Partager:

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana menggalakkan kembali operasi tangkap tangan (OTT). Upaya penindakan ini diharap bisa sekaligus memperbaiki sistem.

Hal ini disampaikan Juru Bicara KPK Tessa Mahardhika saat disinggung operasi senyap yang baru sekali dilaksanakan di era kepemimpinan Setyo Budiyanto dkk. Katanya, ke depan kegiatan serupa bisa saja dilakukan jika memang dibutuhkan.

Adapun OTT pertama ini menyasar Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) pada Sabtu, 15 Maret. Enam orang kemudian jadi tersangka suap proyek di Dinas PUPR, yakni Nopriansyah selaku Kepala Dinas PUPR Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU); Anggota DPRD OKU Sumsel yaitu Anggota Komisi III DPRD OKU Ferlan Juliansyah (FJ), Ketua Komisi III DPRD OKU M Fahrudin (MFR); Ketua Komisi II DPRD OKU Umi Hartati (UH); serta M. Fauzi alias Pablo (MFZ) dan Ahmad Sugeng Santoso (ASS) selaku pihak swasta.

“Kita tunggu saja karena Ketua KPK dalam hal ini, Bapak Setyo Budiyanto sudah berkomitmen untuk kembali menerapkan atau menggalakkan tangkap tangan,” kata Tessa dalam tayangan Instagram resmi KPK bertajuk ‘Tanya Jubir’ yang dikutip pada Kamis, 27 Maret.

Tessa mengatakan OTT harus dilihat bukan hanya sebagai bentuk menindak praktik lancung tapi juga pencegahan. “Dan perbaikan sistem apabila di satu lokasi itu memang diketahui ada penyimpangan dalam hal ini korupsi,” tegasnya.

“Jadi kita tunggu saja nanti ke depannya seperti apa,” sambung juru bicara berlatar belakang penyidik itu.

Meski begitu, Tessa menyebut KPK tentunya ingin supaya tak ada lagi tangkap tangan ke depannya. Namun, keinginan ini baru bisa tercapai jika tak ada praktik korupsi di tengah masyarakat.

“Saya pikir berimbang saja, kita harapkan ya, masyarakat sudah lebih baik, sistemnya sudah lebih baik sehingga secara logis tangkap tangan itu tidak ada karena memang tidak terjadi korupsi. Kita harapkan seperti itu ke depannya,” pungkasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)