JAKARTA - Kerja sama pertahanan dan keamanan antara Indonesia dengan Prancis menjadi hal penting, bagian dari hubungan diplomatik yang sudah terjalin selama 75 tahun.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, dirinya membahas hubungan yang terjalin sejak lama di sektor-sektor penting, kerja sama di bidang pertahanan, saat menerima Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot di Kementerian Luar Negeri RI.

Indonesia mengapresiasi ratifikasi kerja sama pertahanan oleh Parlemen Prancis, dan sepakat untuk meningkatkan hubungan di bidang tersebut, kata Menlu Sugiono.

"Kita juga menganggap kolaborasi maritim penting untuk mewujudkan Indo-Pasifik yang stabil, damai dan sejahtera," kata Menlu Sugiono dalam keterangan pers bersama Menlu Barrot, Rabu 26 Maret.

Guna membahas isu-isu di kawasan dan global, Menlu Sugiono mengatakan mereka sepakat untuk melakukan dialog 2+2 Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara.

menlu prancis jean-noel barrot
Menlu Barrot bersama Menlu Sugiono. (VOI/AFI)

Terkait dengan situasi global, Menlu Sugiono berterima kasih dan menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya untuk dukungan Prancis terhadap upaya-upaya terciptanya perdamaian di Palestina, serta sejumlah inisiatif dalam rangka mencari solusi.

Mengenai konflik di Ukraina, Indonesia menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui jalur terbuka dan mekanisme multilateral yang inklusif.

Sementara itu, Menlu Barrot mengatakan, mengingat posisi dan peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara, peningkatan kerja sama Jakarta dan London diharapkan dapat memperkuat kerja sama kawasan Uni Eropa dengan ASEAN.

Diungkapkan olehnya, salah satu agenda kunjungan kenegaraan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia adalah meresmikan kerja sama UE-ASEAN di bidang keamanan pelabuhan.

Menlu Barrot sebelumnya mengamini perkataan Menlu Sugiono mengenai rencana kunjungan Presiden Macron ke Indonesia yang akan berlangsung pada akhir Mei mendatang.

Ditambahkan Menlu Barrot, Prancis dan Indonesia cenderung memiliki kesamaan dalam menyikapi berbagai konflik global seperti di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

"Hubungan baik Presiden Prabowo (Subianto) dan Presiden Macron bisa berkontribusi dalam menghadirkan visi dan solusi," katanya.

Diketahui, Indonesia dan Prancis mulai menjalin hubungan diplomatik secara resmi sejak 4 Januari 1950.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)