JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita aset milik PT BIG yang merupakan bagian dari Isargas Group. Upaya paksa ini dilakukan terkait dugaan korupsi terkait perjanjian jual beli gas pada PT Perusahaan Gas Negara tahun 2017-2024.

“Penyitaan atas PT BIG dalam bentuk tanah dan bangunannya dengan luasan bidang tanah 300 m2 dan bangunan kantor dua lantai yang berlokasi di Kota Cilegon,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 31 Oktober.

Selain bangunan, penyidik juga menyita aset lain milik PT BIG yakni 13 pipa yang jadi agunan perjanjian jual beli antara PT PGN dengan PT Inti Alasindo Energy (IAE). “Total panjang pipa tersebut mencapai 7,6 km yang berlokasi di Kota Cilegon,” ujar Budi.

Adapun seluruh aset yang disita itu, sambung Budi, dikuasai Arso Sadewo yang merupakan Komisaris Utama PT Inti Alasindo Energy (IAE).

Seluruh aset ini disita untuk mengembalikan kerugian negara sebesar 15 juta dolar Amerika Serikat.

“Penyitaan dilakukan sejak pekan lalu hingga rampung pemasangan plang sitanya pada 28 Oktober 2025,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, KPK resmi menahan Komisaris Utama PT Inti Alasindo Energi (IAE) pada tahun 2007-sekarang, Arso Sudewo. Dia berompi oranye karena jadi tersangka dugaan korupsi kerja sama jual beli gas pada PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Dalam kasus ini sudah ada tiga tersangka lain yang dijerat komisi antirasuah. Mereka adalah Danny Praditya selaku mantan Direktur Komersial PGN; Iswan Ibrahim selaku mantan Komisaris PT IAE; dan Hendi Prio Santoso yang merupakan mantan Direktur Utama PGN.

KPK menyebut kerja sama antara PT PGN dengan PT IAE juga diwarnai sejumlah pengondisian. Kemudian, penyidik mendapati adanya pemberian fee dari Arso kepada Hendi sebesar 500 ribu dolar Singapura.

Fee ini diberikan setelah disepakati adanya metode pembayaran advance payment sebesar 15 juta dolar Amerika Serikat antar dua perusahaan untuk kerja sama jual beli gas.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)