Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah resmi memberikan izin kepada pihak maskapai nasional untuk menaikan tiket pesawat domestik di kisaran 9 persen hingga 13 persen.

Menanggapi hal tersebut, Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menilai kenaikan tersebut masih bersifat relatif, namun tetap tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan target inflasi nasional yang berada di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Saya pikir begini, 9-13 persen saya pikir juga relatif, sebenarnya relatif tinggi kalau kita bandingkan dengan inflasi secara umum," tuturnya ditemui, dikutip Kamis, 9 April.

Ia menambahkan idealnya, kenaikan harga tiket berada di level yang sejalan dengan inflasi, yakni sekitar 3,5 persen, namun, lonjakan harga avtur yang signifikan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut.

"Jadi tentunya harapan kita adalah kalaupun harga kenaikan tiket itu diangka 3,5 persen, idealnya. Tapi kemudian, kalau melihat memang kenaikan harga aftur yang cukup signifikan, kita tentunya ingin berharap ekonomi tetap baik dan tidak memberikan konstruksi terlalu dalam," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ketidakpastian global saat ini, terutama terkait harga energi, membuat sulit untuk memprediksi kapan harga avtur akan kembali turun.

Meski demikian, Ajib menyampaikan jika tensi geopolitik mereda dan harga energi global menurun, diharapkan harga avtur juga dapat disesuaikan sehingga tarif kembali lebih normal.

"Kemudian tensi geopolitik yang sudah cukup turun misalnya, maka ketika harga energi turun, harapan kita, maka harga aftur juga disesuaikan. Sehingga kemudian harga relatif kembali normal. Itu yang menjadi harapan kita," jelasnya.

Terkait kenaikan harga avtur, ia menambahkan bahwa hal ini sebagai konsekuensi dari meningkatnya harga energi dunia akibat dinamika geopolitik, termasuk situasi di Timur Tengah, masih sangat fluktuatif sehingga berdampak pada sektor energi.

"Ini menjadi sebuah konsekuensi dengan membumbungnya harga energi dunia, karena kalau kita lihat ya, dinamika di Iran ini kan masih dinamis. Kita belum tahu ujungnya dan tentunya untuk memitigasi kondisi fiskal kita biar lebih sehat, kondisi ekonomi domestik kita juga lebih adaptable, memang realitasnya ada beberapa harga yang perlu diselesaikan, termasuk afturnya," ucapnya.