Disebut Diktaktor Anti-Semit, Presiden Erdogan Sebut Netanyahu Ikuti Jejak Hitler
JAKARTA - Recep Tayyip Erdogan pada Hari Kamis menyebut Benjamin Netanyahu "mengikuti jejak Hitler", setelah Pemimpin Israel itu menyebut Presiden Turki sebagai "diktator anti-Semit" yang telah melakukan "genosida" terhadap Kurdi.
Hubungan antara Israel dan Turki telah memburuk sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, dengan kedua negara secara teratur saling tuding melakukan genosida dan penghinaan publik.
Pertukaran terbaru terjadi setelah Presiden Erdogan pada Hari Rabu mengatakan, tindakan Israel di Lebanon dan Suriah merupakan ancaman bagi keamanan Turki.
"Keamanan Turki tidak hanya dimulai di (provinsi paling selatan) Hatay, tetapi dimulai di Aleppo, di Damaskus, dan di Beirut," katanya, memperingatkan Turki "tidak akan mentolerir fait accompli apa pun di negara-negara tetangga kita" - yang dipahami sebagai Israel menciptakan realitas baru yang tidak dapat diubah di lapangan, melansir Al Arabiya dari AFP (12/6).
Netanyahu membalas, berjanji untuk melanjutkan aksi militer di mana pun diperlukan untuk mengatasi ancaman keamanan dari Iran dan proksinya.
"Diktator anti-Semit Erdogan, yang melakukan genosida terhadap Kurdi, mendukung organisasi teroris Hamas, menindas rakyatnya sendiri dan memenjarakan lawan politiknya, adalah orang terakhir yang dapat memberi ceramah kepada Israel tentang moralitas," katanya dalam sebuah pernyataan.
"Israel akan terus mengambil tindakan tegas terhadap Iran dan proksinya, yang mengancam Timur Tengah dan seluruh dunia," lanutnya.
Presiden Erdogan, yang sering menuduh Pemerintahan Netanyahu melakukan genosida di Gaza dan diplomat utamanya memperingatkan bahwa pemerintah mungkin akan melakukan hal yang sama di Lebanon, menjawab pada Hari Kamis.
"Mereka yang mengikuti jalan Hitler tidak boleh melupakan bahwa nasib mereka akan seperti para tiran lain dalam sejarah," katanya.
"Di bawah pemerintahan saat ini, Israel telah menjadi pabrik yang menghasilkan penderitaan, yang hanya didorong oleh darah dan air mata, dan tidak menghasilkan apa pun selain ketidakstabilan dan kekacauan," ujarnya, seraya berjanji untuk "memastikan para pelaku pembantaian tersebut dimintai pertanggungjawaban."
Israel telah membombardir Lebanon selatan sejak milisi Hizbullah mulai menembakkan rudal ke utara Israel pada 2 Maret, menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah.
Meskipun sempat berhenti sejenak karena gencatan senjata April, pertempuran terus berlanjut meskipun ada pembicaraan yang sedang berlangsung di Washington untuk mengakhiri kekerasan.
Israel juga aktif di Suriah, melancarkan ratusan serangan dan serangan rutin ke selatan, di mana mereka menuntut zona demiliterisasi.
Sementara, Turki telah berupaya mengakhiri konfliknya dengan kelompok militan Kurdi PKK, yang tahun lalu melepaskan perjuangan bersenjatanya melawan Ankara setelah empat dekade kekerasan yang menewaskan sedikitnya 50.000 orang di kedua belah pihak.