BI Optimistis Instrumen Aset Keuangan Indonesia Tetap Menarik

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis instrumen-instrumen aset keuangan Indonesia, seperti Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan Surat Repo Bank Indonesia (SRBI) tetap menarik lantaran memiliki fundamental positif.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan instrumen-instrumen tersebut tetap menarik lantaran didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap tinggi antara 4,7 hingga 5,5 persen.

Selain itu, Perry menjelaskan, secara fundamental, nilai rupiah seharusnya menguat, namun tekanan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor teknikal, seperti ketidakpastian ekonomi global akibat kebijakan tarif dan ketidakstabilan pasar keuangan global.

Dalam menghadapi situasi ini, Perry menyampaikan Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk memastikan stabilitas nilai rupiah, yang seharusnya cenderung menguat berkat fundamental ekonomi yang baik.

"Pertumbuhan yang tinggi, inflasi yang rendah, neraca pembayaran defisit yang rendah. Dan juga imbal hasil di aset keuangan yang tetap menarik. Itu yang kami terus lakukan," jelasnya.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi kita 2025 tetap baik dalam kisaran 4,7 sampai 5,5 persen," tambahnya

Perry menyampaikan beberapa indikator yang mendasari proyeksi ini antara lain indeks konsumsi yang masih baik, berdasarkan hasil survei konsumen yang menunjukkan ekspektasi positif terhadap kondisi penghasilan dan perekonomian untuk ke sekarang maupun ke depan.

"Dari survei ekspektasi konsumen itu masih tetap baik. Indeksnya masih di atas seratus. Memang ada tik agak kebawah tapi bukan berarti di bawah seratus ya. Kalau survei itu mengatakan di atas seratus itu masih cukup confident lah seperti itu," ujarnya.

Selain itu, Perry menyampaikan Prompt Manufacturing Index (PMI) sektor manufaktur juga masih menunjukkan angka ekspansif, ditambah dengan hasil panen raya di sektor pertanian serta kebijakan pemerintah terkait tunjangan hari raya (THR) di triwulan pertama.

"Jadi kami masih melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia itu tetap terjaga baik dari berbagai data-data yang kami pantau sampai dengan bulan Februari ya dan juga bagaimana kami melakukan berbagai no-casting dengan berbagai data yang ada, termasuk menggunakan AI untuk membuat no-casting yang tadi," jelasnya.