Pentingnya Deteksi Dini Agar Sindrom Nefrotik pada Anak Tak Berbahaya
JAKARTA – Ginjal bocor pada anak termasuk kasus yang jarang terjadi, namun masih dapat disembuhkan jika segera dikenali dan ditangani sejak dini.
Dalam istilah medis, ginjal bocor ini, atau yang juga dikenal masyarakat luas sebagai penyakit gagal ginjal, disebut dengan sindrom nefrotik.
Anggota Unit Kerja (UKK) Nefrologi IDAI Dr dr Ahmedz Widiasta mengatakan, ginjal bocor merujuk pada kondisi di mana protein albumin lolos keluar dari tubuh melalui urine, akibat fungsi ginjal dalam menyaring darah tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Sementara itu, sindrom nefrotik itu artinya adalah sindrom atau kumpulan gejala terkait gangguan fungsi ginjal, yang sudah disepakati oleh para ahli.
“Kumpulan gejalanya adalah yang pertama adalah bengkak. Yang kedua adalah protein ureum masif, atau protein yang lolos dalam jumlah besar,” ujar Ahmedz dalam Seminar Media IDAI.
Gejala Sindrom Nefrotik
Sindrom nefrotik merupakan suatu kondisi di mana ginjal melepaskan sejumlah protein (proteinuria) yang berlebihan dalam urine (kencing). Sindrom nefrotik biasanya disebabkan oleh adanya masalah pada setiap nefron penyaring ginjal (glomerulus).
Glomerulus adalah pembuluh darah kecil di ginjal. Fungsi glomerulus meliputi membuang limbah dan cairan berlebih dari darah dan mengirimkannya ke kandung kemih sebagai urine.
"Dalam keadaan bocor ginjal, darah di sini (glomerulus) dibersihkan, tapi proteinnya yang seharusnya beredar kembali dalam darah, dikeluarkan ke urine," ujar dr. Ahmedz.
Akibatnya, darah yang kembali beredar adalah darah yang hanya memiliki kandungan protein yang sedikit.
"Karena sedikit protein, maka tekanan onkotik di dalam pembuluh darah menjadi berkurang," ia menambahkan.
Dokter Ahmedz menjelaskan, sindrom nefrotik memiliki gejala yang sangat khas, yaitu pembengkakan pada beberapa bagian tubuh. Biasanya pembengkakan pertama kali muncul di kelopak mata, daerah pipi, dan bibir.
“Bengkak, terutama biasa terlihat pada saat bangun tidur. Lalu, siang hari normal kembali,” terangnya.
Gejala sindrom nefrotik lainnya yang bisa diamati adalah urine berbusa dan volumenya semakin sedikit. Tanda lainnya yang perlu dicek melalui pemeriksaan medis adalah kadar albumin dalam darah.
Bukan Masalah Genetik
Sindrom nefrotik bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Pada anak baru lahir, penyakit ini disebut sindrom nefrotik kongenital.
Untuk penyebab ginjal bocor pada anak, dr. Ahmedz menegaskan sebagian besar penyebabnya tidak diketahui atau secara medis disebut idiopatik.
“Sebagian besar bukan masalah genetik. Hanya sekitar 20 persen yang merupakan masalah genetik atau mutasi,” jelas dr. Ahmedz.
"Tapi, apakah itu masalah epigenetik? Epigenetik itu penelitiannya sangat mahal dan masih sedikit," tambahnya.
Sementara itu, mengutip Cleveland Clinic, penyakit ini paling umum terjadi pada orang dengan penyakit ginjal terkait diabetes, orang yang memiliki alergi, dan orang yang memiliki riwayat keluarga sindrom nefrotik.
Dokter Ahmedz menjelaskan, kasus sindrom idiopatik pada anak umumnya ditemukan pada mereka usia 1 sampai 7 tahun.
"Satu sampai tujuh tahun usia serangan pertamanya. Sedangkan, usia kekambuhannya bisa terus berlangsung kapan saja sampai usia remaja,” ujar dr. Ahmedz.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Ahmedz juga mengungkapkan bahwa penyakit ginjal bocor pada anak termasuk jarang terjadi. Prevalensi sindrom nefrotik pada anak adalah 1-17 per 100.000 anak.
Meski demikian, ancaman bahaya ginjal bocor sangat tinggi, terutama jika terlambat deteksi dan tidak diobati sesuai anjuran dokter.
Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dokter Ahmedz menyebutkan risiko komplikasi jangka pendek dan jangka panjang yang dimiliki anak dengan sindrom nefrotik.
Dalam jangka pendek (akut), sindrom nefrotik bisa menyebabkan gangguan ginjal akut, syok, dan gangguan napas.
Sebagai informasi, syok adalah kondisi di mana darah gagal untuk mengaliri seluruh organ tubuh.
“Ringan pun lumayan dampaknya bahkan bisa sampai cuci darah. Dan di jangka pendek ada komplikasi atau penyulitnya lagi yaitu gangguan napas,” ungkapnya.
Sementara dalam jangka panjang (kronis), komplikasi sindrom nefrotik pada anak bisa berupa penyakit ginjal akut, penyakit kronis, dan penyakit ginjal tahap akhir.
“Bahaya jangka panjang ini juga yang patut kita waspadai karena ini dampaknya mungkin baru baru terasa dua sampai lima tahun kemudian, yaitu berupa penyakit ginjal kronik atau bahkan penyakit ginjal tahap akhir yang perlu cuci darah terus-menerus,” ucapnya.
SEE ALSO:
Dengan mempertimbangkan risiko sindrom nefrotik pada anak di atas, dr. Ahmedz menekankan pentingnya deteksi dini serta kepatuhan terhadap tata laksana yang tepat untuk mencegah komplikasi serius.
“Sindrom nefrotik bukan penyakit yang menular. Asal kita temukan secara dini dan terdeteksi sejak awal serta ditangani secara tepat, anak-anak bisa sembuh dan hidup normal,” tandas dr. Ahmedz.