Obat Diet Buatan China Siap Saingi Ozempic hingga Tirzepatide di Pasar Global
JAKARTA - Di balik layar industri farmasi global, terjadi pergeseran besar mengenai cara manusia memerangi obesitas. Obesitas merupakan masalah kesehatan yang tak hanya merusak tubuh, tapi juga harga diri.
Kini, muncul harapan baru dari China yang tengah bersiap menghadirkan deretan obat penurun berat badan buatan lokal yang siap menyaingi nama-nama besar seperti Ozempic dan tirzepatide.
Bagi W.K. Chang, seorang pekerja kantoran di Hong Kong, perjalanan melawan obesitas adalah pengalaman yang sangat pribadi. Sejak remaja, ia bergumul dengan berat badan akibat gangguan hormonal.
Beratnya pernah menyentuh angka 100 kilogram. Tapi hidupnya mulai berubah ketika menjadi salah satu dari 200 pasien pertama di Hong Kong yang menerima akses ke obat penurun berat badan berbasis GLP-1, yang awalnya dikembangkan untuk diabetes.
“Saya merasa seperti dilahirkan kembali setelah menjalani pengobatan ini. Saya jadi lebih percaya diri dan sekarang bisa punya lebih banyak pilihan baju," katanya, dikutip dari laman South Morning China Post.
Chang kini telah kehilangan 25 kilogram. Meski harga obatnya mencapai 2.700 dolar Hong Kong atau Rp5,5 juta, ia bersyukur keluarganya mampu membantu.
“Teman-teman saya ingin mencobanya, tapi mereka tidak mampu membelinya,” katanya.
Harapan akan munculnya pilihan yang lebih terjangkau tampaknya semakin dekat. Pasalnya, paten semaglutide, yakni bahan aktif dalam Ozempic akan kedaluwarsa di China pada tahun depan.
Ketika itu terjadi, produsen lokal bisa memproduksi versi obat generiknya. Hal ini membuka akses bagi jutaan orang yang selama ini hanya bisa bermimpi.
"Selain permintaan medis, akan ada banyak orang yang menggunakannya selama dua bulan saja, misalnya untuk memakai gaun pesta yang pas di tubuh," jelas Chen Ziyi, Kepala Riset Kesehatan Asia di Goldman Sachs.
Baru-baru ini, Innovent Biologics dari Provinsi Jiangsu mendapatkan persetujuan untuk meluncurkan mazdutide. Obat ini disebut pertama di dunia yang meniru dua hormon alami sekaligus, yakni GLP-1 dan glukagon.
Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan kadar gula darah.
Dalam uji klinis, sebanyak 610 peserta mengalami rata-rata penurunan berat badan sebesar 14,8% hanya dalam 48 minggu.
“Mazdutide berpotensi menjadi andalan baru dalam penanganan obesitas,” tulis media industri Fierce Pharma yang juga memasukkan mazdutide ke dalam 10 obat paling dinanti di dunia tahun ini.
Obesitas bukan hanya tentang penampilan. Di balik angka di timbangan, ada rasa malu, diskriminasi, dan penyakit kronis yang mengintai.
"Obat-obatan ini penting, tapi bukan peluru ajaib. Pasien tetap harus mengubah gaya hidup, seperti pola makan, tidur, dan olahraga," kata Dr. Francis Chow Chun-chung, Presiden Asosiasi Studi Obesitas Hong Kong.
W.K. Chang pun membuktikan hal itu, "Saya mengikuti saran dokter. Saya jaga pola makan dan mulai jalan kaki setiap hari. Mungkin itu sebabnya hasil saya lebih baik daripada banyak orang lain yang juga pakai obat ini,” tuturnya.
Menurut proyeksi, pasar obat diet di China bisa mencapai 40 miliar yuan atau Rp90 triliun pada 2035. Meski masih kecil dibandingkan pasar global, angka ini cukup untuk menarik investasi besar dari dalam dan luar negeri.
“Bahkan kategori obat kanker paling laris, mungkin akan kalah dalam penjualan dari obat anti-obesitas,” ujar Chen dari Goldman Sachs.
SEE ALSO:
L.E.K. Consulting mencatat bahwa lebih dari 60 kandidat obat GLP-1 sedang menjalani uji klinis tahap akhir di China dan siap bersaing di pasar global. Sementara itu, harga eceran obat GLP-1 di China saat ini masih berkisar antara 2.700 hingga 4.800 yuan (Rp6 juta - Rp10 juta).
Namun, dengan hadirnya produk generik dan lokal, harga bisa turun drastis. Hal ini membawa harapan nyata bagi mereka yang selama ini tidak mampu membelinya.