Bagikan:

JAKARTA - Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama ekonomi di tengah persaingan rantai pasok dan tekanan perdagangan global. Fokusnya mencakup kendaraan listrik, industri hijau, energi bersih, perkapalan, hingga dukungan Jepang bagi target Indonesia masuk OECD, organisasi yang beranggotakan negara-negara maju dan menjadi rujukan berbagai standar ekonomi global.

Kesepakatan itu dibahas dalam pertemuan di sela kunjungan kerja di Paris, Prancis, Rabu, 3 Juni. Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang yang sebelumnya menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Jepang tetap menjadi mitra penting bagi transformasi ekonomi Indonesia, terutama dalam pengembangan industri hijau dan penguatan posisi Indonesia di rantai pasok global.

“Indonesia berkomitmen penuh untuk mempercepat prioritas pembangunan nasional melalui adopsi teknologi tinggi dan investasi berkelanjutan dari Jepang,” ujar Airlangga di Paris, dikutip dalam keterangan resmi Kamis, 4 Juni.

Airlangga mengatakan kerja sama energi menjadi salah satu fokus utama. Indonesia membidik penguatan proyek ASEAN sebagai pendorong pengembangan energi terbarukan, terutama panas bumi atau geotermal.

Kerja sama itu juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satunya melalui program magang dan studi di berbagai perusahaan Jepang.

Selain energi, kedua negara membahas tantangan perdagangan global. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kelebihan kapasitas produksi baja dunia atau overcapacity.

Menurut Airlangga, proteksionisme global perlu dihadapi melalui kerja sama antarnegara yang memiliki kepentingan dan pandangan yang sejalan. Indonesia dan Jepang sepakat mendukung tatanan ekonomi internasional yang berbasis aturan untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

“Tantangan proteksionisme global saat ini memerlukan sinergi yang solid antara negara-negara yang memiliki kesamaan pandangan,” kata Airlangga.

Di sektor otomotif, Indonesia mengajak pabrikan Jepang lebih aktif membangun ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Indonesia ingin rantai industri kendaraan listrik tidak berhenti pada penjualan kendaraan, tetapi juga mencakup industri baterai, pengolahan nikel, komponen, dan penciptaan lapangan kerja.

Bagi Jepang, kerja sama ini membuka akses ke rantai pasok yang lebih efisien dan kompetitif. Sementara bagi Indonesia, manfaatnya adalah peningkatan nilai tambah industri dan penguatan hilirisasi.

Kerja sama juga mencakup sektor maritim. Jepang mendukung peningkatan daya saing industri perkapalan Asia Tenggara melalui proses peer review OECD. Peer review merupakan proses penilaian oleh negara atau lembaga lain untuk mengukur standar, tata kelola, dan daya saing suatu sektor.

Dukungan ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang diperkirakan memerlukan sekitar 1.584 kapal baru untuk mendukung ketahanan pangan, terutama di sektor pertanian dan perikanan.

Di bidang energi, kedua negara juga mematangkan peta jalan pengembangan nuklir sipil melalui studi reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR). Teknologi ini merupakan reaktor nuklir berukuran lebih kecil yang dirancang lebih fleksibel dibandingkan pembangkit nuklir konvensional.

Indonesia dan Jepang juga mendorong penyelesaian Protokol Perubahan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang atau IJEPA. Penyelesaian protokol tersebut diharapkan membuka akses perdagangan yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi pelaku usaha kedua negara.

Pemerintah menargetkan ratifikasi perubahan IJEPA dapat rampung pada semester kedua tahun ini. Indonesia juga terus mempersiapkan langkah teknis untuk mengejar target menjadi anggota penuh OECD pada 2028 dengan dukungan Jepang.

Selain itu, Indonesia berharap memperoleh dukungan Jepang untuk proses keanggotaan CPTPP dalam pertemuan bulan ini. CPTPP merupakan perjanjian perdagangan bebas yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik.

Di tengah ancaman tarif baja global, Airlangga juga dijadwalkan bertolak ke Brussel untuk melakukan dialog strategis. Sementara Jepang akan terus menyuarakan penolakan terhadap kebijakan proteksionisme kepada Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Kerja sama ini menunjukkan hubungan Indonesia dan Jepang semakin luas. Tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga menyentuh isu energi bersih, industri masa depan, hingga integrasi ke dalam sistem ekonomi global.

Ikut mendampingi Airlangga dalam pertemuan tersebut Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi.