Bertambah jadi 69 Kursi, Surya Paloh Ingatkan Kader NasDem Tak Terjebak Pragmatisme Politik
JAKARTA - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyampaikan rasa syukur atas capaian partainya yang berhasil menambah jumlah kursi di DPR RI hasil Pemilu 2024. Dari 59 kursi pada Pemilu 2019, kini NasDem mengamankan 69 kursi di parlemen.
Hal itu disampaikan Surya dalam acara Puncak HUT ke-14 Partai NasDem yang digelar di NasDem Tower, Jakarta, Selasa, 11 November. Acara dihadiri jajaran pengurus DPP, anggota Fraksi NasDem DPR RI, serta kader partai di seluruh Indonesia yang mengikuti secara daring.
“Entah karena kemampuan, keuletan kita mengonsolidasikan barisan, atau karena alam masih memberikan kesempatan dan keyakinan untuk misi besar yang harus kita teruskan, kita berhasil lagi di tengah berbagai rintangan. NasDem tetap jaya, menaikkan kursinya dari 59 menjadi 69,” kata Surya.
Ia mengakui, perjalanan politik NasDem selama 14 tahun tidaklah mudah. Dari hanya meraih 7 persen suara nasional dengan 36 kursi pada Pemilu 2014, NasDem kini terus memperluas dukungan publik hingga tiga kali pemilu berturut-turut.
Meski demikian, Surya menegaskan bahwa pencapaian elektoral bukanlah tujuan akhir perjuangan partainya. Ia meminta seluruh kader untuk tetap berpegang pada nilai konsistensi dan idealisme, serta menjauhi politik yang bersifat pragmatis.
“Pertempuran kita ada di antara dua hal: konsistensi membawa arus perubahan, atau terjebak dalam pragmatisme. Kita memilih tetap konsisten, apa pun risikonya. Di situlah kekuatan sesungguhnya NasDem—nilai antara ucapan dan perbuatan yang sejalan,” ujarnya.
Surya menambahkan, NasDem didirikan bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Ia mengingatkan para kader agar tidak tergoda menggunakan partai sebagai alat untuk memperkuat posisi pribadi.
“Berada di partai ini bukan sekadar menopang karier pribadi. Sah saja kita punya kepentingan pribadi, tapi itu baru koma, bukan titik. Totalitas pengabdian kita adalah untuk kejayaan bangsa dan negara,” katanya.
SEE ALSO:
Ia menutup pidatonya dengan menegaskan, keberhasilan partai tidak hanya diukur dari jumlah kursi atau posisi politik, tetapi dari kemampuan kader mempertahankan idealisme dan semangat perubahan di tengah tantangan politik yang kian kompleks.