JAKARTA – Perusahaan teknologi China semakin mempersempit kesenjangan pengembangan kecerdasan buatan (AI) dengan Amerika Serikat. Bahkan menurut pendiri startup 01.AI, Lee Kai-fu, dalam beberapa sektor kini hanya tertinggal tiga bulan.

Lee, yang merupakan mantan kepala Google China dan tokoh berpengaruh dalam industri AI global, mengatakan bahwa startup China, DeepSeek, telah menunjukkan kemajuan pesat dalam rekayasa perangkat lunak infrastruktur.

DeepSeek mengguncang industri AI global ketika meluncurkan model penalaran AI pada Januari 2025. Model ini diklaim menggunakan chip yang kurang canggih dibandingkan pesaingnya dari Barat tetapi tetap mampu memberikan performa yang kompetitif dengan biaya pengembangan lebih rendah. Keberhasilan ini menantang anggapan bahwa sanksi Amerika Serikat menghambat kemajuan AI di China.

"Awalnya saya berpikir China tertinggal enam hingga sembilan bulan di semua aspek. Namun sekarang, kesenjangan itu telah menyempit menjadi hanya tiga bulan di beberapa teknologi inti, bahkan sudah unggul dalam beberapa bidang tertentu," kata Lee dalam sebuah wawancara di Hong Kong.

Sanksi AS Mendorong Inovasi AI di China

Washington telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap industri semikonduktor China, membatasi akses perusahaan-perusahaan teknologi China terhadap chip canggih. Namun, Lee menyebut sanksi ini sebagai "pedang bermata dua" yang, meskipun menimbulkan tantangan jangka pendek, juga memaksa perusahaan China untuk lebih inovatif dalam mengembangkan algoritma dan teknik baru.

"Fakta bahwa DeepSeek mampu menemukan metode baru dalam reinforcement learning untuk model AI menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengejar ketertinggalan dari AS, tetapi juga belajar dengan cepat dan bahkan lebih inovatif sekarang," ujar Lee.

DeepSeek telah mengembangkan model yang memungkinkan pengguna melihat proses penalaran AI sebelum jawaban diberikan—fitur yang pertama kali dikembangkan oleh OpenAI tetapi belum dirilis ke publik.

Industri teknologi China mulai memasuki persaingan AI generatif secara serius setelah OpenAI meluncurkan ChatGPT pada akhir 2022. Namun, sebelum kemunculan DeepSeek, banyak pemimpin teknologi China yang mengakui bahwa mereka masih tertinggal jauh dari pesaing Barat.

Lee mendirikan 01.AI pada Maret 2023, bergabung dengan startup AI lain seperti ZhipuAI dan Moonshot, serta raksasa teknologi China seperti Baidu, Alibaba, dan ByteDance, dalam mengembangkan model AI dasar (foundational models).

Namun, menurut Lee, berinvestasi dalam model AI eksklusif kini menjadi tantangan besar bagi startup AI. Pasar saat ini didominasi oleh perusahaan teknologi besar dengan pendanaan kuat serta semakin berkembangnya alternatif berbasis open-source.

"Kami akan fokus pada aplikasi AI yang lebih praktis, yaitu solusi perangkat lunak yang membantu klien dalam menerapkan model AI dasar secara lebih efektif," tambah Lee.

01.AI Fokus pada Solusi AI untuk Perusahaan

Bulan ini, 01.AI meluncurkan Wanzhi, sebuah platform perangkat lunak baru yang dirancang untuk membantu perusahaan dalam menerapkan teknologi AI. Lee mengatakan bahwa perusahaannya telah mulai menghasilkan pendapatan dan memperkirakan pertumbuhan yang pesat pada tahun 2025.

"Tahun lalu kami mencatat pendapatan sebesar 15 juta dolar AS (Rp249 miliar), dan kami memperkirakan angka itu akan meningkat beberapa kali lipat pada tahun ini," ungkap Lee.

Keberhasilan DeepSeek dan perusahaan AI China lainnya menunjukkan bahwa meskipun menghadapi hambatan dari sanksi AS, China terus mengejar ketertinggalan dalam pengembangan kecerdasan buatan dan bahkan mulai unggul dalam beberapa aspek teknologi.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)