US Secretary Of Homeland Security Reports Hacking In FEMA, Fires 23 Employees
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA – Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Kristi Noem, pada Jumat 29 Agustus mengumumkan adanya peretasan sistem IT di Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga penanggulangan bencana AS yang saat ini menghadapi pemangkasan besar-besaran dan bahkan rencana pembubarannya.
Dalam pernyataannya, Noem tidak memberikan banyak detail mengenai sifat serangan siber tersebut, namun ia menuding staf FEMA sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebanyak 23 pegawai disebut telah dipecat akibat insiden ini.
Noem mengatakan peretasan tersebut mengancam “seluruh Departemen dan bangsa secara keseluruhan,” tetapi memastikan “tidak ada warga Amerika yang terdampak langsung.” Ia juga menegaskan bahwa “tidak ada data sensitif yang berhasil diambil dari jaringan DHS.”
SEE ALSO:
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberikan penjelasan tambahan terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, sembilan paragraf dalam pernyataan Noem lebih banyak berisi kritik tajam terhadap staf IT FEMA. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan,” “kelalaian,” “inkompetensi,” hingga “ketidakjujuran,” sebelum memastikan pemecatan 23 orang tersebut.
Kabar peretasan ini datang setelah beredarnya surat terbuka dari puluhan pegawai aktif dan mantan pegawai FEMA yang memperingatkan Kongres bahwa kurangnya pengalaman pejabat tinggi yang diangkat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dapat berujung pada bencana sebesar badai Katrina, yang menghantam pesisir Teluk AS dua dekade lalu.
Trump sendiri telah berulang kali menyatakan ingin membubarkan FEMA dan mendistribusikan dana bantuan bencana langsung melalui kantornya.
Sementara itu, tiga sumber yang mengetahui situasi internal menyebut FEMA telah memperpanjang pembekuan rekrutmen pegawai setidaknya hingga akhir tahun ini, meski musim puncak badai tengah mendekat. “Departemen Keamanan Dalam Negeri berkomitmen memastikan FEMA tetap melayani rakyat Amerika,” ujar juru bicara FEMA dalam pernyataan tertulis. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai pembekuan rekrutmen tersebut.
JAKARTA The United States Secretary of Homeland Security, Kristi Noem, announced on Friday that the IT system was hacking at the Federal Emergency Management Agency (FEMA), a US disaster management agency that is currently facing massive cuts and even its dissolution plans.
In his statement, Noem did not provide much detail regarding the nature of the cyberattack, but he accused FEMA staff of being the responsible party. A total of 23 employees are said to have been fired as a result of this incident.
Noem said the hack threatened the entire Department and nation, but ensured no American citizens were directly affected. He also confirmed that no sensitive data was taken from the DHS network.
SEE ALSO:
The Department of Homeland Security (DHS) has not provided an additional explanation regarding what really happened.
Interestingly, nine paragraphs in Noem's statement contain more sharp criticisms of IT FEMA staff. He accused them of "failure", "obstructure", "incompetency, "to "dishonest" before confirming the dismissal of the 23 people.
The news of the hack comes after the circulation of an open letter from dozens of active employees and former FEMA employees warning Congress that the lack of experience of high-ranking officials appointed by President Donald Trump's administration could lead to a disaster of Hurricane Katrina, which hit the coast of the US Gulf two decades ago.
Trump himself has repeatedly stated that he wants to dissolve FEMA and distribute disaster relief funds directly through his office.
Meanwhile, three sources familiar with the internal situation said FEMA had extended freezing of employee recruitment by at least the end of this year, despite the storm's peak season approaching. "The Department of Homeland Security is committed to ensuring FEMA continues to serve the American people," a FEMA spokesperson said in a written statement. However, he did not answer questions about freezing the recruitment.
"It's okay"