Bagikan:

JAKARTA - Menjelang peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus pada pertengahan Mei lalu, Sub Holding PTPN III (Persero), PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Gereja Katolik Santo Kristoforus Stasi Plasma, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut resmi diserahterimakan pada Selasa, 5 Mei. Bantuan itu ditujukan sebagai upaya mendukung kebutuhan energi rumah ibadah sekaligus membantu menekan biaya operasional gereja melalui pemanfaatan energi bersih berbasis tenaga surya.

Direktur Utama Jatmiko Santosa menegaskan langkah pemasangan PLTS Atap tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung efisiensi operasional dan transisi energi nasional sebagaimana diarahkan pemerintah dalam penguatan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Menurutnya, perusahaan perkebunan negara tidak hanya dituntut menjaga produktivitas, tetapi juga harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Pemerintah saat ini terus mendorong efisiensi energi dan percepatan penggunaan energi baru terbarukan di berbagai sektor. PalmCo ingin menjadi bagian dari gerakan tersebut melalui langkah konkret yang langsung dirasakan masyarakat. Bantuan PLTS di rumah ibadah ini menjadi simbol transformasi energi dapat dimulai dari lingkungan terdekat,” ujar Jatmiko Santosa dalam keterangannya, Senin, 18 Mei.

PLTS Atap yang dipasang di Gereja Katolik Santo Kristoforus memiliki kapasitas 2.250 Wp dengan inverter 2.000 VA menggunakan sistem on-grid. Sistem ini memungkinkan energi listrik dari panel surya digunakan langsung pada siang hari, sementara kelebihan daya akan tersalurkan kembali ke jaringan PLN tanpa memerlukan baterai penyimpanan.

Melalui skema tersebut, kebutuhan listrik operasional gereja dapat ditekan secara signifikan, terutama untuk penggunaan lampu, pengeras suara, kipas angin, hingga aktivitas pelayanan umat sehari-hari. Inisiatif ini juga dinilai menjadi bentuk implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini terus diperkuat oleh PTPN IV PalmCo di seluruh wilayah operasional perusahaan.

Tidak hanya berhenti pada instalasi, PalmCo bersama mitra teknis juga memberikan pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan dasar kepada pengurus gereja agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang. Perseroan bahkan membuka peluang agar model bantuan serupa dapat direplikasi di regional lain yang memiliki kebutuhan serupa, baik untuk fasilitas ibadah maupun fasilitas sosial masyarakat.

Dengan asumsi tarif listrik rumah tangga non-subsidi golongan R1/2.200 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, pemanfaatan PLTS tersebut diperkirakan mampu menghasilkan penghematan energi sekitar 236 kWh per bulan. Artinya, gereja berpotensi menghemat sekitar Rp340.949 per bulan atau setara Rp4,09 juta per tahun untuk biaya listrik operasional.

Bagi PalmCo, program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi memperluas pemanfaatan energi bersih di kawasan operasional perusahaan. Selain mendukung target keberlanjutan perusahaan, langkah tersebut juga memperkuat posisi PalmCo sebagai BUMN perkebunan yang aktif mendorong praktik bisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan hingga tingkat komunitas.

Ke depan, perusahaan membuka peluang pengembangan program serupa pada fasilitas sosial lain seperti sekolah, klinik, hingga rumah ibadah di berbagai regional operasional PalmCo. Dengan pendekatan tersebut, manfaat transformasi energi tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat luas secara langsung.

“Kami berharap inisiatif ini dapat memberi dampak besar bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bahwa efisiensi energi serta penggunaan energi bersih bisa dimulai dari lingkungan sekitar. PalmCo akan terus hadir melalui program-program yang tidak hanya produktif secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan lingkungan secara berkelanjutan,” kata Jatmiko Santosa.

Sementara itu, Pengurus Gereja Katolik Santo Kristoforus, Hunin Herdanus, menyambut positif bantuan tersebut. Ia mengatakan biaya listrik selama ini menjadi salah satu pengeluaran rutin gereja yang cukup besar, sehingga kehadiran PLTS Atap akan sangat membantu efisiensi pengeluaran operasional harian.

Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Desa Amboyo Inti, Junaedi, yang menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Ia berharap sinergi antara perusahaan dan masyarakat terus berjalan harmonis melalui berbagai program pembangunan sosial berbasis kebutuhan riil di lapangan.