah yang harus dijembatani dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya, pembicaraan antara negosiator Iran dan AS untuk menyelesaikan perselisihan mengenai program nuklir Teheran berakhir di Oman pada Hari Minggu dengan rencana negosiasi lebih lanjut, kata para pejabat, karena Teheran secara terbuka bersikeras untuk melanjutkan pengayaan uraniumnya.
Terpisah, Pemerintahan Presiden Trump memberi Iran proposal untuk kesepakatan nuklir selama putaran keempat negosiasi pada Hari Minggu, seorang pejabat AS dan dua sumber lain yang memiliki pengetahuan langsung tentang masalah tersebut mengatakan kepada Axios.
Meskipun Teheran dan Washington sama-sama mengatakan mereka lebih suka diplomasi untuk menyelesaikan perselisihan nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun, mereka tetap terbagi dalam beberapa garis merah yang harus dielakkan oleh para negosiator untuk mencapai kesepakatan baru dan mencegah aksi militer di masa mendatang.
Presiden Iran bereaksi terhadap komentar Presiden Trump pada Hari Selasa di mana ia menyebut Teheran sebagai "kekuatan paling merusak" di Timur Tengah.
"Trump berpikir ia dapat memberikan sanksi dan mengancam kita dan kemudian berbicara tentang hak asasi manusia. Semua kejahatan dan ketidakstabilan regional disebabkan oleh mereka (Amerika Serikat)," kata Presiden Masoud Pezeshkian.
"Ia ingin menciptakan ketidakstabilan di dalam Iran," tambahnya.
Namun, dalam wawancara dengan NBC News yang dipublikasikan pada Hari Rabu, seorang pejabat Iran mengatakan negara itu bersedia menyetujui kesepakatan dengan AS sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi.
Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan Iran akan berkomitmen untuk tidak pernah membuat senjata nuklir dan membuang persediaan uranium yang sangat diperkaya, setuju untuk memperkaya uranium hanya pada tingkat yang lebih rendah yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil dan mengizinkan inspektur internasional untuk mengawasi proses tersebut, NBC melaporkan.
Pejabat AS sendiri telah menyatakan secara terbukan, Iran harus menghentikan pengayaan uranium, sikap yang oleh pejabat Iran disebut sebagai "garis merah" yang menegaskan mereka tidak akan menyerahkan apa yang mereka pandang sebagai hak mereka untuk memperkaya uranium di tanah Iran.
Namun, mereka telah menunjukkan kesediaan untuk mengurangi tingkat pengayaan.
Pejabat Iran juga telah menyatakan kesiapan untuk mengurangi jumlah uranium yang sangat diperkaya dalam penyimpanan—uranium yang diperkaya melampaui tingkat yang biasanya dibutuhkan untuk keperluan sipil, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir.
VOIR éGALEMENT:
Namun, mereka mengatakan tidak akan menerima stok yang lebih rendah dari jumlah yang disetujui dalam kesepakatan dengan kekuatan dunia dalam Kesepakatan Nuklir 2015, termasuk Amerika Serikat, yang belakangan ditinggalkan Presiden Trump pada tahun 2018.
Sumber Iran mengatakan, meskipun Iran siap menawarkan apa yang dianggapnya sebagai konsesi, "masalahnya adalah Amerika tidak bersedia mencabut sanksi besar sebagai gantinya."
Mengenai pengurangan uranium yang diperkaya dalam penyimpanan, sumber tersebut mencatat: "Teheran juga menginginkannya dihilangkan dalam beberapa tahap, yang juga tidak disetujui Amerika."
Ada juga ketidaksepakatan mengenai tujuan pengiriman uranium yang sangat diperkaya tersebut, sumber tersebut menambahkan.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)