Amnesty International Desak Pemerintah Selidiki Penyebab Kematian Aktivis Papua Filep Karma
Ilustrasi garis polisi ditemukan jenazah. (ANTARA-Kornelis Kaha)
JAKARTA - Amnesty International Indonesia Usman Hamid mendesak negara bergerak mengusut penyebab kematian Filep Karma. Desakan muncul setelah aktivis Papua tersebut ditemukan tak bernyawa di Pantai Base G.
 
"Atas ditemukannya jenazah almarhum di Pantai Base G, Jayapura, hari ini, kami mendesak jajaran lembaga penegak hukum dan hak asasi manusia untuk menyelidiki sebab musabab kematian almarhum," kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 1 November.
 
Dia mengatakan penyelidikan ini penting untuk menjawab adanya indikasi tindak pidana dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Apalagi, Filep adalah aktivis yang vokal.
 
"Penyelidikan ini penting untuk menjawab ada tidaknya indikasi tindak pidana atau pelanggaran HAM di balik kematian almarhum, karena banyak aktivis yang vokal di Papua menjadi sasaran kekerasan," ungkapnya.
 
"Terlebih mengingat sepak terjang almarhum sebagai tokoh panutan dalam membela hak asasi orang asli Papua," sambung Usman.
 
Lebih lanjut, dirinya juga mengucapkan bela sungkawa atas kematian aktivias tersebut. Usman mengatakan Filep adalah tokoh yang gigih menyuarakan keadilan dan kedamaian di Bumi Cendrawasih.
 
"Hari ini kami berkabung atas berpulangnya tokoh pembela HAM Papua yang selama ini dikenal gigih menyuarakan keadilan dan kedamaian di Papua. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga," ujarnya.
 

 
 
Diberitakan sebelumnya, polisi membenarkan Filep Karma ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di Pantai Base G, Jayapura. Selanjutnya, jenazahnya dievakuasi ke RSUD Jayapura.
 
Saat ditemukan, jenazah Filep tampak menggunakan baju selam berwarna biru. Pihak kepolisian kini terus mendalami temuan jenazah tersebut sambil menunggu izin otopsi dari pihak keluarga Filep.

The English, Chinese, Japanese, Arabic, French, and Spanish versions are automatically generated by the system. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)