Bantargebang Makin Krisis, Pramono Sebut Sudah Saatnya Warga Jakarta Wajib Pilah Sampah
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui kapasitas TPST Bantargebang semakin terbatas dalam menampung sampah dari Ibu Kota. Kondisi ini diperparah dengan insiden longsor yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sehingga menghambat pengelolaan sampah Jakarta.
Pramono menyebut, perubahan pola pengelolaan sampah harus segera dilakukan, salah satunya dengan mendorong masyarakat memilah sampah dari sumbernya.
Menurut dia, keterbatasan daya tampung Bantargebang membuat sistem open dumping atau penumpukan sampah tanpa pemilahan, dalam beberapa waktu ke depan, tidak lagi bisa dipertahankan.
"Memang kami segera akan mempersiapkan bagi warga Jakarta nantinya, mau tidak mau, suka tidak suka harus mulai terbiasa dengan memilah sampah. Karena memang pertama, keterbatasan Bantargebang tidak mungkin kemudian semua sampah itu dikelola seperti kemarin," kata Pramono di kawasan Monumen Nasional (Monas), Selasa, 17 Maret.
Pramono juga mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pemilahan sampah dalam kehidupan sehari-hari. Ia merinci empat kategori sampah yang perlu dipisahkan oleh warga. Pertama, sampah mudah terurai yang dapat diolah menjadi kompos.
"Kedua, sampah yang dapat didaur ulang, seperti plastik, kertas, dan logam, yang dapat disalurkan ke bank sampah. Ketiga, sampah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. Keempat, sampah residu yang tidak dapat diolah kembali," jelas Pramono.
Pramono berharap, langkah ini bisa menjadi kebiasaan baru warga untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di Jakarta.
VOIR éGALEMENT:
Pemprov DKI juga tengah menyiapkan regulasi daerah untuk memperkuat kebijakan tersebut. Aturan itu nantinya akan mengikat masyarakat dalam menerapkan pemilahan sampah untuk meningkatkan kualitas lingkungan.
"Kita segera sosialisasikan dan nanti akan ada pergub (peraturan gubernur) atau perda (peraturan daerah) yang mengaturnya itu supaya ada yang mengikat," tutur Pramono.
Di sisi hilir, Pemprov DKI bersama pemerintah pusat lewat BPI Danantara tengah menyiapkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Hal ini sebagai solusi mengurangi volume sampah Jakarta yang dikirim ke TPST Bantargebang.
Proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) ini akan dibangun di sekitar Bantargebang, Bekasi; kawasan Sunter, Jakarta Utara; dan Tunjungan, Jakarta Utara.
Selain itu, fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau refuse derived fuel (RDF) di Rorotan juga akan segera dioperasikan secara penuh.
“Kami juga akan mengoperasikan RDF Rorotan, dan sekarang ini sudah finalisasi untuk dilakukan bukan hanya commissioning, tapi operasi menyeluruh. Hanya memang sesuai dengan masukan saran masyarakat yang ada di Rorotan, kapasitasnya tidak seperti yang dilakukan dalam perencanaan awal," papar Pramono.
"Juga mengalami koreksi supaya tidak menimbulkan bau dan tidak menimbulkan dampak lingkungan bagi warga yang ada di sekitarnya," lanjutnya.