DPR Asks For Spatial Evaluation And Infrastructure After Large Floods In Bali
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras menilai peristiwa banjir besar di Bali harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang serta infrastruktur pengendali banjir di Pulau Dewata.
Pasalnya menurut Iwan, bencana banjir di Bali mengungkap berbagai persoalan struktural, seperti lemahnya sistem drainase perkotaan, pembangunan di sempadan sungai hingga berkurangnya kawasan resapan air yang selama ini menjadi penyangga penting ekosistem.
“Harus ada langkah serius dan terukur untuk memperbaiki tata kelola ruang serta infrastruktur dasar, khususnya di wilayah-wilayah padat seperti Denpasar dan sekitarnya,” ujar Iwan Aras kepada wartawan, Selasa, 16 September.
Iwan juga meminta penanganan banjir di Bali untuk segera dilakukan. Apalagi Bali tidak bisa dipisahkan dari statusnya sebagai daerah pariwisata unggulan yang berperan strategis dalam ekonomi nasional.
“Dan kita pahami bersama Bali bukan sekadar provinsi biasa. Bali merupakan daerah ikon pariwisata Indonesia dan juga destinasi wisata internasional. Maka keamanan lingkungan dan daya tahan infrastrukturnya tidak boleh dikompromikan," ungkap Iwan.
"Jika bencana seperti ini terus terjadi tanpa pembenahan, bukan hanya warga yang terdampak, tapi juga sektor ekonomi nasional yang bisa terganggu,” sambungnya.
Iwan juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang langsung meninjau Bali usai kunjungan kerja dari Doha, Qatar. Ia berpandangan kehadiran Presiden Prabowo di lokasi bencana merupakan bentuk komitmen negara dalam memastikan penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi.
“Kami mengapresiasi langkah cepat Presiden Prabowo yang datang langsung ke Bali. Itu menunjukkan bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam,” ungkap Iwan.
Lebih lanjut, Iwan menyoroti pentingnya audit terhadap pembangunan di kawasan rawan banjir, khususnya yang berada di dekat sempadan sungai dan zona rawan bencana. Ia mendorong peningkatan kapasitas sistem drainase, rehabilitasi daerah tangkapan air di hulu.
"Penataan ruang dan infrastruktur yang terencana dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi daerah strategis seperti Bali yang juga merupakan destinasi pariwisata nasional,” pungkasnya.
Seperti diketahui, banjir sempat melanda Bali akibat hujan deras sejak Selasa, 9 September, malam hingga Rabu, 10 September, pagi. Curah hujan ekstrem membuat sejumlah sungai meluap dan sistem drainase tak mampu menampung air. Akibatnya, banjir besar melanda enam kabupaten/kota di Bali.
SEE ALSO:
Berdasarkan data BPBD pada Jumat, 12 September, banjir di Bali menimbulkan 18 korban tewas, 5 orang hilang, dan 441 warga mengungsi.
Denpasar jadi wilayah paling parah terdampak. Banjir merendam Padangsambian, Jalan Sulawesi, Jalan Maruti, hingga kawasan pasar tradisional. Air merangsek ke dalam rumah warga sejak dini hari. Saat ini banjir Bali sudah surut.